HEADLINE NEWS

Persaudaraan Semesta


Foto: Ekopastoral Fransiskan melakukan Konservasi Hutan dan Air bersama Masyarakat Adat Kampung Timbang, Cibal, Manggarai.

Semesta bukanlah suatu batas, juga bukan fatamorgana. Semesta adalah realitas tak terukur, tak masuk dalam skala peta dunia, tetapi merupakan realitas integratif. Sulit diingkari keberadaan dan pengalaman akannya, karena semesta merangkul segala sesuatu, di mana dunia dan manusia mungkin hanya seperti "setitik air pada pinggir timba".

Keterbatasan manusia menemukan konteksnya dalam kesemestaan. Semesta menjadi suatu yang niscaya, sementara manusia terkurung dalam kesumpekan ruang dan waktu. Kendati demikian, manusia tetaplah suatu subyek pelaku sejarah dan agen komunikatif. Dia menyadari diri dan keberadaannya sebagai bagian utuh dari kesemestaan, dan tanpa itu (semesta) tak terbayangkan keberadaan, ruang dan rentang waktu hidup manusia.

Menjadi subyek bukanlah segalanya bagi manusia. Dia tetaplah rapuh dan bahkan paling tak berdaya. Gagasan teologi penciptaan (Kristiani) menempatkan dia pada keunggulan dibandingkan dengan makhluk ciptaan lainnya. Keunggulan itu tetaplah tidak tunggal dan absolut, tetapi relatif dan relasional. Dia adalah citra Pencipta, tetapi bukan Pencipta. Dia tetap ciptaan, kendati setumpuk keunggulan.

Keunggulan itu hanya dapat dipahami dalam korelasi dengan ciptaan lainnya, karena di sanalah si manusia subyek menemukan dan menyadari dirinya.  Dalam eksistensi yang korelasional, manusia berelasi,  maka dia ada. Kesadaran diri adalah hal yang relasional. Yang rasional, menjadi bermakna berkat eksisitensi yang relasional.

Semesta sebagai ada tercipta adalah tenunan ciptaan dalam tangan Maha Penenun, sehingga  segenap ciptaan menjadi suatu tenunan menyatu tanpa jahitan. Di situlah manusia mengaktualisasikan diri sebagai bagian utuh tenunan, yang akan ikut tercabik ketika tenunan semesta itu digerogoti. Penggerogotan tenunan semesta terutama erat terkait dengan tindakan dan pola laku manusia.

Kebenaran sinyalemen ini mulai terkuak saat ini. Pelbagai bentuk kerusakan alam semesta nyaris tak ada yang tak terhubungkan dengan tindakan dan pola laku manusia. Persoalan pokok bukan hanya perkara salah urus manusia, tetapi yang lebih hakiki adalah kesadaran diri yang tidak tepat. Manusia mendaulat diri sebagai penguasa yang secara serampangan memperlakukan ciptaan lainnya secara fungsional dalam semangat konsumeris (CA 37). Salah urus ciptaan, lahir dari kesadaran diri yang tak tepat.

Seruan Gaudium et Spes, terasa amat relevan saat ini. Setiap manusia membawa dalam dirinya keluhuran Pencipta. Setiap ciptaan bernilai pada dirinya dan memiliki otonomi dalam konteks relasional dan di hadapan Pencipta. Kata-kata Gaudium et Spes pantas dikutip di sini, Sebab berdasarkan kenyataannya sebagai ciptaan segala sesuatu dikarunia kemandirian, kebenaran dan kebaikannya sendiri, lagi pula menganut hukum-hukum dan mempunyai tatanan susunannya sendiri. Dan manusia wajib menghormati itu semua, dan mengakui metode-metode yang khas bagi setiap ilmu pengetahuan dan teknik. Maka dari itu penyelidikan metodis di semua bidang ilmu, bila dijalankan secara sungguh ilmiah  dan menurut kaidah-kaidah kesusilaan tidak pernah akan sungguh bertentangan dengan iman, karena hal-hal profan  dan pokok-pokok iman berasal dari Allah yang sama (36).


Foto: Ibadat Ekologi perutusan pohon-pohon untuk hidup di hutan.

Dengan demikian tak ada penguasaan menurut hasrat konsumeris manusia yang bermuara pada eksploitasi ciptaan. Ketika menyuarakan kemandirian, kebenaran dan kebaikan setiap ciptaan, Gereja menegaskan respek dan pengakuan, dari pihak manusia, akan nilai ciptaan pada dirinya. Ketergantungan manusia semakin nyata tersingkap, karena dia  hanya dapat hidup dari dan oleh ciptaan lainnya. Mengembangkan gagasan dan semangat persaudaraan semesta menjadi sesuatu yang niscaya. Ciptaan-ciptaan lainnya dapat hidup, bergerak dan ada, kendati tanpa manusia. Sulit membayangkan sebaliknya! St. Fransiskus benar ketika menyapa setiap ciptaan adalah saudara dan saudari, yang menopang dan memberi hidup. Itulah keutuhan dalam suatu spirit persaudaraan semesta.

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *