HEADLINE NEWS

Ibadat Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 05 Juni 2019


Tema: Connect With Nature/Berinteraksi Dengan Alam

[Peserta dapat berdoa di luar ruangan dengan mengambil tempat di halaman, di bawah pohon, di mata air atau disesuaikan dengan keadaan setempat].

LAGU PEMBUKA

Betapa kita tidak bersyukur, bertanah air kaya dan subur; Lautnya luas, gunungnya megah, menghijau padang, bukit dan lembah.

Reff: Itu semua, berkat karunia, Allah yang Agung, Mahakuasa; Itu semua berkat karunia, Allah yang Agung, Mahakuasa.

Alangkah indah, pagi merekah, bermandi cahya surya nan cerah; Ditingkah kicau burung tak henti, bunga pun bangkit harum berseri. (Reff)

Bumi yang hijau, langitnya terang, berpadu dalam warna cemerlang, Indah jelita, damai dan teduh, persada kita jaya dan teguh. (Reff).

TANDA SALIB
P Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh          Kudus
U Amin

SALAM
P Rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus beserta kita.

U Sekarang dan selama-lamanya.

PENGANTAR

P World Environment Day atau Hari Lingkungan Hidup Sedunia diperingati setiap tanggal 5 Juni demi meningkatkan kesadaran global akan kebutuhan untuk mengambil suatu sikap atau perilaku ekologis yang positif bagi perlindungan alam dan planet Bumi. Hari Lingkungan Hidup diperingati sejak tahun 1972 dan ditetapkan oleh Majelis Umum PBB.

Tahun ini, Hari Lingkungan Hidup Sedunia mengusung tema: Connect with Nature dan dirayakan di Kanada. Connect with Nanuture memiliki misi untuk mengajak penduduk bumi berinteraksi dengan alam, mengenali, dan menikmati keindahan alam sehingga tergeraklah keinginan untuk melindungi bumi sebagai rumah kita bersama.

Dalam Perayaan Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini, sebagai warga bumi, kita diajak untuk menemukan, merenungkan dan mengalami jejak Allah yang ada di alam. Allah Pencipta senantiasa memaklumkan firman-Nya melalui kebijaksanaan dari alam. Allah Pencipta telah memberikan alam yang begitu luas, mendalam dan penuh misteri. Kita melihat keajaiban-keajaiban alam sekaligus mengagumi keajabaiban Tuhan di dalam alam ini. Dahulu nenek moyang kita mengajarkan bahwa semua unsur dalam alam menjadi cerminan dari yang Ilahi. Kita segan kepada alam bahkan kita takut dan takjub seperti kita takut dan takjub kepada Tuhan. Kita melihat kebesaran Tuhan di alam yang adalah hasil karya-Nya. Apakah Sabda Allah sama dengan sabda alam? Tentu saja tidak! Alam adalah ciptaan, namun alam adalah ciptaan yang baik dari Tuhan yang baik. Sekalipun alam tidak ilahi, kita dapat belajar kebaikan dan kemurahan Tuhan dari alam. Kalau Tuhan setia memelihara alam ciptaan, mengapa manusia merusaknya?

TOBAT

P Iman akan Allah Pencipta dan Raja Semesta alam senantiasa mengundang kita untuk mengakui tanggungjawab kita atas luka-luka yang telah dibebankan pada hutan-hutan, atas penyalahgunaan pemakaian air dan atas akhibat-akhibat dari tindakan-tindakan yang tidak bertanggungjawab terhadap Ibu Pertiwi. Menyadari dosa dan salah kita, maka marilah kita memohon ampun dan belaskasihan dari Tuhan:

U Kami umat-Mu datang. Kami yang menyalibkan dunia, menggunduli tanahnya, memahkotainya dengan rangkaian pohon-pohon yang tumbang, udaranya bernafas dengan kesakitan, airnya menangisi kebodohan yang meracuninya, ciptaannya mengeluarkan darah. Kami telah makan dan minum tubuh kehidupan; ahli waris dari semua, kami telah menjual dunia kami; tigapuluh keping perak harga kami.

Dengan keras kami umumkan cinta kami. Kami telah mengkhianati Tuhan kita. Kami adalah Yudas. Kami adalah Petrus. Kami adalah salib dari semua ciptaan. Tuhan, dalam kedatangan-Mu dan kerahiman-Mu, tolonglah kami membangkitkan kembali keagungan ciptaan-Mu untuk anak-anak kami dan anak dari anak-anak kami. Amin. (M. Palmer, Advent and Ecology).

P Semoga Allah Yang Mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita dan menghantar kita ke hidup yang kekal.

U Amin.


DOA PEMBUKA [Didoakan secara bersama-sama dari Mazmur di bawah ini:]

[Mzm 103 (104)]
Pujilah Tuhan, hatiku, Tuhan Allahku, betapa agunglah Engkau. Engkau berdandanan keagungan dan semarak, berselubungkan cahaya bagaikan mantol.

Engkau membentangkan langit laksana tenda, dan mengisi gudang angkasa dengan air.

Engkau mengendarai awan-gemawan bagaikan kereta, dan melayang dengan sayap terentang. Engkau mengutus angin sebagai duta, dan mengangkat api menjadi menteri.

Engkau mendasarkan bumi di atas alasnya, jangan sampai ia goncang. Engkau menyelubunginya dengan samudera purba, airnya setinggi gunung-gemunung. Engkau menghardik maka surutlah air, melarikan diri karena Engkau mengguntur.

Air menguap naik ke langit dan mengalir turun ke lembah, masing-masing ke tempat yang Kautetapkan. Engkau menentukan batas yang tak boleh dilanggar, jangan sampai air menutupi bumi kembali. Engkau memancarkan mata air dan sungai, yang mengalir di cela gunung-gemunung.

Engkau memberi minum segala margasatwa, kuda-kuda liar dapat meredakan dahaganya. Di sampingnya bertenggerlah burung-burung udara, dan memperdengarkan kicauannya. Engkaulah Allah Pencipta, yang berkuasa bersama Putera dan Roh Kudus, sepanjang segala masa. Amin.

SABDA TUHAN: Luk. 6:43-45

RENUNGAN

TUNDUK HORMAT KEPADA BUMI

Atas nama kesejahteraan manusia, bumi harus menderita karena dieksploitasi habis-habisan. Bumi sebenarnya bisa mencukupi kebutuhan setiap orang, tapi ia tidak akan pernah bisa mencukupi kebutuhan orang-orang yang rakus dan serakah! (Mahatma Gandhi)

Bumi adalah rumah kita bersama, tetapi bumi lebih dari sekedar suatu rumah. Di atas bumi, manusia menghidupi keseluruhan dan keutuhan diri serta keberadaannya. Dia bergerak dalam ruang dan waktu. Keduanya takkan ada tanpa bumi dan tanpa kehidupan. Karena itu terlalu miskin dan kurus memaknai bumi hanya sebagai rumah bersama. Bumi adalah keseluruhan keberadaan kita bersama, hidup dan mati kita ada di bumi, karena kita adalah makhluk membumi.

Membayangkan bumi tanpa manusia lebih mudah dari pada membayangkan manusia tanpa bumi. Mestinya kesadaran seperti ini mempertegas pengakuan manusia bahwa dia bukanlah apa-apa di tengah kemahabesaran dan keagungan bumi ini. Mazmur  mengingatkan kita bahwa manusia hanyalah seperti angin dan hari hidupnya laksana bayang berlalu (Mz 144:4). Tahun-tahun kehidupan manusia bahkan tak merupakan suatu titik dalam samudera waktu abadi.

Tetapi itulah tragisnya. Makhluk yang disebut manusia ini tak selamanya adil dan benar dalam memaknai keberadaannya di atas bumi. Ketakadilan dan ketakbenaran manusia dalam memaknai keberadaannya tersingkap dalam reaksi sesama makhluk penghuni bumi yang tak sanggup lagi menanggung dan menahan derita akibat ketamakan manusia dalam mengeksploitasi bumi.

Gelombang pasang, banjir dan tanah longsor perlahan-lahan dipahami secara baru. Kesemua itu bukan lagi ekspresi kemurkaan alam, tetapi derita alam. Alam menderita karena dia kehilangan keutuhan dirinya karena ulah ekploitasi manusia. Bencana alam adalah tangisan derita bumi mereaksi sikap dan tindakan tak benar dan tak adil manusia, sesama makhluk bumi.

Kita manusia mestinya mulai makin sadar bahwa derita bumi adalah derita manusia juga. Bencana alam adalah bencana atas keutuhan hidup manusia juga, karena bukankah manusia adalah bagian integral dari segenap makhluk bumi ini? Bumi memang bukan lagi sekedar rumah, tetapi suatu tubuh semesta kehidupan. Dalam keutuhannya, merusak bagian tubuh yang satu berarti menyebabkan seluruh tubuh menderita dan rusak.

Kini saatnya pemaknaan keberadaan yang berpusat pada manusia (antroposentrisme) mesti dikaji kembali demi kebenaran dan keadilan dalam relasi antara makhluk ciptaan di atas bumi. Ketika ekologi dimaknai sebagai seni atau refleksi tentang korelasi segenap makhluk ciptaan, maka antroposentrisme tak layak dipertahankan. Kita manusia bukan lagi raja yang berkuasa absolut di atas bumi ini.

Bumi adalah perempuan yang dari rahimnya lahir kehidupan atau manusia. Di hadapan kesadaran seperti ini lantas wajar dan santun  jika manusia menyadari bahwa dia bukan segalanya di bumi ini. Bumi adalah segalanya bagi manusia, karena tanpa bumi manusia bukanlah suatu apa.

Kalau demikian adanya, sudah sepatutnya manusia tunduk dan hormat pada bumi, ibu pertiwi, pemberi dan pelahir kehidupan. Respek pada bumi lantas menjadi satu sikap etis-moral yang merajut keutuhan dan kesempurnaan manusia sebagai makhluk moral. Perilaku tamak dan eksploitatif terhadap bumi tidak saja merusak keutuhan bumi, tetapi juga merusak keluhuran martabat manusia sebagai makhluk moral. Kerusakan alam memperlihatkan pola sikap manusia yang makin tidak manusiawi. Akibatnya pun tak manusiawi karena menelan dan merenggut kehidupan banyak orang kecil dan miskin. Bumi rusak,  bumi menderita. Bencana alam adalah tangisan bumi. Kulihat Ibu pertiwi sedang berusah hati. Selanjutnya, tangisan bumi adalah tangisan orang miskin. [Oleh: Peter C. Aman, OFM].

PIAGAM BUMI (Credo Lingkungan Hidup)
(semua peserta membacanya sebagai ungkapan komitmen untuk peduli pada Lingkungan Hidup).

Kami, di masa di mana sejarah bumi sedang dalam bahaya, ketika manusia harus memilih mengenai masa depannya. Saat dunia sungguh saling bergantung dan rapuh, saat masa depan  terancam bahaya sekaligus penuh janji.

Untuk terus melangkah maju, kami harus mengakui bahwa di tengah kekayaan budaya yang luar biasa banyaknya serta bentuk-bentuk kehidupan yang kaya jenis, kami sebagai keluarga umat manusia dan satu dalam komunitas bumi serta berbagi nasib untung dan malang.Kami mesti bersama-sama mengupayakan masyarakat global yang berkelanjutan, yang dilandaskan pada hormat terhadap alam, hak-hak asasi manusia yang universal, keadilan ekonomi dan budaya damai.

Menuju  tujuan itu, adalah kewajiban bagi kami, warga bumi, menyatakan tanggungjawab satu sama lain, tanggungjawab terhadap komunitas kehidupan yang lebih besar dan terhadap generasi masa depan.

BAPA KAMI

DOA PENUTUP (mendoakan secara bersama-sama Mazmur di bawah ini)

[Mzm 103 (104)]
Ya Tuhan, Bapa Pencipta, Engkau menyirami gunung dari surga, dan memenuhi keperluan bumi dengan persediaan lumbung-Mu. Engkau menumbuhkan rumput bagi ternak, dan makanan untuk hewan pertanian.

Engkau menghasilkan gandum dari bumi, dan menggembirakan hati manusia dengan anggur. Sungguh, Engkau menggilapkan wajah manusia dengan minyak, dan memelihara hidupnya dengan makanan.

Pohon-pohon Tuhan tersiram segar, pohon jati raksasa yang ditanam-Nya. Di situlah burung-burung bersarang, burung bangau di pohon besar. Gunung tinggi menampung kijang, dan wadas melindungi musang dalam celah-celahnya.

Bulan beredar sesuai dengan musim, matahari hafal akan saat terbenamnya. Sesudah senja turunlah malam, dan segala margasatwa berkeliaran. Anak singa meraung-raung mencari mangsa, menuntut makanan dari Allah.

Bila matahari terbit menyingkirlah mereka, dan berbaring di tempat perteduhannya. Manusia keluar ke pekerjaannya, melakukan tugasnya sampai petang.
Engkaulah Bapa, Pencipta yang berkuasa bersama Putera dan Roh Kudus sepanjang segala masa. Amin.


LAGU PENUTUP

(1) Hai makhluk semua pujilah Tuhan kita, Alleluya, Alleluya, Alleluya
(2) Pujilah keagungan-Nya, Alleluya, Alleluya, Alleluya
Alleluya bergaung di seluruh dunia, soraklah Alleluya
Alleluya, Alleluya, Alleluya, Alleluya / Alleluya, Alleluya, Alleluya, Alleluya

(1) Nyanyilah bersama dengan iringan suling, Alleluya, Alleluya, Alleluya
(2) Pujilah kekuatanNya, Alleluya, Alleluya, Alleluya
Alleluya bergang nan merdu suaranya, soraklah Alleluya
Alleluya, Alleluya, Alleluya, Alleluya / Alleluya, Alleluya, Alleluya, Alleluya.

TANDA SALIB

[Keterangan: P = Pemimpin; U= Umat].

Oleh: Ekopastoral Fransiskan Indonesia

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *