HEADLINE NEWS

Hutan Bukan Hanya Kayu


Satu Pohon Dijaga = Nafas Untuk 2-3 Manusia. Hutan dan manusia adalah sebuah untaian proses hidup-menghidupi antara dua komponen sumberdaya yang memberikan arti kehidupan seutuhnya. Begitu pentingnya fungsi hutan, sehingga masyarakat sejak dahulu sampai sekarang menjadikan hutan sebagai bagian dari kehidupan. Artinya, bahwa hutan dan masyarakat di sekitarnya tidak mungkin dipisahkan. Sejak dahulu kala pada saat interaksi antara sumberdaya alam dengan manusia masih bersifat lokal, masyarakat secara mandiri menentukan dan mengatur proses hidup menghidupi antara alam dan manusianya. Hutan dalam arti kata seluruh isinya dimanfaatkan oleh manusia dalam kehidupannya sehari-hari, demikian pula manusia mengembalikan kepada hutan dan alam apa yang mereka ambil atau peroleh dari padanya sehingga tercipta simbiosis mutualistis. Salah satu bukti eratnya hubungan sosial-budaya antara manusia dan hutan adalah masih berlangsungnya upacara adat yang berkaitan dengan pelestarian hutan atau masih berlangsungnya upacara mohon turun hujan, atau persembahan setelah panen.

Tuhan dan Alam amat bijak dalam menyediakan seluruh kebutuhan hidup manusia mulai dari kebutuhan tempat berlindung bersama keluarganya serta kebutuhan hidup sehari-hari. Kayu tempat bernaung yaitu rumah sedangkan hewan dan tumbuhan lainnya sebagai bahan pemenuhan kehidupan sehari-hari. Pemali sebagai aturan yang dianut dan ditaati oleh masyarakat mengatur hubungan hak dan kewajiban antara manusia dengan manusia dan hutan sehingga segala sesuatunya berjalan dalam suasana keakraban antara alam dan manusianya.

Kayu dipandang sebagai tempat berlindung baik oleh manusia, hewan dan tumbuhan lainnya yang berada di bawah tegakan sehingga pemanfaatannya sangat lestari. Terjadilah hubungan antara unsur alam yang langsung dan secara terus-menerus dalam proses hidup-menghidupi antara masyarakat dengan hutan.

Kondisi ini mulai berubah sesuai dengan perkembangan pembangunan  dimana interaksi bukan lagi bersifat lokal tetapi sudah banyak intervensi dari manusia berupa eksploitasi yang berlebihan demi pemenuhan kebutuhan ekonomi. Sebagaimana manusia, hutan pun memimiliki keterbatasan daya dukung. Hutan memerlukan sentuhan-sentuhan tertentu berhadapan dengan perkembangan kebutuhan hidup manusia. Diperlukan usaha sungguh diantara para pengelola untuk tidak saja melakukan rehabilitasi penanaman pohon kayu tetapi juga rehabilitasi dan konservasi ekosistem.

Paradigma lama yang memfokuskan konservasi, rehabilitasi dan reboisasi hanya pada "timber forest products" harus ditinggalkan dan dibangun paradigma baru yaitu konservasi, rehabilitasi dan reboisasi harus menyangkut hutan secara utuh dalam arti kata hasil hutan bukan kayu merupakan salah satu komponen pokok. Sehingga dengan demikian tercipta pembangunan kehutanan yang berpihak kepada rakyat.





Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *