HEADLINE NEWS

Pertanian Organik : Menuju Solidaritas Dan Kemandirian


Latar Belakang

Banyak orang sering salah memahami apa itu pertanian organik. Yang sering terjadi, pertanian organik dipersempit ke pemahaman tentang pupuk dan pestisida organik. Padahal itu hanya sebagian kecil dari gerakan pertanian organik. Pertanian organik tidak identik dengan pupuk organik dan pestisida organik. Pemahaman yang sempit ini bisa mengancam gerakan yang sesungguhnya dan mengakhibatkan dampak negatif yang tidak jauh dari dampak praktik pertanian konvensional dan Revolusi Hijau. Karena ada satu pemahaman yang juga sering keliru mengenai penggunaan pestisida organik.

Pertanian organik sebenarnya bukan hal baru: nenek moyang kita sudah lama menerapkannya. Sejak terjadinya Revolusi Hijau, sering kali promotor pertanian konvensional mempertanyakan kemampuan pertanian organik dalam menyediakan makanan untuk manusia di seluruh dunia. Padahal sudah berabad-abad pertanian organik terbukti mampu memenuhi kebutuhan manusia secara terus menerus. Sedangkan pertanian konvensional baru diterapkan beberapa puluh tahun dan dalam waktu singkat itu sudah mengakhibatkan bermacam-macam dampak negatif. Oleh karena itu perlu dipertanyakan: “Apakah pertanian konvensional mampu memenuhi kebutuhan manusia di beberapa abad ke depan?”

Seringkali petani mulai tertarik dengan pertanian organik karena kepentingan ekonomis atau pertimbangan kesehatan. Tetapi sangat penting juga  menyadari peran kita dalam pelestarian lingkungan, alam, tanah, air, udara, tanaman dan margasatwa.

Lahan Basah di Ekopastoral Fransiskan - Area budidaya padi secara organik.

Pemikiran Dasar Pertanian Organik

Apa itu pertanian organik? Dari pelbagai macam istilah yang dipakai dalam dunia “pertanian organik”, secara sederhana pertanian organik  adalah pola pertanian yang mendekatkan diri pada cara kerja alam demi kemandirian dan keberlanjutan kehidupan segenap ciptaan. 
Untuk memperjelas definisi tersebut, terdapat beberapa prinsip yang perlu dipahami:

1. Kita Belajar Dari Alam

Sejak penciptaan sampai kini, alam bisa bertahan dan berkembang dengan sendirinya. Alam sudah berhasil mandiri dengan model hubungan yang layak dipelajari supaya diikuti. Jadi guru yang paling tepat untuk kita adalah alam itu sendiri.

Contoh: pohon-pohon di hutan tidak disuburkan oleh manusia tetapi mampu menyuburkan  diri sendiri. Pohon bertumbuh sampai tinggi, lalu daunnya jatuh dan menjadi pupuk/memberi makanan untuk dirinya. Dari sikap pohon inilah, kita belajar, misalnya untuk mengendalikan limbah tanaman ke tanah, seperti jerami yang dikembalikan ke sawah untuk menyuburkan tanaman padi berikutnya. Hal lain yang bisa dipetik dari alam, yakni di hutan tidak ada orang yang menggemburkan tanah tetapi tanah tetap gembur berkat kerja cacing dan makhluk-makhluk lain dalam tanah. Maka pertanian organik meniru proses ini dengan menghidupkan cacing-cacing dan makhluk lain yang hidup dalam tanah agar membantu/memperbaiki struktur tanah.

Animasi tentang bank benih di Lahan Kering Ekopastoral Fransiskan -Area budidaya hortikultura secara organik.

2. Saling Menguntungkan

Di alam, model hubungan antara semua makhluk adalah saling menguntungkan. Semua makhluk/unsure memberi dan menerima sesuatu.
Beberapa contoh:

(a) Ekosistem hutan, di mana manusia memberi CO2 kepada hutan dan hutan mengolahnya menjadi oksigen. Pohon memberi tempat sarang kepada burung dan burung member ciritnya menjadi pupuk (makanan) untuk pohon. Atau buah pohon dimakan burung dan kemudian burung membantu proses perkembangbiakan pohon tersebut karena biji disebarkan. Air member kehidupan kepada pohon, pohon menjaga sumber mata air, dll. 

(b) Padi – Berapa persen biji untuk kelangsungan hidup padi sendiri? Kurang dari 10%, yang dimakan tikus, serangga, pathogen dan terbanyak oleh manusia. Juga sperma atau serbuksari. Berapa juta harus diproduksi asal beberapa saja berhasil melanjutkan jenisnya. Setiap makhluk hidup begitu; mengadakan lebih banyak dari yang dibutuhkan oleh dia sendiri. Dan kelebihan itu direlakan untuk yang lain. Semacam kurban. Memang bukan kurban yang sukarela, karena tumbuhan, bintaang itu tidak bebas. Dirampas dari mereka. Memang dia rugi tetapi seluruhnya untung dan untuk jenisnya masih cukup, tidak sampai mati. 

Tetapi ada satu kekecualian, manusia: manusia mau ambil saja; ingin semua untuk dirinya sendiri; kalau yang lain untung karena dia, dia merasa rugi, manusia belum sadar akan mekanisme alam bahwa jika dia mengusahakan dan memelihara organism maka sebaliknya organisme menjaga dia. 

(c) Predator: petani organik memberi kehidupan kepada predator (tidak menggunakan pestisida), predator membantu petani untuk mengatasi hama yang merugikan petani.

(d) Pupuk alami: petani memberi makanan kepada tanah (limbah pertanian, kotoran ternak, pupuk, …), tanah memberikan hasil yang memuaskan. Dalam praktek pertanian, bagaimanakah kita menjaga hubungan yang saling menguntungkan itu? Bagaimana kita menciptakan lingkungan di mana semua makhluk/unsur dari alam bisa hidup dengan nyaman dan aman?

Animasi tentang Pupuk Organik di Rumah Pupuk Ekopastoral Fransiskan.

3. Kemandirian

Alam juga mengajarkan kita untuk mandiri. Petani perlu berusaha menciptakan lingkungan di lahannya supaya baik petani maupun tanah dapat mandiri. Misalnya: memanfaatkan bahan lokal, mengembalikan limbah pertanian  ke tanah, menghasilkan benih sendiri, menanam bermacam-macam tanaman untuk memenuhi semua kebutuhan, baik pangan maupun pupuk, pakan ternak, untuk mencarik bermacam-macam binatang/serangga, khususnya predator dan lain-lain. Petani mulai proaktif belajar supaya mampu mengatasi masalah/kesulitan dalam bertani; petani mampu melakukan analisa usaha taninya sendiri.

Bagaimana tanah dapat mandiri dan tidak perlu produk/bahan dari luar? Bagaimana petani dapat mengatasi persoalan seperti hama/penyakit tanpa intervensi dari luar (produk pabrik)? Dengan pola dan sistem tanam, pengendalian hama terpadu (misalnya dengan menggunakan predator dll.). Bagaimana petani bisa mandiri dan tidak bergantung terus menerus pada produk dari toko? dll. Agar petani dapat mandiri secara ekonomi, maka dia perlu membuat perencanaan, analisa usaha tani, strategi pemasaran.

Animasi tentang Konservasi hutan dan air di Balai Konservasi Ekopastoral Fransiskan. Konservasi sebagai upaya untuk menopang aktivitas pertanian secara berkelanjutan.

4. Keberlanjutan

Keberlanjutan yang dimaksud baik untuk alam, maupun untuk petani dan anak cucunya. Bagaiman alam bisa terjamin dengan semua kekayaannya dan bagaimana petani dapat mengerjakan lahannya dan mendapat hasil yang memuaskan secara terus menerus? Bagaiman petani dapat mewariskan lahan yang masih utuh dan menghasilkan kepada anak cucunya (dibandingkan dengan lahan yang makin kurus dan makin sulit untuk dikerjakan dan menghasilkan, akhibat dari pertanian konvensional/Revolusi Hijau)? Keberlanjutan juga dimaksudkan untuk mempertahankan martabat dari profesi petani (dan bukan untuk mempermiskin para petani atau menjadikan mereka buruh yang bergantung pada pengusaha).

Pertanian berkelanjutan dapat memecahkan beberapa masalah pertanian dan memelihara lahan. Pertanian berkelanjutan memerlukan perencanaan yang matang. Kita harus  menyelaraskan kebutuhan keluarga dengan kebutuhan tanah, air, udara dan bagian-bagian lain dari lingkungan alaminya. Tetapi ada keuntungannya: perencanaan yang matang akan menolong kita untuk menjamin hasil panen yang baik tahun ini dan tahun-tahun selanjutnya. Beberapa petani telah menerapkan pola pertanian untuk mendapatkanhasil / panen setinggi mungkin pada akhir musim tanam. Tetapi itu tidak menjamin bahwa mereka akan memperoleh hasil yang baik 2 atau 3 tahun ke depan. Pertanian berkelanjutan membutuhkan satu sikap yang berbeda. Pertanaian berkelanjutan berarti bahwa kita harus membuat keputusan mengenai apa yang terjadi pada pertanian, keputusan mengenai tamanan yang ditanam, dan bagaimana cara mengelola peternakan. Tidak ada apapun yang orang ain mesti putuskan untuk kita. 

Pertanian berkelanjutan membutuhkan rencana jangka panjang. Hal ini termasuk juga mengembalikan lagi ke dalam tanah apa yang sudah kita keluarkan. Bila kita bertani dengan cara ini, kita akan melihat keuntungan dari beberapa teknik yang digunakan orang tua dan nenek moyang dulu. Tetapi kita dapat menggunakan teknik-teknik lama tersebut dengan cara kita sendiri, dengan cara pandang modern dan ilmiah.
Berikut ini adalah beberapa teknik yang memberikan perlindungan terhadap lahan dan untuk saudara-saudara kita di masa depan. 

(a) Bagian penting dari pertanian berkelanjutan adalah melindungi lapisan atas tanah. Bila lapisan atas tanah dilindungi, maka tanah tidak akan mudah terbawa air hujan atau diterbangkan angin, dan tanah menyerap banyak air. Kita dapat melindungi lapisan atas tanah dengan menanam tanaman atau menyebarkan gulma yang sudah mati dan sisa-sisa tanaman di antara baris tanaman di permukaan tanah. Tanah sebaiknya ditutup atau dilindungi sepanjang waktu. Kita harus mengembalikan ke dalam tanah apa yang telah kita ambil, misalnya menambahkan pupuk kandang, kompos atau sisa-sisa tanaman ke lahan kita. Jika kita terus menerus mengeluarkan unsur hara tanpa mengembalikannya, tidak akan cukup unsur hara untuk tanaman berikutnya.

(b) Tanamlah bermacam-macam tanaman, dan jika memungkinkan ditambah beberapa ternak juga. Dengan cara ini kita memiliki lebih dari satu sumber penghasilan. Jika kita bergantung pada satu jenis tanaman untuk dijual, kita bisa mengalami kesulitan apabila terjadi sesuatu yang tak diduga-duga. Jika mempunyai bermacam-macam jenis tanaman untuk dimakan/dijual, apabila kita berhadapan dengan musim yang buruk, mungkin kita mengalami kerugian satua atau duda jenis tanaman. Tetapi semoga tanaman lain dapat  bertahan dan memberikan hasil yang banyak.

(c) Penggunaan pestisida: pestisida kimia mahal dan berbahaya untuk kesehatan kita. Ada cara-cara pengendalian hama yang lebih aman dan tidak begitu mahal yang dapat membantu kita untuk mengurangi penggunaan pestisida. Ingat bahwa tanaman yang sehat tidak membutuhkan banyak pestisida. 

(d) Ada dua kata yang perlu diingat bila kita bertani untuk masa depan, yaitu konservasi dan daur ulang. Cobalah untuk tidak membuang apa pun dan tidak membeli sesuatu yang baru jika dapat tersedia di lingkungan sendiri. Misalnya tak perlu beli benih baru setiap musim, bisa membuat dan menyimpan benih sendiri. Lihatlah sampah dengan cara pandang baru, misalnya gunakan ban bekas atau kaleng bekas sebagai tempat media tanam. Jadi kreatiflah.

(e) Pohon-pohon: ingatlah bahwa pohon-pohon yang sekarang kita gunakan dan nikmati ditanam oleh yang mengerjakan lahan sebelumnya. Kita dapat memberi kebahagiaan yang sama untuk generasi mendatang dengan menanam pohon dan mengganti pohon yang kita tebang.

Animasi konservasi bioteknis dan biofisik di Ekopastoral Fransiskan.

5. Pelestarian Keanekaragaman Hayati

Ini merupakan suatu bagian penting dari aspek keberlanjutan: pola hidup modern bertentangan dengan keberlangsungan keanekaragaman hayati. Betapa banyak keanekaragaman hayati yang hilang di negara-negara kaya akhibat dari modernisasi dan penyeragaman (dalam berbagai bidang: pola hidup, pola produksi dan konsumsi, pola berpikir, baru beberapa puluh tahun belakangan ini mereka sadar akan kerugian akhibat kehilangan keanekaragaman hahati tersebut. Apakah sekarang kita menyadari bahwa dalam banyak hal kita juga sudah memulai proses penyeragaman. Lihat proyek-proyek yang gencar dikumandangkan seperti mahonisasi, pinangisasi, sengonisasi, kakaonisasi dll. Lihat juga pola konsumsi: orang cenderung mengkonsumsi bahan-bahan dari luar  daripada dari lingkungan sendiri sekadar untuk ikut trend atau mental instan (tanam kopi, ada biji kopi yang siap digiling, eh malah beli Nescafe, atau ada kacang tanah tetapi masih beli kacang sukro).

Alam sebetulnya seperti perpustakaan atau ensiklopedi pengetahuan kita yang hanya beberapa bukunya atau halamannya sudah dibaca oleh manusia. Sayang, ada buku dan halaman yang sudah hilang yang tak dapat dibaca/dipelajari manusia. Banyak peneliti datang ke negara-negara yang kaya alamnya untuk belajar. Pengetahuan dalam bidang pengobatan sangat tergantung pada alam. Petani sendiri sangat membutuhkan pengetahuan dari alam. Indonesia menempati urutan ketiga berkaitan dengan kekayaan alam dan keanekaragaman hayati dari semua negara di dunia. Tetapi juga Indonesia adalah negara yang paling cepat terjadi proses hilangnya berbagai jenis binatang/tumbuhan yang terancam punah. Jenis-jenis tumbuhan/binatang yang hilang di seluruh dunia dihitung per menit (setiap menit ada jenis yang hilang).

Ekopastoral Fransiskan bersama kaum muda dalam animasi tentang Keanekaragaman hayati.

6. Permasalahan Sekarang

Lahan dan alam dalam keadaan kritis karena perlakuan dari manusia, maka kita perlu membantu mengembalikan kemandiriannya, menjaga dan mempertahankan keanekaragamannya. Setiap sumbangan kita untuk keseimbangan lingkungan, kendati kecil, menjadi sumbangan untuk keseimbangan lingkungan secara umum. Apalagi kalau setiap perlakuan kecil pelestarikan alam ditambah dengan semua perlakuan kecil dari orang lain, dampaknya akan luas. 

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *