HEADLINE NEWS

Bersama WVI Dalam Advokasi Perlindungan Hak Anak: Sudah Saatnya Anak Bersuara



Fenomena kekerasan terhadap anak akhir-akhir ini menjadi isu yang menonjol dalam pemberitaan media massa bukan saja karena disebabkan makin beratnya kasus kekerasan yang dialami anak, namun instensitasnya pun semakin mengkhawatirkan mencakup segala bentuk tindak kekerasan baik tindakan fisik, seksual maupun emosional yang membuat anak menderita termasuk di dalamnya segala bentuk ancaman,  intimidasi dan pelanggaran hak atau kebebasan.

Berhadapan dengan fenomena kekerasan seperti ini, Wahana Visi Indonesia (WVI) melalui pengembangan wadah kelompok anak, berusaha untuk meningkatkan minat dan bakat anak, lebih jauh lagi membuka ruang partisipasi anak. Salah satu kegiatan yang dipromosikan dan dilakukan oleh WVI adalah melakukan Advokasi Perlindungan Hak Anak, yang dilaksanakan di Ekopastoral Fransiskan Pagal, pada tanggal 18 - 19 Mei 2019. Kegiatan yang berlangsung dua hari itu dihadiri oleh perwakilan para pelajar jenjang SMP sekecamatan Cibal yang berjumlah 45 orang. Ochin Angeline, koordinator kegiatan dalam sambutan pembukaan mengaskan bahwa "saat ini di Kecamatan Cibal, Wahana Visi Indonesia memiliki kelompok anak dampingan yang tersebar hampir di semua desa binaan WVI di Kecamatan Cibal".


Lanjut Ochin, "Saat ini dalam rangka mempersiapkan anak untuk bersuara lebih khususnya terkait isu hak dan perlindungan anak yang ada di desa mereka kepada pemerintah desa (pemegang kebijakan di desa) untuk menghasilkan kebijkan baik regulasi maupun anggaran yang pro anak berbasis hak dan perlindungan dalam pembangunan desa". Demi memperkuat aksi advokasi ini, Wahana Visi Indonesia AP Manggarai berkolaborasi dengan FORUM ANAK KABUPATEN MANGGARAI (FAKAM) berkolaborasi membekali anak-anak dalam kelompk anak untuk lebih memahami tentang hak dan perlindungan anak, isu anak yang ada di desa, serta bentuk advokasi/suara yang akan disampaikan anak-anak kepada pemerintah desa, tutur Ochin.

Salah satu fasilitator dari WVI yang membekali para remaja dalam kegiatan tersebut, yaitu Maria Nataliani N. Lagut (Nova) mengemukakan lima cluster terkait advokasi perlindungan hak anak. Lima cluster itu antara lain, (1) Hak sipil dan kebebasan (2) Lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif. (3) Kesehatan dasar dan kesejahteraan (4) Pendidikan, pemanfaatan waktu luang dan kegiatan seni dan budaya. (5) Perlindungan khusus.

Dari para peserta yang diavokasi untuk selanjutnya menjadi promotor perlindungan anak  di masing-masing desa, WVI pun menghadirkan Duta anak terpilih dari Kabupaten Manggarai 2019, Atre Senudin untuk berbagi kisah terkait perannya sebagai duta anak. “Saya senang sekali bisa berbagi dengan teman-teman kelompok anak di Kecamatan Cibal. Saya rasa bangga bisa membantu mereka memahami tentang hak dan perlindungan anak serta mengenal isu di desanya. Mereka juga aktif sekali dan semangat, saya jadi yakin kami bisa bersuara lantang bersama untuk isu kami baik di kabupaten sampai desa, apalagi kami ini generasi masa depan Manggarai, desa dan bangsa Indonesia. Kami harus didengarkan dan diperhatikan pendapatnya mulai sekarang”, ujar Atre.

Lima cluster yang telah ditanamkan dalam diri para peserta itu, oleh Nova dimaksudkan agar "Anak – anak yang sudah dibekali ini selanjutnya akan melakukan diseminasi isu yang telah mereka petakan kepada anak di desa sebagai bentuk riset dan klarifikasi memperkaya data yang mereka punya sebelum akhirnya menyuarakannya kepada pemerintah desa untuk mempengaruhi kebijakan pembangunan perspektif anak di desa".


Sebagai penutup rangkaian kegiatan ini, diadakan perayaan Ekaristi perutusan yang dipimpin oleh P. Andre Bisa, OFM (Pimpinan Ekopastoral Fransiskan). Dalam homilinya, Andre berpesan kepada para peserta terkait tugas dan peran mereka sebagai rasul cilik dan anak-anak terang untuk terus mempromosikan hak-hak anak tanpa takut dan gentar, menyuarakan hak-hak mereka melalui gerakan aktif tanpa perlawanan serta menjadi penyambung lidah anak-anak zaman ini untuk membangun budaya adil, damai dan keutuhan ciptaan.

Para peserta pun tak ketinggalan diminta untuk merumuskan komitmen pribadi yang akan dilakukan seusai kegiatan. Dari semua peserta yang hadir, Alia (anggota kelompok anak Desa Nenu) mengemukakan rencana tindaklanjutnya bahwa “Saya sudah tidak sabar untuk menyuarakan isu – isu anak yang ada di desa kami. Banyak sekali isu anak yang perlu diatasi bersama di desa, seperti masih banyak anak yang tidak memiliki akta kelahiran, kekerasan terhadap anak yang dilakukan orang tua ataupun orang lain termasuk sebaya, dan lainnya. Supaya di desa kami anak-anak dilindungi hak-haknya dan kami bisa bertumbuh dan berkembang dengan baik." Tepat pukul 16.00, para peserta dan fasilitator membubarkan diri dan kembali ke rumahya masing-masing. [Andre bisa, ofm].

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *