HEADLINE NEWS

Hidup Santai Mati Slow [Galeri Jelajah Alam]

By On December 17, 2019

Panorama Pulau Padar, Labuan Bajo
”Hidup adalah Tantangan. Hadapilah!
Hidup adalah Keindahan. Kagumilah!
Hidup adalah Sengsara. Menangislah!
Hidup adalah Tugas. Tekunilah!
Hidup adalah Misteri. Takjublah!
Hidup adalah Impian. Wujudkanlah!
Hidup adalah Perlombaan. Menangkanlah!
Hidup adalah Janji. Penuhilah!
Hidup adalah Teka-teki. Jawablah!
Hidup adalah Perjalanan Peziarahan. Tempulah! [Anonim].

Panorama Pulau Rinca
Galeri yang disuguhkan ini merupakan potret perjalanan jelajah alam yang dilakukan oleh Ekopastoral Fransiskan di penghujung tahun 2019. Tepatnya pada tanggal 16 -17 Desember, rombongan Ekopastoral Fransiskan melakukan perjalanan laut menyinggahi tiga pulau eksotik di Labuan Bajo yakni, Pulau Padar, Pulau Rinca dan Pulau Kelor. Masing-masing pulau yang disinggahi tentunya memiliki keunikan yang tak ada duanya untuk disandingkan. Rasa takjub dan takzim atas pulau-pulau tersebut terkait keindahan, kekokohan sekaligus juga kerapuhannya membangkitkan refleksi tentang hidup. Bahwasanya hidup itu anugerah dari Yang Kuasa. Akan tetapi acapkali, hidup itu terasa sulit, karena kitalah yang membuatnya rumit, mengikuti gaya hidup agar terlihat update, merasa gengsi, dan ingin terlihat keren di mata orang lain, bahkan suatu gaya hidup yang sama sekali tidak kita butuhkan, atau sama sekali tidak mampu untuk dihidupi tetapi masih tegar tengkuk dipertahankan. Dengan kata lain, hidup ini sebenarnya sederhana, hanya saja kita yang merumitkannya.

Inilah galeri kami dalam ekspedisi jelajah tiga pulau tersebut:

1. Abaikan Perkatataan Orang Lain Yang Tak Penting.

”Biarkan saja orang lain sibuk mengurusi kita, namun anak cucu kita kelak akan tertawa bangga dengan masa muda kita yang merindu pada keheningan alam".


2. Alam Tak Membahayakan Namun Mengelokkan.

"Perjalanan mungkin akan membawamu pada kesepian, kelelahan dan bahaya. Namun perjalanan juga akan membawamu pula pada keelokan yang hakiki".


3. Megahnya Bumi Kita.

"Jika kamu belum pernah terdampar pada sebuah lembah rimbun, itu tandanya kamu belum pernah melihat bagaimana megahnya bumi yang kau injak".


4. Alam Memberitahukan Kepada Hakikat Hidup Yang Sesungguhnya.

"Alam Merupakan guru terbaik, karena setiap adegan petualangan pasti akan mengajarkan ilmu yang sangat berharga untuk kita".


5. Bagaimana Kegunaan Bumi Sesungguhnya?

"Bumi akan selalu mencukupi kebutuhan semua manusia, namun tidak untuk memenuhi keserakahan satu manusia".


6. Adakah Yang Lebih Pintar Dari Alam?

"Alam telah hidup sejak jutaan ribu tahun lalu, sehingga ia sudah cukup bijaksana untuk mengajarkan kamu berbagai kehidupan melebihi orang yang kau anggap pintar".


7. Agar Tak Gagal Dengan Alam.

”Agar hidupmu tak gagal jika dekat alam, maka makan dan tidurlah pada pelukannya".


8. Tuhan-lah Sang Pencipta Yang Hakiki.

"Tuhan telah menciptakan bagian-bagian bumi dengan sangat indahnya. Jangan ragu! Jelajalah setiap bagiannya, maka niscaya kamu akan memperoleh ketenangan hati darinya".


9. Alam Bukan Hanya Sekadar obat.

”Alam tak hanya sekadar obat yang mampu menghilangkan setiap kesedihan atas luka hati, namun ia juga mampu memberikan kesejukan sepanjang masa".


10. Alam Akan Memberikanmu Penghargaan Nyata.

"Sekecil apapun langkah yang kau lakukan dengan alam, setiap langkah itu juga alam akan memberikannmu penghargaan indah yang tak mampu diberikan seseorang".


11. Pencipta Adalah Tujuan.

"Banyaknya langkah dalam perjalananmu, akan menentukan seberapa kenikmatan yang akan kau dapatkan. Sebab, kenikmatan akan ditentukan oleh siapa yang menjadi tujuannya, dan tujuan yang hakiki adalah sang Pencipta".


12. Alam Adalah Ibu

"Alam merupakan ibu bagi setiap orang, karena ia mampu menjadi sekolah yang mengajarkan anak-anaknya tentang berbagai kehidupan untuk memberikan semangat baru".


[AB]

Rayakan HUT ke-80, Paroki Pagal Lakukan Silih Atas Dosa Ekologis

By On November 16, 2019

Atas nama kesejahteraan umat manusia, bumi harus menderita karena dieksploitasi habis-habisan. Bumi sebenarnya bisa mencukupi kebutuhan setiap orang, tetapi ia tidak akan pernah bisa mencukupi kebutuhan orang-orang yang rakus dan serakah", <Mahatma Gandhi>. [Lokasi: Hutan Lindung RTK 18, Gapong].

Latar belakang dilaksanakannya kegiatan ini adalah dalam rangka menyambut hari ulang tahun ke- 80 Paroki Kristus Raja, Pagal, Cibal, Manggarai, NTT. Untuk diketahui, bahwa meskipun puncak perayaan HUT Paroki masih akan dirayakan pada tanggal 24 November yang akan datang, tetapi sejumlah rangkaian kegiatan seperti konservasi lingkungan dilakukan lebih awal pada hari Sabtu, 16 November 2019.

Kegiatan ekologis semacam ini, oleh pastor Paroki Pagal dilihat sebagai aksi nyata silih atas dosa ekologis yang selama ini dilakukan terhadap alam.

“Paroki kita yang berpelindung Kristus Raja Semesta Alam, di HUT yang ke-80, perlu kita warnai dengan kekhasan ekologis sebagaimana Tuhan Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Tuhan sendiri telah menuntuntun dan menggerakkan kita untuk menunjukkan upaya nyata pertobatan ekologis karena DIA adalah Raja Semesta Alam. Maka, sebagai tanggapan dari kita, di usia paroki yang ke-80 ini, perlulah ditunjukkan upaya nyata silih atas dosa Ekologis, secara khusus aksi konservasi di hutan lindung RTK 18 yang terlahap api pada tanggal 22 September yang lalu”, tegasnya dalam sapaan pembukaan kegiatan.

Peserta kegiatan ibadat ekologis dan konservasi.

Peserta yang hadir dalam kegiatan ini antara lain: Pemerintah Kecamatan Cibal, Kapolsek Cibal beserta anggotanya (termasuk para ibu Bhayangkari), Babinsa 1612 – 01 Cibal, Kepala UPT KPH Wil. Manggarai beserta jajarannya, Ekopastoral Fransiskan, JPIC Keuskupan Ruteng, Pastor Paroki Pagal bersama Pengurus DPP Paroki Pagal, Para guru dan siswa-siswa yang mewakili sekolah-sekolah di pusat paroki Pagal serta umat paroki Pagal.

Kegiatan diawali dengan Ibadat Ekologis yang dipimpin oleh RP Andre Bisa, OFM (Pimpinan Ekopastoral Fransiskan). Para imam yang hadir dalam ibadat Ekologis di hutan lindung RTK 18 adalah RP. Abba Lazar, OFM (Pastor Paroki), RP. Jerry Ranus, OFM (pastor rekan), RD Martne Jenarut (Ketua JPIC Keuskupan Ruteng) serta, RP Gusty Togo, SDB. Dalam ritus pertobatan, Andre Bisa mengajak seluruh peserta untuk menyesali dosa-dosa ekologis yang telah ditimpakan pada alam.

“Kami umat-Mu datang. Kami yang menyalibkan dunia, menggunduli tanahnya, memahkotainya dengan rangkaian pohon-pohon yang tumbang, udaranya bernafas dengan kesakitan, airnya menangisi kebodohan yang meracuninya, ciptaannya mengeluarkan darah. Kami telah makan dan minum tubuh kehidupan; ahli waris dari semua, kami telah menjual dunia kami; tigapuluh keping perak harga kami. Dengan keras kami umumkan cinta kami. Kami telah mengkhianati Tuhan kita. Kami adalah Yudas. Kami adalah Petrus. Kami adalah salib dari semua ciptaan. Tuhan, dalam kedatangan-Mu dan kerahiman-Mu, tolonglah kami membangkitkan kembali keagungan ciptaan-Mu untuk anak-anak kami dan anak dari anak-anak kami. Amin”, tandas putera asli Lembata ini.
Selain lagu-lagu serta doa-doa yang bernuansa ekologis, ritual menarik yang diperlihatkan dalam ibadat ini adalah pemberkatan dan perutusan para saudara pohon. “Saudara dan saudari seciptaan, pohon yang tinggi, samudera yang luas, udara, bumi, dan semua ciptaan, ampunilah dan perdamaikanlah kami dengan kalian. Marilah kita menata kembali dunia baru, di bawa cinta dan pengasihan Dia yang adalah Awal dan Akhir, yang telah membuat segala sesuatu, Alfa dan Omega. Dan kepadamu saudara-saudara pohon, terimalah berkat dari Pencipta kita, serta bertumbuh dan berkembanglah demi kehidupan segenap makhluk: (+) dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin,”!

Pemberkatan & perutusan saudara-saudara pohon.

Usai ibadat, para peserta dipandu oleh fasilitator dari UPT KPH Wil. Manggarai untuk mengkonservasi lahan seluas 12 hektare dengan penanaman 5000 anakan pohon lokal yang terdiri dari: Pohon Beringin, Ara, Ratung, Waru, Gayam, Enau, Mani’i dan Lince Timung. Sebagai informasi terkait penyediaan anakan pohon: KPH menyiapkan 3000 anakan pohon, sementara paroki dan umat menyiapakan 2000 anakan. Kegiatan penanaman berjalan lancar sesuai yang direncanakan.

Penanaman pohon secara simbolik

Sebelum meninggalkan lokasi kegiatan, panitia mengumumkan door prize bagi para peserta yang beruntung, ada yang mendapatkan kelinci, telor, anakan pohon buan-buahan serta uang.

Penanaman pohon secara simbolik.

Selain itu, ucapan terimakasih kepada para peserta yang hadir disampaikan oleh kepala UPT KPH Wil. Manggarai ketika mengakhiri kegiatan. “Kami selaku pemerintah menyampaikan beribu-ribu terimakasih kepada Pastor Paroki Pagal beserta seluruh umat, Ekopastoral Fransiskan, Pemerintah Kecamatan Cibal, Polsek Cibal, Babinsa 1612 – 01 Cibal, para awak media serta semua yang telah terlibat dalam menyukseskan kegiatan bersejarah ini. Dalam keterbatasan kami sebagai pemerintah, kami akan terus bekerja keras dan menyatatakan kepada masyarakat bahwa negara senantiasa hadir bahkan dalam krisis lingkungan hidup seperti terjadi belakangan ini di tempat ini. Kami berharap bahwa kita akan tetap bekerjasama dan sama-sama bekerja di waktu-waktu yang akan datang dengan menjaga dan merawat zona hijau termasuk seluruh kehidupan yang ada dan dilindungi di hutan lindung RTK 18 ini”, pungkasnya!

[AB, AG & MS].

Teologi Pertanian Organik: Perspektif Biblis

By On November 13, 2019

Menjadi Petani itu bukan nasib, melainkan Panggilan! [Andre Bisa, ofm, dalam seminar "Pandangan Teologis Tentang Pertanian Organik", pada HPS tingkat Kevikepan Ruteng, 13 Nov. 2019].

Refleksi teologis tentang pertanian organik dalam perspektif biblis ini dirangkum dari bahan yang disampaikan oleh Andre Bisa, OFM (pimpinan Ekopastoral Fransiskan) pada perayaan Hari Pangan Sedunia (HPS) tingkat Kevikepan Ruteng, Keuskupan Ruteng, pada Rabu 13 November 2019. Adapun perayan HPS ini dilaksanakan di Paroki Ponggeok dengan para pesertanya berasal dari 26 Paroki yang tercatat secara administratif masuk dalam Kevikepan Ruteng.

Mengawali seminar, Andre Bisa, sapaan akrab pimpinan Ekopastoral Fransiskan ini mengajak seluruh peserta untuk mendaraskan Mazmur 65, yang olehnya disebut sebagai "Mazmur Petani".

“Ya Allah, Engkau pantas dipuji di Sion, dan kepada-Mulah nadar dipenuhi. Engkaulah kepercayaan seluruh bumi, sampai ke batas-batas samudera.
Engkau membuat gunung yang kokoh kuat, pinggang-Mu berikatkan keperkasaan. Engkau meredakan deru lautan, meredakan gemuruh gelombangnya. Para penghuni seluruh bumi, takut akan kuasa-Mu yang dahsyat.
Dari Timur sampai ke Barat, Kaupenuhi dunia dengan sorak sorai. Tanah kami Kaukunjungi dengan kelimpahan-Mu, Kaubuat kaya dan subur. Mega langit penuh air, yang Kausediakan untuk kesuburan tanah.
Begini Engkau mengerjakannya, Engkau menggenangi alur bajak dan membasahi gumpalan tanah, menggemburi tanah dengan hujan dan memberkati tumbuhnya tanam-tanaman. 
Dengan demikian seluruh tahun Kaumahkotai dengan kebaikan-Mu, jejakMu membawa kesuburan. Bahkan padang gurungpun menjadi subur, dan bukit-bukit menghijau permai. Padang rumput berdandanan kambing domba, lembah-lembah berselimutkan panenan, semuanya bersorak-sorai dan menyanyikan pujian. Amin", [Mzm. 65:7-14].

Andre mengajak peserta HPS untuk mencermati sebuah tradisi sehat dalam Gereja Katolik setiap minggu panggilan yakni diadakannya aksi panggilan/promosi panggilan. Sebuah aksi mulia yang diadakan dengan maksud menggugah hati setiap pemudi-pemuda Katolik untuk bekerja di ladang / kebun anggur Tuhan atau hidup bakti. Banyak Ordo/Tarekat/Serikat/Kongregasi hadir dengan membawa panji spiritualitas pendirinya masing-masing untuk dipromosikan. Promosi panggilan menjadi kesempatan untuk mengiklankan spiritualitas hidup bakti layaknya iklan-iklan profan yang sedang ngetren saat ini sehingga tidak salah kalau kita mengatakan bahwa promosi panggilan juga merupakan sebuah kosmetika spiritual yang mesti diiklankan.

Suasana refleksi teologis tentang pertanian organik dalam perayaan HPS.

Baginya, entah disadari atau tidak kata-kata kunci yang dipakai untuk promosi panggilan tersebut berasal dari istilah pertanian: ladang, kebun anggur. Ladang atau kebun yang akan digarap dan dihidupi oleh para peminatnya adalah milik Tuhan.

Beberapa pandangan teologis tentang pertanian organik yang dikemukakannya diringkas dalam poin-poin berikut ini.

Pertama, petani sebagai profesi pertama di muka bumi. Kitab Kejadian memerlihatkan dengan terang benderang bahwa manusia sejak awal mula sudah dipanggil untuk bekerja dan atau berprofesi sebagai "tuan" (baca petani) atas ciptaan Allah yang lain dengan merawat dan melestarikan untuk kesejahteraan segala ciptaanNya (bdk. Kej. 1:28-31). Bahwa sejak awal mula, Allah mendesain sebuah kebun yang dinamakan Firdaus (Taman Eden) dan memperlengkapinya dengan sungai dan tumbuh-tumbuhan serta menempatkan manusia yang telah diciptakanNya itu untuk tinggal di dalamnya seraya mengusahakannya (bdk. Kej. 2:8-25).

Kedua, ditilik dari konsep teologi penciptaan, Allah sendirilah yang merancang dan mendesain struktur ciptaan-Nya dalam relasi kosmik dan manusia diikutsertakan dalam proses penciptaan. Dan beginilah struktur ciptaan: Allah sebagai Pencipta (Creator, Pemilik Kebun Firdaus/alam pikiran Perjanjian Lama; Pemilik Kebun Anggur/alam pikiran Perjanjian Baru). Alam Raya (Vestigia Dei/Jejak Kaki Allah/Makrokosmos) diciptakan secara berurutan mendahului manusia untuk memastikan bahwa jejak kehadiran-Nya sudah ada pada semesta yang adalah makrokosmos. Manusia (Imago Dei/ Cocreator Dei/Penggarap/Manager, Produser, Pemulia/Mikrokosmos) diciptakan paling terakhir dan ditugaskan untuk mengusahakan semuanya yang sudah ciptakaan Allah. Relasi antara Pencipta, Alam dan Manusia dijembatani dalam Kasih persaudaraan semesta di mana alam dan manusia bergantung sepenuhnya kepada Pencipta.

Ketiga, Amanat Ilahi: Visi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Hidup manusia bergantung pada Allah dan Tanah: Pohon-pohon di ladang akan memberi buahnya dan tanahnya akan memberi hasilnya. Mereka akan hidup aman tenteram di tanahnya, [Yeh. 34:27]. Bergantung pada Tanah: Manusia pertama disebut dengan istilah adam yang beradal dari bahasa Ibrani, yang menunjuk pada nama pribadi lelaki, tetapi juga mengandung arti manusia secara umum termasuk lelaki dan perempuan. Manusia dibentuk dari debu tanah (Kej. 2:7). Terlihat hubungan manusia dengan tanah punya tiga (3) makna ganda, yaitu: (a). Manusia  diciptakan dari bahan debu tanah  [Kej. 2:7]; (b) harus menggarap tanah yang hasilnya untuk makan  [Kej. 3:19]; (c). Dan mati kembali kepada tanah (Kej. 3:19). Bergantung pada nafas Allah: Hidup manusia bergantung pada nafas hidup dari Allah. Jika Ia menarik kembali Roh-Nya dan mengembalikan nafas-Nya pada-Nya, maka binasalah bersama-sama segala yang hidup, dan kembalilah manusia kepada debu (Ayb. 34:14-15). Dalam alam pikiran Perjanjian Baru, Guru Ilahi sendiri bersabda: [a]. Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Warta keselamatan Kristus tidak ditujukan hanya manusia saja tetapi juga termasuk segenap ciptaan. Maka kepedulian terhadap makhluk ciptaan merupakan panggilan iman kristiani. [b]. Penabur benih: sebagian jatuh di tanah yang baik,  ada yang berbuah seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat ada yang tiga puluh kali lipat (Mat. 13:8). [C]. Kamu harus memberi mereka makan, (Mat. 14:13-21).

Keempat, Spiritualitas dan cara hidup St. Fransiskus Assisi (St. Pelindung Segenap Ciptaan. Bdk. Laudato Si). Memandang segenap ciptaan sebagai saudara dan saudari. Para petani diingatkan untuk senantiasa membangun persaudaraan semesta melalui pertanian organik.

Kelima, keprihatinan terhadap nasib para petani zaman ini. Ketergantungan pada produk-produk kimia dan modern dalam mengolah lahan-lahan pertanian.  Kebergantungan ini terutama pada pupuk, pestisida, benih dan bahkan peralatan pertanian. Semua hal ini tersedia di pasar dan dikuasai para pemodal dan pedagang. Di samping itu lahan pertanian secara umum telah menjadi lahan kritis sehingga membutuhkan pengolahan intensif. Paus Paulus VI mengatakan bahwa "misi Keadilan dan Perdamaian adalah menjaga agar mata Gereja tetap awas terbuka, hatinya peka dan tangannya siap menjalankan amal kasih yang menjadi panggilan Gereja di dunia. Untuk tetap menjaga agar mata Gereja tetap terbuka, hati Gereja tetap peka dan tangan Gereja siap sedia untuk karya amal kasih yang menjadi panggilan Gereja di dunia ini".

Keenam, Alam sebagai sebuah Sakramen. Alam semesta dan segenap ciptaan lain, masing-masing memberikan sumbangan yang khas bagi kehidupan manusia. Ia dengan kekhasan masing-masing mengungkapkan dan menampakkan sebagian tentang Allah dan menghantar kembali manusia kepada Allah. Ia adalah bayangan, jalan serta tangga yang menghantar jiwa manusia kepada Allah.

Ketujuh, pandangan holistik. Alam semesta serta segenap ciptaan ini secara keseluruhan sebagai sebuah persekutuan di mana semua elemen di dalamnya saling terkait satu dengan yang lainnya. Alam semesta ini ibarat komunitas universal dimana keberadaan ciptaan lain merupakan prasyarat bagi eksistensi dan berada bagi yang lain.

Kedelapan, saling menghormati. Sesuai teladan St. Fransiskus dari Assisi, para petani dalam seluruh karyanya perlu menaruh hormat kepada segenap ciptaan. Segala bentuk tindak kekerasan kepada ciptaan terutama kepada yang tak berdaya adalah sebuah kejahatan dan dosa.

Kesembilan, alam sebagai saudara dan saudari. Segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, termasuk manusia adalah saudara karena berasal dari Bapa yang satu dan sama, yakni Allah.

Kesepuluh, pentingnya merefleksikan teologi tentang pertanian organik hingga pada pemberdayaan rupanya erat kaitannya dengan komunitas lokal tradisional yang dari generasi ke generasi berusaha untuk hidup harmoni dengan lahan, hutan, satwa, sungai dan laut yang menjadi lingkungan hidup mereka. Komunitas setempat tentunya memiliki kearifan lokal, cara berpikir, kepercayaan dan aturan-aturan yang tidak hanya melindungi anggota-anggotanya, tetapi juga sumber-sumber kehidupan mereka yang berupa air, ladang, tanaman dan hewan. Terhadap pemberdayaan ini, Gereja lokal harus mengakui peranan dan sumbangan penting komunitas lokal, khususnya masyarakat asli dalam pengelolaan lingkungan berdasarkan kearifan budayanya. Kearifan para petani tradisional yang akrab dan bersahabat dengan alam itu mengandung arti "Kristologi Kosmis" karena Kristus dengan memanifestasikan diri-Nya dengan ciptaan dalam batasan-batasan ruang dan waktu di dunia ini meneguhkan para petani untuk mewujudkan persatuan, keindahan dan kesalingterkaitan dengan segenap ciptaan dalam merawat ibu bumi secara arif dan bijaksana melalui benih-benih yang ditaburkan. Karenanya, menjadi petani Kristiani yang baik adalah panggilan untuk melindungi dan melestarikan alam, mengembalikan kemandirian dan kedaulatan petani serta mengembangkan spiritualitas yang menghargai seluruh ciptaan Tuhan. Dalam konteks ini, gerakan pemberdayaan umat Allah melalui pastoral pertanian adalah suatu alternatif pastoral yang mungkin dan aktual untuk diterapkan dalam setiap Gereja lokal dengan senantiasa menyesuaikan dengan konteks dan tradisi setempat.


Pada hari ini saya tawarkan padamu suatu pilihan: hidup atau mati, berkat atau kutuk. Pilihlah kehidupan, maka kamu dan keturunanmu akan hidup (Ul 30:19-20).

[Sergyo Paju]

Rayakan HUT 80, Paroki Pagal “Sulam Hutan”

By On October 08, 2019


Meskipun puncak perayaan hari ulang tahun Paroki Pagal masih akan terlaksana di tanggal 24 November 2019, pada Hari Raya Kristus Raja, namun serangkaian kegiatan telah dirancang untuk memeriahkannya. Sebagaimana lazimnya momentum perayaan ulang tahun paroki ini yang hampir setiap tahun ditandai dengan pelbagai aktivitas seperti olah raga, lomba membaca Kitab Suci, kuis Kitab Suci, mendaras Mazmur, dan masih banyak kegiatan rohani lainnya, tahun ini di usia yang ke-delapan puluh, Paroki yang bernama pelindung Kristus Raja Semesta Alam ingin “menyulam” hutan lindung Register Tanah Kehutanan (RTK) 18 Gapong dengan kegiatan konservasi.


Alasan “menyulam” hutan lindung ini dengan kegiatan konservasi, oleh Pastor Abba Lazar, OFM (Pastor Paroki Pagal) diterangkan antara lain: “selain sebagai sebuah kebiasaan yang sudah mentradisi di Paroki Pagal, juga sebagai tanggapan nyata atas musibah kebakaran yang menghanguskan kurang lebih sepuluh (10) hektare zona hijau di kawasan ini pada tanggal 22 September yang lalu”. Untuk diketahui, hutan lindung RTK 18 Gapong ini terbentang dari Pong Peraseng (Paroki Pagal) hingga Langkas (Paroki Ri’i).


Demi merealisasikan rencana konservasi di kawasan yang mencakup dua paroki (yakni Pagal dan Beamese), maka diadakanlah rapat persiapan pada hari Selasa, 08 Oktober 2019 di Pastoran Paroki Kristus Raja Pagal. Hadir dalam rapat ini sejumlah instansi yang terdiri dari: Pemerintah Kecamatan Cibal, Polsek Cibal, Babinsa 1612 Cibal, Pimpinan UPT KPH Wil. Manggarai, Pimpinan Ekopastoral Fransiskan bersama staf, Pastor Paroki Pagal beserta para agen pastoral (Dewan Penasehat, Pengurus DPP Paroki, Ketua Wilayah dan KBG), para kepala sekolah SD, SMP dan SMA di pusat paroki. Pater Abba, OFM ketika membuka rapat ini berkata: “Berbicara tentang krisis ekologi sesungguhnya menjadi persoalan bersama seluruh elemen dalam masyarakat. Olehnya kami melibatkan pemerintah, aparat keamanan, tokoh agama, tokoh pendidik dan orang muda Katolik agar bersama-sama kita realisasikan iman kita dalam merawat ciptaan Tuhan. Termasuk di sini, budaya dan kearifan lokal tentang tanah, air dan hutan yang kita miliki, perlu dilestarikan agar berdayaguna bagi generasi mendatang”.


Adapun hal ikhwal yang dibahas bersama antara lain: pertama, presentasi P. Andre Bisa, OFM (Pimpinan Ekopastoral Fransiskan) terkait status hutan lindung RTK 18: keprihatinan dan rencana tindak lanjut; kedua, presentasi dari Bapak Mansuetus Tatus (Kepala UPT KPH Wil. Manggarai) perihal: Undang-Undang Kehutanan, tugas dan wewenang pemerintah, serta fungsi hutan lindung; ketiga, dialog dan tanya jawab dari para peserta rapat serta keempat, rencana tindak lanjut.


Sebagai rencana tindak lanjut, peserta rapat mendaulatkan Ekopastoral Fransiskan untuk menginisiasi kegiatan konservasi di kawasan hutan lindung tersebut. Pada kesempatan ini, Andre Bisa memaparkan bentuk dan dinamika kegiatan “menyulam” hutan melalui dua tahapan. Tahap pertama, non teknis: menyediakan panduan animasi lingkungan hidup, Rosario ekologi serta Ekaristi Ekologi untuk dikirim ke Sembilan wilayah di pusat paroki untuk selanjutnya dipergunakan, diperdalam dan dirayakan selama bulan Rosario. Dan tahap kedua, teknis: kegiatan konservasi. “Tentang kegiatan teknis, Ekopastoral Fransiskan akan berkoordinasi dengan pihak KPH untuk menentukan waktu pelaksanaan, sistem dan pola konservasi serta jenis pohon yang akan ditanam di areal hutan lindung”, tegas Andre. Sebagai informasi tambahan, pimpinan Ekopastoral ini mengingatkan peserta rapat perihal ketersediaan anakan pohon Mani’i di balai konservasi Ekopastoral Fransiskan yang akan dihidupkan di hutan lindung, sekaligus harapan akan partisipasi masyarakat untuk menyediakan anakan pohon lokal seperti, ara, ratung, langke, gayam dll.


“Untuk saat ini, di balai konservasi Ekopastoral Fransiskan tersedia ribuan anakan pohon Mani’i serta anakan pohon lokal yang siap untuk ditaman di kawasan hutan lindung. Pohon Mani’i itu pohon unggul yang kami rekomendasikan untuk dibudidayakan di hutan lindung, harganya sangat terjangkau, asal ada niat baik dari kita semua atau siapa saja untuk menanamnya. Juga, selain pohon unggulan ini, kami mengharapkan agar kita semua peserta rapat perlu mensosialisasikan kepada umat atau masyarakat agar menyediakan minimal satu anakan pohon lokal yang nantinya akan kita budidayakan di hutan lindung. Mari kita gemakan semangat ekologis “menyulam” hutan dengan mempersembahkan pohon-pohon bagi hutan kita. Mari kita wariskan mata air dan bukan air mata bagi generasi mendatang! Sampai jumpa di hutan”, tandasnya.

(Aris Garos & Marianus Saju)

Lagi-Lagi Kebakaran di Hutan Lindung RTK 18 Gapong

By On October 02, 2019


Berselang seminggu tiga hari pasca musibah kebakaran pertama di Hutan Lindung RTK 18 Gapong, Cibal, Manggarai pada tanggal 22 September yang lalu, kini di tempat yang sama terulang kembali tragedi yang kedua. Tepatnya pada hari ini, Rabu, 02 Oktober 2019, pkl. 10.45, di bagian Barat Embung yang berada di tengah hutan lindung tersebut terjadi kebakaran lagi.

Tak diketahui asal muasal penyebab kebakaran ini, tetapi untuk sementara dugaan kuatnya adalah kesengajaan pembakaran. Betapa tidak, hutan lindung yang tak dijaga oleh polisi hutan ini dengan amat mudah dilintasi oleh siapapun entah melakukan perjalanan atau bertamasya di Embung, sehingga dengan amat mudah terjadi kebakaran atau bentuk-bentuk lain kerusakan hutan tanpa diketahui oleh siapapun.

Saat kepulan asap api kelihatan dari arah embung, sejumlah instansi antara lain Kapolsek Cibal bersama anggotanya, Babinsa 1612 Cibal, Para staf Kecamatan Cibal, Ekopastoral Fransiskan beserta masyarakat segera bergerak ke tempat kejadian perkara (TKP) untuk melakukan pemadaman. Hingga berita ini ditulis, kegiatan pemadaman sedang berlangsung dan perlahan-lahan kobaran api dijinakkan. Satu unit mobil pemadaman kebakaran pun sedang berada di lokasi dan sedang memadamkan api.

Untuk sementara, suasana di lokasi kebakaran cukup siaga, mengingat angin di tempat ini cukup kencang dan dikhawatirkan terjadi kebakaran susulan. Amat disayangkan bahwa sejak kebakaran pertama hingga kebakaran kedua ini terjadi lagi-lagi Polisi Hutan (Polhut) tak ada di tempat.

Bapak Yoseph Tamur, Kapolsek Cibal, saat sedang melakukan pemadaman sempat memberi pernyataan dan peringatan bagi para pemangku kepentingan yang bertugas mengelola kawasan hutan lindung ini. "Kebakaran yang terjadi untuk kedua kalinya ini, sebetulnya menjadi peringatan keras bagi pemerintah untuk menentukan sikap, setidak-tidaknya menugaskan para polisi hutan untuk bertugas di RTK ini dan pengawasan ketat bagi siapapun yang melintasi kawasan ini setiap waktu", tandas Kapolsek Cibal.

Kapolsek Cibal bersama anggota dan warga sedang melakukan pemadaman.

Sementara, Babinsa 1612 Cibal, Bapak Fritz Kasiwano saat berada di TKP, dengan menyaksikan tragedi yang kedua ini pun angkat bicara. "Kebakaran yang terjadi di kawasan ini, tidak boleh dianggap sebagai hal biasa. Ini masalah serius. Karenanya kami berharap kepada para pengelolah kawasan hutan lindung ini, selain berpatroli rutin, tapi juga membangun kemitraan dengan masyarakat demi pengawasan dan pengelolaan hutan ini yang lebih transparan dan teratur", harapnya.

Juga, masih di lokasi kebakaran, Camat Cibal, Ir. Lorens Jelamat, bersuara tentang musibah ini. Baginya, "peristiwa kebakaran ini menjadi pelajaran buat semua orang, terutama, kepada pemerintah, karena seusai peralihan tanggungjawab pengelolahan hutan ini dari Kabupaten ke Provinsi, pengelolahan dan pengawasan menjadi tidak teratur. Maka, kepada pengelolah hutan lindung ini, saya sebagai kepala wilayah mengharapka agar penempatan polisi hutan di kawasan ini segera dilakukan dan syukur-syukur melarang aktivitas piknik dan rekreasi di areal Embung, yang bisa saja menjadi pemicu kebakaran entah apa saja yang dilakukan. Dan akhirnya kepada masyarakat, saya pun berpesan dan berharap agar bersama-sama kita bekerjasama menjaga kawasan RTK 18 Gapong ini agar terbebas dari aktivitas -aktivitas yang bisa merusak keutuhan ekosistem hutan ini", imbuhnya.

Suasana pengawasan dan pemadaman di lokasi kebakaran.

Akhirnya, sebagai pelajaran bersama atas musibah kebakaran yang kedua ini, siapapun dan di manapun yang merasa tergerak untuk peduli dengan pengelolahan hutan lindung ini agar mengabarkan dan mendesak pihak berwenang untuk memberi perhatian serius atas persoalan ini sebelum persoalan yang lebih besar terjadi.

[Andre Bisa, OFM]








Rosario Pemeliharaan Keutuhan Ciptaan

By On October 01, 2019

Salam Maria, Ratu seluruh dunia ciptaan, doakanlah segenap warga bumi!
Maria, Bunda yang merawat Yesus, sekarang merawat dunia yang terluka ini dengan kasih sayang dan rasa sakit seorang ibu. Sama seperti hatinya yang tertusuk telah meratapi kematian Yesus, sekarang dia merasa kasihan dengan penderitaan orang-orang miskin yang disalibkan dan makhluk-makhluk dari dunia yang dihancurkan oleh kuasa manusia. Sepenuhnya telah berubah rupa, dia hidup dengan Yesus, dan semua makhluk menyanyikan keelokannya”, (LS. 241).

Pengantar Penerjemah 
Saudara dan Saudariku, Semoga Tuhan memberimu damai!

Santo Paulus mengingatkan kita betapa pentingnya menciptakan persaudaraan semesta, antara manusia dengan segenap ciptaan. Kita diingatkan agar bersama alam ciptaan  dapat mengarahkan diri kepada zaman yang akan datang, zaman kemuliaan dan kemerdekaan bersama seluruh ciptaan, karena  kedatangan-Nya tidak hanya dinantikan oleh manusia tetapi penantian seluruh ciptaan, seluruh makhluk: “Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan. Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan bukan oleh kehendaknya tetapi oleh kehendak Dia yang telah menaklukkannya dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah. Sebab kita tahu bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin”, (Rm. 8:19-21).

Untuk membangkitkan rasa persaudaraan dalam ibadat dan kebaktian suci bersama segenap ciptaan, demikian Panduan Rosario Perlindungan Keutuhan Ciptaan ini dihadirkan. Adapun panduan Rosario ini diterjemahkan dari buku pegangan Guided Rosary on Caring for Creation yang dikerjakan oleh Franciscan Action Network (FAN), 2015.  Gagasan dasar permenungan Rosario ini bertolak dari kedalaman isi hati Paus Fransiskus yang dibubuhkannya dalam Ensiklik Laudato Si. Dia menyebut Maria sebagai Ratu Seluruh Dunia Ciptaan, bunyinya: “Maria, Bunda yang merawat Yesus, sekarang merawat dunia yang terluka ini dengan kasih sayang dan rasa sakit seorang ibu. Sama seperti hatinya yang tertusuk telah meratapi kematian Yesus, sekarang dia merasa kasihan dengan penderitaan orang-orang miskin yang disalibkan dan makhluk-makhluk dari dunia yang dihancurkan oleh kuasa manusia. Sepenuhnya telah berubah rupa, dia hidup dengan Yesus, dan semua makhluk menyanyikan keelokannya”, (LS. 241).

Beberapa hal yang perlu disampaikan di sini antara lain: pertama, isi seluruh peristiwa Rosario. Bahwa keseluruhan peristiwa serta renungan yang disajikan dalam panduan ini mengikuti secara saksama apa yang tertera pada teks asli. Termasuk, susunan atau urutan setiap peristiwa yang termuat dalam panduan ini pun tidak menggeser atau menggantikan tata urutan yang baku sebagaimana kita kenal selama ini. Barangkali terdapat sedikit perbedaan yang khas perihal renungan-renungan biblis-ekologis. Kedua, penerjemah memilih untuk menambahkan petunjuk praktis pada panduan ini hanya semata-mata demi maksud membangkitkan kreativitas dalam berdevosi serta aksi nyata yang mesti dicari, ditemukan dan diputuskan secara bersama-sama untuk diwujudkan sebagai bentuk pertobatan ekologis serta tanggungjawab ekologis menjaga dan merawat bumi rumah kita bersama. Salam Maria, Ratu seluruh dunia ciptaan, doakanlah segenap warga bumi!!!

Pagal, Cibal, Manggarai, 01 Oktober 2019
Andre Bisa, OFM



Petunjuk Praktis

Petugas Doa: 
  • Pemimpin (2 orang) secara bergantian membawakan doa dan membacakan renungan
Tata Gerak:
  • Selama doa rosario berlangsung, umat boleh duduk atau berdiri.
Suasana:
  • Demi menjaga kesakralan dalam berdoa rosario, sebaiknya diciptakan suasana hening, meditatif dan kontemplatif.
Tata Ruangan dan Lagu:
  • Tata Ruangan: Tempat ibadat dapat dilakukan di dalam ruangan atau di luar ruangan (alam terbuka) dengan ditata sedemikian rupa sehingga membantu umat mengarahkan hati, pikiran, perasaan, pandangan, pendengaran dan intuisi pada misteri-misteri dalam rosario.
  • Lagu: Lagu rosario yang dianjurkan selain bertema Maria, juga bertema alam. Petugas dapat memilih lagu  dari buku nyanyian resmi Gereja. 
Aksi Nyata:
  • Untuk merealisasikan komitmen bersama Maria sebagai Ratu Seluruh Dunia Ciptaan, maka sangat diharapkan upaya nyata merawat bumi rumah bersama dengan menanam pohon di kebun, di hutan atau di mata air, memungut sampah dan aksi-aksi ekologis lainnya yang dirasa sesuai dengan situasi dan konteks lingkungan hidup setempat.


Rosario Pemeliharaan Keutuhan Ciptaan
Panduan Rosario dengan penekanan pada pemeliharaan keutuhan ciptaan ini, sesungguhnya berada dalam terang Laudato Si, Ensiklik Paus Fransiskus.

Jaringan Aksi Fransiskan mempersembahkan panduan rosario yang secara khusus memberi penekanan pada pemeliharaan keutuhan ciptaan sebetulnya merupakan tanggapan atas seruan doa Paus Fransiskus yang terdapat dalam Ensiklik Laudato Si.

Pada dasarnya, tujuan merenungkan Rosario keutuhan ciptaan ini adalah agar membantu kita menyadari kehadiran Kristus di dalam dunia, dan bahwa seperti Kristus, kita pun dipanggil untuk merangkul dunia di sekitar kita seraya merefleksikan martabat luhur kemanusiaan kita serta keluhuran ciptaan Tuhan di sekitar kita.

Panduan ini tidak boleh dijadikan sebagai suatu metode refleksi yang paling berwibawa, mengingat kehidupan Yesus adalah suatu misteri yang takkan pernah utuh dimengerti, suatu pencarian makna tanpa tepian akhir; dan kita dapat menyelami seluruh peristiwa hidup Yesus melalui mata Maria, Bunda-Nya dan Bunda kita. Secara sederhana, dalam arti tertentu peristiwa-peristiwa yang direnungkan di sini memerlihatkan dasar sejarah keselamatan kita, suatu tatanan relasi antara Allah dalam diri Yesus dan Bumi yang telah diciptakan Allah.

Jaringan Aksi Fransiskan merupakan suatu organisasi akar rumput yang memperjuangkan tegaknya keadilan bagi manusia di seluruh bangsa. Terdorong oleh Injil Yesus Kristus serta cara hidup Santo Fransiskus Assisi dan Santa Klara Assisi, Jaringan Aksi Fransiskan (Franciscan Action Network / FAN) menjaring suara para Fransiskan untuk mencari perubahan kebijakan publik Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam menciptakan perdamaian, pemeliharaan keutuhan ciptaan, pengentasan kemiskinan dan perjuangan Hak Asasi Manusia.

URUTAN DOA ROSARIO PEMELIHARAAN KEUTUHAN CIPTAAN 
  • Tanda Salib
  • Aku percaya
  • Kemuliaan
  • Bapa Kami
  • Salam, Puteri Allah Bapa (Salam Maria)
  • Salam, Bunda Allah Putera (Salam Maria)
  • Salam, Mempelai Allah Roh Kudus (Salam Maria)
  • Kemuliaan
Peristiwa  1 (lihat di bawah)
Bapa kami, Salam Maria (10 kali), Kemuliaan
Peristiwa  2 (lihat di bawah)
Bapa kami, Salam Maria (10 kali), Kemuliaan
Peristiwa  3 (lihat di bawah)
Bapa kami, Salam Maria (10 kali), Kemuliaan
Peristiwa  4 (lihat di bawah)
Bapa kami, Salam Maria (10 kali), Kemuliaan
Peristiwa  5 (lihat di bawah)
Bapa kami, Salam Maria (10 kali), Kemuliaan

PERISTIWA-PERISTIWA ROSARIO
I. Peristiwa-peristiwa Gembira

1. Maria menerima kabar gembira dari Malikat Gabriel. (Luk. 1:35-38)

Maria memberikan jawaban ya kepada Allah dan sekaligus melanjutkan jawaban tersebut kepada kita sebagaimana kabar gembira yang disampaikan malaikat kepadanya bahwa dia akan mengandung dan melahirkan putera Allah. Ketaatan sebagai bagian terpenting dalam hidup Kristiani, sebagaimana dicontohkan oleh Maria dalam hal menanggapi rencana Allah.

(a). Allah memberi kita banyak tanggungjawab serta kehendak bebas untuk melakukannya. Seberapa sering, kita memberi (berbagi), seperti Maria dengan jawaban ya terhadap kehendak Allah?

(b). Dalam relasi yang khusus dengan lingkungan, kita telah dikuatkan oleh Allah untuk memelihara alam sekitar kita (Kej. 1:26-28, Im. 25:23 dll). Apakah kita menerima tanggungjawab ini atau berpaling darinya?

2. Maria mengunjungi Elisabet, saudaranya. (Luk. 1:40-42)

Elisabet diliputi sukacita ketika melihat Maria dan berseru “Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah rahimmu. Tanggapan Maria merupakan bentuk ungkapan kerendahan hati yang dimaklumkannya dalam Magnificat (pujian) dan serentak “membalikkan pandangan dunia” di mana yang hina dina diangkat dan yang berkuasa diturunkan dari takhta. Sebagai orang Katolik, kita dipanggil untuk menjadi satu dengan orang yang miskin dan terpinggirkan.

(a). Paus Fransiskus berkata: “Bumi terbebani dan hancur, termasuk kaum miskin yang paling ditinggalkan dan dilecehkan oleh kita” (LS. 2). Apakah kita memandang secara saksama alam semesta di sekitar kita? Apakah kita menyadari bahwa perusakan alam di sekitar kita turut menyumbang kehancuran dan retaknya keutuhan ciptaan?

(b). Secara mengerikan bencana alam yang kita saksikan di zaman ini (seperti penyusutan garis pantai) merupakan dampak dari perubahan iklim yang dipicu oleh aktivitas manusia yang tak bertanggungjawab atas alam. Dengan merenungkan pandangan Paus Fransikus, bahwasanya “Allah senantiasa mengampuni, demikian pun manusia kadang-kadang mengampuni, tetapi alam tak pernah mau mengampuni”. Jika kamu menamparnya, ia akan senantiasa berbalik menamparmu. Perlu disadari bahwa Allah mengangkat mereka yang rentan dari posisinya yang paling lemah; apakah kita menyadari datangnya keadilan Allah dan mewujudnyatakan keadilan ekologi dalam relasi dengan dunia?

3. Yesus dilahirkan di kandang Betlehem. (Luk. 2:10-12)

Permenungan tentang misteri kelahiran Yesus mengingatkan kita bahwa Allah tidak pernah meninggalkan dunia yang telah diciptakan-Nya, tetapi tetap datang ke dalam dunia dan disambut dengan sukacita. Kristus telah lahir dalam keadaan yang paling sederhana di antara mereka yang bersahaja dan memerlihatkan bumi dan segala ciptaan untuk kehidupan.

(a). Allah tidak pernah membiarkan bumi dan segala makhluk di dalamnya berjalan tak teratur; terdapat suatu kehindahan dalam pandangan Kristiani bahwa Allah tinggal di dalam dunia dengan segala persoalan yang melingkupi manusia, lingkungan alam dan binatang-binatang telah diberikan (dan tetap akan diberikan) seturut hukum alam. Apakah kita dalam kebersamaan mengalami kegembiraan dalam hidup semesta dan itu berarti bahwa kita tahu bagaimana cara menyelaraskan hidup dengan alam? Apakah kita meneladani kerendahan hati Kristus yang bergembira dengan yang bergembira dan dengan mereka yang hidup selaras dengan alam?

(b). Apakah kita mampu melihat kehadiran Kristus yang paling sederhana atau tidak terlalu mencolok dalam segenap ciptaan dan apakah kita mampu memenuhi mereka dengan sukacita sejati sebagaimana Fransiskus Assisi yang menemukan Tuhan dalam segala sesuatu?

4. Yesus dipersembahkan dalam Bait Allah. (Luk.2:22-34)

Santa Maria Maria dan Santo Yosef pergi ke Bait Allah, sesuai adat dan kebiasaan agama Yahudi pada waktu itu, mereka membawa Yesus dan mempersembahkan-Nya kepada Allah. Mereka meyakini bahwa Kanak-Kanak Yesus yang dipersembahkan merupakan ungkapan akan persembahan diri yang paling berarti dalam seluruh waktu, sehingga dengan sukarela dan kerendahan hati mereka menjaga Yesus dan mempersembahkanNya kembali kepada Allah.

(a). Sebagai refleksi atas peristiwa ini, kita insyaf akan penyertaan dan penyelenggaraan Ilahi atas segenap ciptaan sekaligus kita dipanggil untuk mempersembahkan diri seutuh-utuhnya kepada Allah. Apakah kita sepenuhnya mempersembahkan diri pada karya Allah dalam hal keseluruhan relasi sebagaimana telah diberikan Allah kepada kita? Apakah kita dengan sepenuh hati, bersukacita menunjukkan tanggungjawab yang utuh terhadap alam semesta yang telah dipercayakan Tuhan kepada kita?

(b). Santa Maria dan Santo Yosef insyaf akan tugas dan tanggungjawab keagamaan terhadap lingkungan alam tempat mereka tinggal. Mereka sadar bahwa mereka adalah bagian utuh dari keseluruhan ciptaan yang luas. Apakah kita mampu memerlihatkan sikap yang sama berhadapan dengan lingkungan alam tempat kita berada? Bagaimana sikap hormat kita pada keutuhan ciptaan?

(c). Sebuah kidung yang pantas direnungkan: “Segala makhluk memuji-Mu”, mau menegaskan bagaimana kita sebagai manusia hanyalah bagian terkecil dari kemahaluasan kidung pujian tentang kebaikan dan kemuliaan Allah?

5. Yesus ditemukan dalam Bait Allah. (Luk.2:46-48)

Keluarga Kudus menyadari bahwa Yesus tidak berjalan bersama mereka saat meninggalkan Yerusalem, karenanya mereka kembali untuk mencari-Nya. Dalam hal ini, Yesus tampaknya benar ketika memenuhi harapan mereka untuk menjumpaiNya dalam bait Allah, saat sedang mengajar. Yesus juga memenuhi para pendengar-Nya dengan rasa takjub yang mendalam.

(a). Kita sering mencari Kristus dalam dunia sekitar kita, tapi apakah segenap ciptaan tidak berada dalam satu kesatuan tempat? Mari kita segarkan kembali ingatan kita akan nasihat Rasul Paulus kepada jemaat di Kolose: “Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di surga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintahan maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia” (Kol. 1:16-17). Apakah kita mampu melihat Kristus dalam segala sesuatu, dan “melakukan perjalanan pulang” sebagaimana dilakukan Maria dan menerima-Nya dengan sukacita?

II. Peristiwa-peristiwa Terang

1. Yesus dibabtis di Sungai Yordan. (Mat. 3:16-17)

Air senantiasa mendapat perhatian yang penting dalam Kitab Suci dan kehidupan beriman kita. Dia sebagai simbol pembaruan, hidup baru dan membersihkan dosa. Dengan meneladan Kristus dalam Sakramen Pembabtisan, kita pun mengikuti keutamaan sikapNya dalam upaya mengusahakan hidup yang sepadan dengan-Nya.

(a). Coba arahkan pikiran pada keajaiban air yang sederhana: “kemurniannya”, “kebersihannya”, nyanyian St. Fransiskus Assisi dalam Kidung Segenap Ciptaan: “Terpujilah Engkau, Tuhanku karena Saudari Air, dia besar faedahnya, selalu merendah, berharga dan murni”. Apakah kita menyadari  betapa berharga dan pentingnya air bagi kita, atau menerimanya begitu saja? Bagaimana kita menilai sikap atau perilaku kita terhadap air?

(b). Kita sebagai manusia, paling tahu bahwa planet kita ini terdiri dari air. Ketika Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus, ternyata Ia secara fisik pun terbentuk  dari kandungan air.

2. Yesus menyatakan diri-Nya dalam pesta pernikahan di Kana (Yoh. 2:11)

Atas desakan Maria, Yesus menyatakan mukjizatnya yang pertama dengan mengubah air menjadi anggur dalam pesta perkawinan. Kita tahu bahwa atas pertolongan dan permohonan Maria, kitapun dapat diubah oleh Yesus secara spiritual dan jasmani.

(a). Dengan merenungkan keajaiban air yang kurang begitu dihargai, kita dapatkan sikap dan cara pandang yang rapuh secara manusiawi yang sering terlihat dalam sikap dan perilaku tidak hormat pada sumberdaya yang amat berharga ini. Di banyak tempat, orang tidak memiliki akses pada air bersih dan air minum, suatu persoalan yang memprihatinkan yang dikemukan oleh Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si, di mana dia menempatkan perhatiannya yang amat khusus terkait “Isyu Air” dan bagaimana berhadapan dengan arus perubahan iklim yang tidak menentu yang melanda kaum miskin. Bayangkanlah orang harus berjalan ratusan kilo jauhnya setiap minggu untuk memperoleh air minum, jual beli sungai-sungai dalam bisnis, pencemaran aliran sungai, lautan dan samudera yang tidak mungkin dapat kita lihat dan alami. Bagaimana kita memohon kepada Maria melalui kekuatan Yesus Kristus agar membantu mengubah sistem pengaturan air agar tidak kotor dan tidak tercemar demi kelayakan dan kenyamanan hidup ini?

3. Yesus memberitakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan. (Mat. 4:17, 23)

Yesus sering berbicara dengan para murid dan pengikutNya dalam perumpamaan mengenai datangnya Kerajaan Allah. Ingat ketika Dia menghendaki penerimaan Kabar Gembira dengan sikap seperti seorang anak kecil, berbicara dengan bahasa yang sederhana, ceritera pendek; ingat juga kebiasaan Yesus tatkala memakai gambaran alam, petani, para pekerja, binatang sehingga pesannya dapat dimengerti.

(a). Pikirkanlah perumpamaan-perumpamaan mana yang digunakan Yesus dalam hubungan dengan alam: penabur dan benih, ilalang di antara gandum, benih yang tumbuh secara diam-diam, kisah tentang biji sesawi dan masih banyak yang lain. Melalui perumpamaan-perumpamaan ini, Yesus menghendaki adanya pemahaman yang lebih baik tentang Kerajaan Allah; olehnya dengan biasa memakai alam sebagai sarana untuk berbicara dengan kita, sebenarnya mau ditunjukkan dalam banyak kesempatan bahwa alam sebagai cerminan kemuliaan Kerajaan Allah.

(b). Bagaimana kita memahami dengan lebih baik “cerminan” Allah atau sebagaimana dalam sebutan para pemikir besar dengan “Buku Ciptaan”? Seberapa sering kita membaca dan menghubungkan  apa yang tertera dalam Kitab Suci dengan apa yang telah ditulis Tuhan dalam Buku Ciptaan?

4. Yesus menampakkan kemuliaan-Nya. (Mat. 17:2,5)

Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes ke gunung yang tinggi untuk berdoa. Di sana Yesus berubah rupa dan kemuliaanNya memenuhi para muridNya. Suara Allah datang dari dalam awan, bunyinya “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepadaNyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia”.

(a). Mengingat bahwa Petrus belum sepenuhnya memahami situasi; menyaksikan Yesus bersama Musa dan Elia, dirinya diliputi ketakutan dan memohon agar mereka diperkenankan untuk mendirikan kemah bagi Kristus dan dua nabi itu. Dia berbicara demikian karena tidak tahu apa yang harus dikatakannya saat menyaksikan kejadian yang tak terduga-duga itu. Sering, tindakan kita dikendalikan oleh keterpaksaan, tanpa memikirkan risiko yang kita hadapi atau dampak di sekitar kita atau bagaimana memahami cara-cara sederhana penyingkapan kemuliaan Allah. Kadang kala kita terlalu tergesa-gesa melewati hari-hari hidup tanpa berhenti menyadari bahwa Kristus senantiasa hadir kapan dan di mana saja, dan bahwa kehadiran itu baik adanya.

(b). Tahukah kita bahwa sikap yang tergesa-gesa itu tidak hanya sekedar ungkapan kebodohan tetapi juga mengikis kedekatan relasi dengan Tuhan, sesama serta alam semesta? Mungkinkah kita mengambil waktu senggang untuk perlahan-lahan memikirkan tentang bagaimana kita menjadi lebih bermanfaat daripada mendambakan penghargaan?

5. Yesus menetapkan Ekaristi. (Mrk. 14:22-24)

Ekaristi menjadi sumber dan puncak kehidupan beriman Katolik. Kita menyadari bahwa Kristus senantiasa hadir di mana saja, tetapi kehadiranNya yang paling nyata ada dalam Sakramen Mahakudus.

(a). Mengingat kalimat yang dikatakan imam di hadapan Tuhan saat mempersembahkan Ekaristi: “Terpujilah Engkau, ya Tuhan, Allah semesta alam, sebab dari kemurahan-Mu kami menerima roti dan anggur yang kami persembahkan ini. Inilah hasil dari bumi dan dari usaha manusia yang bagi kami akan menjadi makanan dan minuman rohani”. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan Allah semesta alam telah menyiapkan bagi kita kebutuhan spiritual dan bahwa Tuhan menjamin keselamatan tubuh dan jiwa kita.

(b). Sebelum roti dan anggur diubah menjadi tubuh dan darah Kristus, terlihat unsur-unsur alam yang nyata yakni: roti tak beragi dan anggur. Di sana terjadi proses demi proses untuk memperoleh roti dan anggur, sebagaimana kita mengucap syukur karena menyadari bahwa buah usaha kita tersaji di meja makan untuk makan siang atau malam, demikian halnya roti dan anggur Ekaristi dihidangkan dan dirayakan di atas “altar alam” (St. Yohanes Paulus II).

(c). Ekaristi merupakan sakramen inisiasi, dan meskipun demikian kita tetap dapat menerima Komuni berkali-kali dalam seminggu. Setiap saat kita merayakan, membaharui janji babtis dan krisma dan menerima rezeki rohani yang perlu bagi pertumbuhan iman dalam hidup sehari-hari. Mungkinkah kita menumbuhkan kedekatan dengan Yesus setiap kali kita menerima Komuni dan merenungkan misteri ini.

III. Peristiwa-peristiwa Sedih

1. Yesus berdoa kepada Bapa-Nya dalam sakrat maut. (Luk. 22:39-42)

Yesus mengetahui bahwa saat-Nya untuk mengalami penderitaan dan wafat sudah semakin mendekat, maka ditinggalkanlah para pengikutNya untuk berdoa di Taman Getsemani. Ia meninggalkan para sahabatNya yang begitu dicintai untuk mengalami keheningan dan penghiburan di dalam alam; di sana Dia mampu menerima penghiburan dengan kehadiran malaikat.

(a). Apakah kita para pengikut Kristus, mampu mencari Allah dan mencari pelipur duka lara dari Allah di dalam alam? Dapatkah kita menemukan penghiburan dari Allah melalui kehadiran segala sesuatu dalam hidup, setiap peristiwa yang meneduhkan di antara bunga warna-warni, pohon-pohon dan sayur-mayur?

(b). Renungkanlah Kitab Kejadian 2:15: “Tuhan Allah mengambil manusia dan menempatkannya di tanam Eden untuk mengusahakan dan menjaganya. Manusia mengawali persekutuannya dengan Allah di Taman Eden, dapatkan kita menghidupkan kembali suasana itu dalam cita rasa batiniah dan spiritual?

3. Yesus didera. (Mat. 27:24-26)

Yesus diseret dan diikat pada tiang batu, dengan kejam Dia dilucuti dan dicambuk. Penderitaan hebat dialamiNya, termasuk mereka yang berjuang untuk mengakhiri peristiwa yang mengerikan yang dialami Yesus sungguh tak dapat dielak.

(a). Apakah kita menolak berdiri bersama Allah dalam solidaritas perlindungan keutuhan ciptaan Tuhan?

(b). Kembali kita menyadari tanggungjawab kita berhadapan dengan penindasan, penganiayaan dan keputusasaan. Bila kita berhadapan dengan penderaan, apa yang mesti kita pilih untuk dilakukan? Siapa yang mengawali penganiayaan dan pencambukkan Yesus, siapa yang hendak melarikan diri atau haruskah kita berupaya untuk melindungi martabat-Nya? Apa tanggungjawab kita tatkala menyaksikan ciptaan Tuhan saat ini, sejauh mana kerusakan oleh karena penderaan dunia yang sering dilawan ketika berhadapan dengan kepentingan penguasaan? Bahwa tidak bisa dipungkiri, manusia hidup dalam lingkaran kemiskinan baik dalam negeri maupun luar negeri - sedikit banyak menyumbang pada perubahan iklim tetapi mereka sepertinya tak berdaya dalam menyesuaikan diri dan menanggapinya. Sebagaimana Yesus, mereka pasrah pada setiap pelanggaran dan belum pernah dihukum  karena tampaknya tak ada persoalan.

3. Yesus dimahkotai duri. (Mat. 27:29-30)

Dalam kerendahan hati Yesus, sebuah ayaman mahkota duri dikenakan pada kepalaNya. Barangkali ini suatu lambang penghinaan bahwasanya kita dapat saja mengingkari kebaikan sejati antara sesama manusia dan dunia yang telah diciptakan Allah dengan menatanya seturut kehendak dan maksud kita.

(a). Apakah kita memiliki kecenderungan untuk melihat alam di sekitar kita sebagai sesuatu yang dapat digunakan seturut keinginan kita sendiri? Apakah kita melecehkan segenap ciptaan hingga titik kehancuran?

(b). Meskipun makhkota duri dimaksudkan untuk merendahkan dan menyengsarakan Yesus, Ia sesungguhnya dimahkotai dalam kemuliaan yang kemudian menguatkan iman dan kesaksian kita. Segala makhluk sesungguhnya memberi kesaksian tentang kemuliaan Allah. Sebagaimana ditunjukkan oleh Paus Fransiskus: “Bumi rumah kita, mulai makin terlihat sebagai sebuah tempat pembuangan sampah yang besar” (LS. 21). Bagaimana kita menata planet ini dengan sekali lagi merenungkan kemuliaan Allah?

4. Yesus memanggul salib-Nya ke Gunung Kalvari. (Yoh. 19:17-18)

Terdapat banyak refleksi yang mendalam dan kaya dalam peristiwa sedih yang keempat ini. Kita menyaksikan Yesus dalam seluruh kelemahan manusiawi-Nya, kita melihat Dia tersandung, berjuang dan terjatuh, kita saksikan kekejaman para penguasa dunia yang berujung kekejian. Tetapi kita juga menyaksikan aksi-aksi sederhana penuh harapan dalam sikap Simon dari Kirene dan Veronika yang menguatkan Yesus untuk bangun kembali setelah jatuh. Sikap-sikap seperti ini mengundang kita untuk meneguhkan perjalanan spiritual kita dalam sikap saling tolong menolong mengatasi setiap kerapuhan.

(a). Peristiwa ini mengajak kita untuk insyaf tentang bagaimana kita meringankan penderitaan Kristus sehari-hari melalui kebaikan-kebaikan yang sederhana. Setiap saat kita dapat menampilkan sikap apa saja yang meskipun kelihatan kecil dan sederhana, kita sama seperti Simon dan Veronika dalam memanggul salib Yesus dan mengusap wajah-Nya yang berlumuran darah. Aksi-aksi seperti memungut sampah yang mencemari lingkungan, menanam pohon di kebun, memperlakukan para tunawisma (pekerja) secara manusiawi dengan senyuman atau sapaan hangat, memadamkan lampu yang tak digunakan, semuanya itu membantu kita untuk secara utuh menghadirkan kemuliaan Yesus yang lebih sempurna di dalam dunia.

5. Yesus wafat di salib. (Luk. 23:44-46)

Kristus Tuhan kita wafat di salib. Peristiwa dukalara yang menyayat hati, ini suatu kenangan yang kapan saja dapat dialami tatkala menatap salib, merayakan Ekaristi, atau merenungkan peristiwa, semuanya itu tentu mengerikan tetapi merupakan bagian penting dari sejarah keselamatan kita.

(a). Apa yang pertama kali dibayangkan saat Anda merenungkan wafat Yesus? Seperti apa suasana di sekitarNya? Bisa saja kita membayangkan tentang kegelapan, badai gemuru saat para pengikutNya meratapi wafat-Nya dan yang lainnya menghojat.

(b). Ketika kita “menyalibkan” Kristus dengan sikap berpaling diri dari Kerajaan-Nya, kita sama saja dengan mengundang badai gemuruh. Kita dipanggil untuk mengasihi dan memelihara ciptaan Tuhan  dalam kebaikan-kebaikannya yang tak terhingga.

(c). Ingatlah juga akan bumi yang bergemuruh dan menggoncang, yang mengerikan bagi orang-orang yang menyaksikan peristiwa penyaliban. Sebagaimana Kristus yang mengerang kesakitan, demikian halnya bumi, bumi mengerang kesakitan sebagaimana Kristus.

IV. Peristiwa-peristiwa Mulia

1. Yesus bangkit dari antara orang-orang mati. (Luk. 24:1-5)

Peristiwa yang paling mulia dari semua mukjizat. Kristus Tuhan kita bangkit dari mati.

(a). Atas desakan para prajurit, Pilatus menyetujui penjagaan di sekeliling makam untuk memastikan bahwa  tak seorang pun dapat mencuri jenazah dan memberitakan bahwa Yesus telah bangkit. Namun, seorang malaikat surga turun, terjadilah gempa bumi dan batu terguling, para penjaga lari ketakutan. Sekali lagi kita melihat bumi bersaksi tentang kemahakuasaan Tuhan dalam peristiwa penting yang tiada taranya dalam sejarah keselamatan kita.

(b). Dalam Injil Yohanes, Maria Magdalena mula-mula mengira Yesus yang bangkit itu sama dengan penjaga taman. Mampukah kita melihat wajah Yesus dalam segala sesuatu di sekitar kita? Mampukah kita menghargai orang-orang yang terpanggil untuk mengelola lahan, terlebih khusus ketika kita merasa teramat berat untuk meraup manfaat darinya?

2. Yesus naik ke surga. (Luk. 24:50-52)

Yesus meninggalkan para muridNya dan mengangkasa menuju surga. Bahkan sebelum meninggalkan mereka, Ia menjanjikan bahwa Roh Kudus akan menuntun mereka hingga akhir zaman dan bahwa Dia tidak akan pernah menghilang.

(a). Bayangkan apa yang terjadi sebagaimana pengalaman para murid ketika Yesus pergi dari dunia, bagaimana mereka harus ditinggalkan, bagaimana mereka harus mengalami kehilang segalanya, bagaimana kegundahan yang mereka alami. Setelah beberapa saat, dua orang malaikat menampakan diri kepada mereka dan berkata: “Hai orang-orang Galilea, mengapa kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang diangkat ke surga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga”, (Kis. 1:11). Walaupun Kristus meninggalkan mereka (secara pribadi), mereka tetap berkarya.

(b). Apakah kita aktif dalam upaya menghadirkan kerajaan Allah dalam dunia kita? Apakah kita siap menerima tanggungjawab yang diberikan Yesus kepada kita? Sehubungan dengan tugas kita sebagai pemelihara ciptaan, apakah kita tergugah untuk menjaga alam semesta di sekitar kita? Atau secara sederhana menatap langit dengan harapan bahwa perubahan akan terjadi di sekitar kita melalui orang lain atau tanpa melalui kita?

3. Roh Kudus turun atas para rasul. (Kis.2:1-4)

Hari kelahiran Gereja, saat kita merayakan Pentakosta dan pencurahan Roh Kudus kepada para pengikut Yesus yang sedang berkumpul bersama. “Terdengar bunyi dari langit seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk, dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti lidah api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing”, (Kis. 2:1-4).

(a). Meskipun  orang-orang itu berasal dari tempat yang berbeda-beda di seluruh dunia, namun sesudah Roh Kudus memenuhi  mereka semua, mereka sanggup mengerti satu sama lain tanpa kesamaan bahasa. Kita adalah bagian dari Gereja universal (yang dalam bahasa Yunani berarti Katolik) yang sudah mulai terbentuk sejak zaman para rasul. Permenungan tentang Pentaskosta juga menyadarkan kita akan panggilan atas misi universal, pemberintaan Injil serta tanggungjawab yang telah dipercayakan kepada kita terkait pemeliharaan ciptaan.

(b). Setelah menerima pencurahan Roh Kudus, para murid dimampukan untuk mewartakan Injil dan meluaskan kabar gembira, hal yang belum pernah terjadi mengingat mereka berada di bawah sistem kehidupan yang amat membatasi mereka dalam ruang gerak pewartaan. St. Petrus yang menyangkal mengenali Yesus, segera sesudah peristiwa Pentakosta berkhotbah bagi mereka yang berkumpul untuk mendengarkannya dan membabtis 3.000 orang dalam sehari (Kis. 2:41). Orang-orang sakit disembuhkan, ketakutan dilampaui, dan bahwa lidah api telah memenuhi seluruh dunia pada hari ini, diawali dengan korban tunggal di Kalvari, diawali dengan perendahan diri. Insyaflah bahwa kita dipanggil untuk berkarya dan bahwa segala sesuatu menuntun kita agar dapat terus dirasuki oleh Roh Kudus yang telah kita terima.

(c). Roh Kudus menyatakan diri dalam bunyi tiupan angin dan dalam wujud api, dua elemen yang sederhana namun penuh daya. Sebagimana Fransiskus Assisi memuji keluhuran dan kemuliaan Allah melalui Kidung Segenap Ciptaan, kita pun perlu menyadari kekuasaan Allah yang hadir dalam “Saudara Api” dan “Saudara Angin.”

4. Maria diangkat ke surga. (Why. 12:1)

Meskipun pokok misteri ini tak ditemukan dalam Kitab Suci tetapi tetap mengakar dalam tradisi iman kita. Bunda kita Maria, di akhir hidupnya di dunia, diangkat raganya ke surga.

(a). Laudato Si memasukkan refleksi tentang Maria dalam hubungannya dengan lingkungan hidup: “Maria, Bunda yang merawat Yesus, sekarang merawat dunia yang terluka ini dengan kasih sayang dan rasa sakit seorang ibu. Sama seperti hatinya yang tertusuk telah meratapi kematian Yesus, sekarang dia merasa kasihan dengan penderitaan orang-orang miskin yang disalibkan dan makhluk-makhluk dari dunia yang dihancurkan oleh kuasa manusia. Sepenuhnya telah berubah rupa, dia hidup dengan Yesus, dan semua makhluk menyanyikan keelokannya”, (LS. 241). Walaupun dia tidak terlalu lama secara fisik hadir di dunia, seperti puteranya Yesus, dia melanjutkan tugas pemeliharaan dan meratapi dunia yang ditinggalkannya dan kehancuran yang menimpa segala makhluk.

(b). Sejumlah tradisi menyatakan bahwa dalam ketidakhadiran dirinya, Maria meninggalkan di sekitarnya keharuman bunga dan nyanyian pujian burung-burung. Maria, model kemurnian dan rahmat meninggalkan di sekitarnya gambaran alam yang nyata oleh karena kebajikan-kebajikannya yang mengagumkan.

5. Maria dimahkotai di surga. (Luk. 1:46-47)

Maria, diangkat raganya ke surga, dimahkotai oleh Allah Tritunggal sebagai Ratu. Bunda Pangeran Perdamaian dan Raja Para Raja, Maria terus membimbing kita, anaknya.

(a). Maria, dengan mengatakan “ya”, menyanggupi untuk menjadi ibu seluruh umat manusia melalui kemuliaan Kristus, dan melalui peristiwa ini dia menyandang gelar sebagai ratu segenap umat manusia. Dalam bahasa St. Fransiskus Assisi, kita perlu memuji “Saudari Ibu Pertiwi” yang “menyuap dan mengasuh kami”. Maria, dalam tingkatan spiritual pun menjadi pengantara rahmat Allah. Apakah kita mampu menghargai dan menghormati alam ini? Kita adalah anak Maria dan anak Ibu Bumi, mendambakan hidup dalam kasih dan penghormatan.

Contact Form

Name

Email *

Message *