HEADLINE NEWS

Gerakan Menyulam Bumi "ala" Paroki Pagal: Sambut Baru = 1 Pohon; Menikah = 2 Pohon (Suatu Upaya Revitalisasi Kearifan Lokal tentang "Wae Bate Teku" dan "Uma Bate Duat")


Pada mulanya adalah keprihatinan. Keprihatinan terkait: pertama, kelangkaan air minum yang dialami masyarakat Pagal setiap kali memasuki pertengahan Bulan Juli – Oktober setiap tahun. Pada bulan-bulan itu, para pengawai PAM di Pagal senantiasa dibanjiri hujatan serta litani serba salah yang viral di media sosial (seperti FB, instagram dan WA). Isi hujatan/litani itu pun bermacam-ragam, mulai dari “Parahnya managemen PAM”! “Pegawai PAM tidak becus bekerja”! “Pegawai PAM makan gaji buta”! “Pegawai PAM segera diganti”! “Ayo kita buat petisi pecat para pegawai PAM”! “Jangan bayar PAM setiap akhir bulan karena yang ditada selama ini adalah angin”! Bahkan cacian-cacian pun silih berganti hingga sampai pada “pembinatangan” manusia (menyebut pegawai PAM dengan sebutan nama binatang tertentu) sebagai bentuk protes dari masyarakat yang merasa ketiadaan air untuk minum dan mengairi sawah.

Kedua, terkait tidak berfungsinya hutan lindung  di Pagal sebagai satu-satunya sumber air. Dikatakan tidak berfungsi karena menurut kesaksian para orangtua, hutan lindung di Pagal (antara Waekebong dan Waekondo) “dulunya ada dua rawa-rawa yakni Temek Berbena dan Temek Nekal; air mengalir sepanjang tahun; orang-orang dapat mandi dengan leluasa di kali-kali kecil di persawahan. Tapi ketika program budidaya Kayu Ampupu secara besar-besaran terjadi di hutan lindung, sejak saat itulah mulai hilang rawa-rawa serta berkurangnya debit air”. Banyak diskusi dan perbincangan dilakukan oleh masyarakat Pagal terkait kehadiran jenis kayu ini (Kayu Ampupu). Di satu sisi, bila mempertimbangkan fakta empirik yang dikemukakan oleh sejumlah orangtua yang masih hidup, bahwa sebelum kayu ampupu dibudidayakan secara besar-besaran di hutan lindung, rawa-rawa serta ketersediaan air di kali-kali kecil tak dapat disangsikan. Akan tetapi di sisi lain, sesudah kehadiran “pohon predator air” ini di hutan lindung, lenyap sudah rawa-rawa dan kali-kali yang mengalirkan air sepanjang tahun berubah menjadi kali mati. Ini fakta empirik yang tak bisa dielak. Bahwa diperlukan pembuktian ilmiah untuk memastikan apakah kayu jenis ini disebut “predator air” yang mengisap air hingga kering atau karena dipengaruhi faktor lain semisal pemotongan kayu lokal di areal hutan lindung untuk dijadikan kayu bakar oleh masyarakat. Ataukah juga karena pelepasliaran ternak secara sembarangan di hutan lindung yang memakan habis anakan-anakan pohon lokal yang ditanam.

Baca juga: 
Keprihatinan ketiga, kealpaan masyarakat adat untuk menghidupkan ritual “barong wae” di Waekondo dan beberapa mata air di dalam hutan lindung. Keprihatinan ini mencuat dalam perbincangan ketika memasuki perayaan Penti (syukur panen). Karena lazimnya dalam perayaan penti, terdapat kearifan lokal untuk memberi penghormatan pada air melalui ritual barong wae dengan formulasinya yang amat sarat makna: “kudut kembus wae teku agu mboas wae woang” (agar mata air tetap terpelihara dan mengalir terus). Ritual dengan permohonan seperti ini selalu dimohonkan dalam upacara adat (penti) akan tetapi tidak disertai dengan aksi nyata menanam pohon. Sehingga yang terjadi kebanyakan, bahwa ritual yang “amat ekologis” semacam ini hanyalah sebatas doa (permohonan). Padahal sesungguhnya apa yang dimohonkan dalam doa adat mestinya pula disertai dengan aksi nyata supaya betul-betul tampak bahwa “Sabda menjadi daging”.

Bahwa tidak bisa dipungkiri kearifan lokal yang amat kuat pengaruhnya dalam madah “Runing Ngkiong” perlahan-lahan sirnah. Apa keutamaan dari Runing Ngkiong yang sirnah? (1) Jangan merambah hutan (Senget runing ngkiong, nėka poka puar boto mora usang lawa ė, kudut kėmbus tėdėng waė tėku agu mboas waė woang); (2) Jangan membakar padang (Sėngėt runing ngkiong, nėka tapa satar boto mata kaka puar dė, kudut bora tėdėng paėng uwa, tinang kid paėng situ); (3) Mari menanam kayu (Sėngėt runing ngkiong, mai tėti wai, weri sanggė de haju,  lawa gė, kudut mora ronco tanah reno, kudut go’as osang momang). Keutamaan ketiga ini yang kebanyakan alpa dari upacara penti secara khusus dalam ritual barong wae. Sehingga yang terjadi adalah bahwa doa untuk memohon ketersediaan air untuk kebutuhan sehari-hari serta untuk menunjang aktivitas bercocok tanam di kebun (uma bate duat) tetap dipanjatkan tetapi tidak terkabulkan lantaran kealpaan dalam menanam pohon (konservasi).

Pastor Abba, OFM (Pastor Paroki Kristus Raja Pagal sedang mendampingi OMK dalam pengadaan pohon-pohon konservasi untuk para peserta penerima Komuni Pertama. [Lokasi: Balai Konservasi Ekopastoral Fransiskan].

Keprihatinan inilah yang mendorong Pastor Paroki Kristus Raja Pagal menggandeng Ekopastoral Fransiskan untuk bekerjasama merevitalisasi kearifan lokal wae bate teku dan uma bate duat dalam pelayanan sakramen: Sambut Baru = 1 Pohon; Menikah = 2 Pohon). Kesepakatan bersama antara pihak Paroki dan Ekopastoral Fransiskan ini dikukuhkan dalam keputusan rapat Pleno Paroki Kristus Raja Pagal pada Januari 2017 silam. Pater Albertus Magnus D. W. Lazar, OFM (Pastor Paroki) dalam kesempatan tempo itu menyerukan kepada para peserta rapat untuk segera menggandeng Ekopastoral Fransiskan (pastoral kategorial di bidang pertanian dan lingkungan hidup yang dikelolah oleh para Fransiskan di Pagal, Cibal, Manggarai) untuk bersama-sama bergerak menyulam bumi. Menanggapi seruan pastor Paroki Pagal tersebut, pimpinan Ekopastoral Fransiskan, Pater Andre Bisa, OFM pun mengamini sekaligus meneguhkan para peserta rapat untuk bersama-sama mewujudnyatakan Ensilik Laudato Si dari Paus Frasiskus secara lebih nyata melalui aksi menyulam bumi.

Frase “menyulam bumi” dalam konteks ini hendak memperlihatkan di satu sisi, bahwasanya menyulam adalah kegiatan untuk memperindah selembar kain, sebuah baju atau sehelai taplak dengan sulaman warna-warni atau sewarna. Hasil sulaman itu tentunya memberi nilai tambah pada kain, baju atau taplak tersebut. Sehingga aksi menyulam bumi dalam pengertian pertama ini dapat dimaknai sebagai upaya untuk memperindah atau memberi nilai tambah pada bumi yang dari semulanya sudah baik adanya. Di sisi lain, makna menyulam bumi dalam arti yang kedua ini lebih mengarah kepada aksi nyata yakni memperindah bumi dengan menanam dan memelihara tanaman. Jika tanaman mati, segera diganti atau disulam dengan tanaman lain, sering kali yang sejenis. Dalam banyak kegiatan konservasi atau penghijauan, seringkali pemeliharaannya tidak begitu diperhatikan. Tanaman yang mati tidak diganti, yang hidup pun dibiarkan terlantar.

Sehingga gerakan menyulam bumi ala Paroki Pagal: Sambut Baru = 1 Pohon; Menikah = 2 Pohon bermakna menanam dan memelihara pohon yang ditanam sendiri saat menerima Sakramen Ekaristi pertama kali (sambut baru atau komuni pertama) dan sakramen pernikahan. Bila ada pohon yang mati harus disulam hingga diperoleh pepohonan  yang terpelihara, kokoh, menyegarkan, meneduhkan dan memperindah bumi. Pohon yang dipelihara dapat memberi keuntungan ekonomi, sosial, budaya dan ekologi bagi yang menanamnya.  Di sini, para “penyulam bumi” (penerima sakramen) itu diingatkan untuk menyadari bahwa iman yang dihayati dan dirayakannya mesti sampai pada merangkul bumi atau dalam bahasa biblis “memberitakan Injil kepada segala makhluk dengan menyediakan pohon sebagai rumah kehidupan bagi makhluk ciptaan lain dan melestarikannya agar dapat hidup secara berkelanjutan.  Bahwa satu pohon yang ditanam sama dengan memberikan nafas untuk kehidupan dua sampai tiga orang sekaligus sebagai naungan bagi makhluk ciptaan lainnya. Smentara kepada pasutri yang hendak menikah, dengan menanam dua pohon, mereka diingatkan akan salah satu tugas dan tanggungjawab “keluarga Kristiani” adalah memelihara bumi sebagai rumah bersama bagi “keluarga besar warga bumi”. Selanjutnya setiap merayakan hari ulang tahun pernikahan, mereka akan merayakannya bersama pohon yang berulang tahun ketika ditanam di hari pernikahan mereka. Aspek persaudaraan semesta sesungguhnya mereka kenangkan dan rayakan setiap memperingati kembali hari ulang tahun pernikahan.

Balai Konservasi di Ekopastoral Fransiskan, Pagal.

Selama ini, Ekopastoral Fransiskan sangat menjamin terealisasinya gerakan tersebut dengan menyediakan pohon-pohon konservasi (pohon-pohon lokal untuk ditanam di mata air; pohon bangunan, pohon komiditi dan buah-buahan). Para penerima sakramen akan membeli anakan-anakan pohon yang diminati dengan harga yang amat terjangkau. Pohon-pohon yang dibeli itu selanjutnya diperlihatkan ke pastor paroki dan dewannya untuk diketahui dan kemudian dapat ditanam sendiri di kebun pribadi, kebun paroki atau di mata air. Aksi yang sudah mentradisi ini tentunya tidak terlepas dari banyak hambatan (faktor kematian pohon akhibat tidak terawat, dimakan ternak, terbakar dll.). Tapi juga banyak kesaksian dari masyarakat tentang dampak positif yang diperoleh beberapa tahun sesudah menanam.

Semoga gerakan kecil dan sederhana yang sudah mentradisi di Paroki Pagal ini dapat memberi motivasi dan inspirasi bagi sesama warga bumi di mana pun berada dan terdapat (baik secara personal maupun komunal) untuk menyulam bumi atau menjaga bumi rumah kita bersama ini dengan menanam pohon, memelihara serta menjamin kehidupan pohon yang ditaman agar hidup secara berkelanjutan. (AB).

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *