HEADLINE NEWS

Aku Mati Karena Kamu (Perumpamaan tentang Pupuk dan Pestisida)


Pak Yohanes menanam sayur-sayuran di kebun dekat sungai. Untuk mempercepat pertumbuhan sayur-sayuran dan meningkatakna kesuburan tanahnya, ia memakai pupuk Urea. Ada sejumlah kumbang kecil memakan sayur-sayuran untuk kelangsungan hidupnya. Meskipun kumbang-kumbang itu hanya menggit sayur-sayuran itu dalam jumlah kecil, namun pak Yohanes selalu merasa terganggu oleh kehadiran kumbang-kumbang itu. Ia pun membeli sekaleng pestisida dari toko. Pestisida itu disemprotkan pada semua sayur-sayuran yang ada di kebunnya. Setiap kali kumbang mekanan sayuran-sayuran, kumbang itu pun menghabiskan satu tetes racun yang ada pada sayur-sayuran. Ini cukup untuk embuat kumbang-kumbang kecil itu mati. Ternyata tidak hanya kumbang yang teracuni, tetapi cairan pestisida itu mengalir turun ke akar sayur dan menyatu dengan pupuk urea sehingga serangga-serangga penyubur dalam tanah mengalami kematian yang sangat mengenaskan.

Lewatlah juga di tempat itu sejumlah serangga predator yang sangat menyukai kumbang-kumbang kecil. Tanpa menunggu, serangga-serangga itu memakan kumbang-kumbang yang berada di sayur-sayuran pak John. Setiap mereka makan satu kumbang, serangga predator itu menghabiskan setetes racun yang ada dalam tubuh kumbang. Semakin banyak kumbang yang dimakan, semakin pula racun yang ditelan sehingga perlahan-lahan serangga predator itu sakit dan mati. Ketika angin berhembus kencang di kebun itu, serangga-serangga yang sudah mati itu ikut terbawa masuk sungai. Di sungai itu hiduplah segerombolan ikan kecil yang meliuk-liuk mencari makanan. Di antara ikan-ikan kecil, ada juga dua ekor ikan yang besar. Rejeki-rejeki!!! Ikan kecil itu dengan senang hati melahap serangga-serangga itu. Tetapi sial, serangga-serangga itu mengandung racun. Itu berarti setiap kali ikan memangsa satu ekor serangga, ia juga menelan 4 tetes racun. Alhasil, ikan-ikan kecil itu terganggu perutnya. Akhibatnya mereka sangat lambat untuk berenang. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh dua ekor ikan yang besar yang sedang kelaparan. Dengan mudah tiap ikan besar memakan dua ikan kecil yang mengandung 4 tetes racun di dalamnya.

Siang tak disangka: setiap ikan besar menelan 8 tetes racun. Ini tidak cukup untuk membuat ikan-ikan besar ini sakit dan mati, namun sangat terganggu pertumbuhan dan sistem reproduksinya (pengembanganbiakan).

Suatu senja yang cerah Pak Yohanes menuju ke pinggir sungai ingin memancing ikan. Alangkah gembira hatinya ketika dengan cepat dia memancing ikan. Alangkah gembira hatinya ketika dengan cepat dia menangkap kedua ikan besar yang ada di sungai itu. ia segera berlari menangkap kedua ikan besar yang ada di sungai itu. ia segera berlari-lari menuju ke rumah dan membakar ikan-ikan itu. Betapa lezat dan nikmatnya ia menangkap ikan-ikan itu. Sungguh, tiap ikan mengandung 8 tetes racun di dalamnya, sehingga tak disadari ia telah menelan 16 tetes racun ke dalam tubuhnya. Ternyata, 16 tetes racun ini berasal dari racun yang ia semprotkan di kebun sayur beberapa waktu yang lalu. 16 tetes racun ini telah membuat Pak John perlahan-lahan menderita sakit, dan akhirnya meninggal dunia. Siapa yang salah?

[Keterangan: huruf tebal menunjukkan peran-peran yang harus dimainkan oleh para siswa ketika cerita itu dibacakan].
Cerita diambil dari DCFRN, Package 36, script 4 dan diadaptasi.

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *