HEADLINE NEWS

Mahasiswa Asal Colombia Meneliti Gerakan Ekopastoral Fransiskan Di Pagal serta Mendalami "Pancasila-nya Orang Manggarai"


"Apakah Ekopastoral itu sebuah pastoral yang mirip-mirip dengan Teologi Pembebasan yang berkembang pesat sebagaimana saya alami di Amerika Latin atau bagaimana?", tanya Ricardo Vargas (Mahasiswa asal Colombia) mengawali bincang-bincang santai sebelum memulai proses penelitian tentang Ekopastoral.

Bincang-bincang serta dialog dalam rangka penelitian ini berlangsung santai di beberapa unit kerja Ekopastoral yakni: Lahan Kering, Lahan Basah, Rumah Pupuk, Balai Konservasi serta studi kepustakaan di Sekretariat Ekopastoral pada Selasa, 25 Juni 2019.

Adapun Ricardo Vargas adalah mahasiswa asal Colombia yang sedang mengikuti program pertukaran mahasiswa, dan sedang belajar di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta.  Kedatangannya ke Pagal, di Pusat Ekopastoral Fransiskan ditemani oleh Ibu Fransiska W, dosen di UKI St. Paulus Ruteng.

Bincang-bincang bersama Ricardo di Green House Lahan Kering

Penelitian yang dilakukan terhadap gerakan Ekopastoral Fransiskan ini, bagi Ricardo "merupakan sebuah upaya untuk memetakan keterlibatan Konggregasi atau Tarekat Hidup Bakti di seluruh Indonesia yang secara khusus terlibat untuk merealisasikan Ensiklik Laudato Si dari Paus Fransiskus". Ricardo selanjutnya memaparkan maksud penelitiannya ini dengan latar belakang informasi yang dikajinya selama ini (kurang lebih dua tahun) perihal "sumber daya alam yang tersebar merata di Indonesia sebagai jalan menuju kesejahteraan (di satu sisi), sekaligus jalan menuju kebinasaan (di sisi lain) karena dipicu dengan kerusakan ekologi yang massif di beberapa tempat akhibat kehadiran industri pertambangan".

Baca juga: 
Latar belakang inilah yang mendorong Ricardo mengambil sampel Gerakan Ekopastoral Fransiskan di Pagal sebagai salah satu referensi untuk menunjukkan keterlibatan lembaga-lembaga hidup bakti di Indonesia dalam mengkontekstualisasikan Ensiklik Laudato Si. Bahwa kehadiran Ekopastoral jauh beberapa tahun sebelum terbit Ensiklik dari Paus Fransiskus ini, tapi bagi Ricardo, "setidak-tidaknya Paus Fransiskus menggarisbawahi apa yang dibacanya dari Spiritualitas Ekologis Fransiskus Assisi yang sedang dilakukan oleh para Fransiskan di Pagal melalui Ekopastoral".

Dialog interaktif di Lahan Kering perihal teknik budidaya horti serta pengendalian hama dan penyakit tanaman secara organik.

Menjawab pertanyaan yang diajukannya di awal bincang-bincang terkait "apakah Ekopastoral ini mirip dengan gerakan Teologi Pembebasan", Andre Bisa, (pimpinan Ekopastoral Fransiskan) menyangganya dengan penegasan bahwa "Ekopastoral Fransiskan adalah pastoral kategorial kontekstual, yang mendasarkan gerakannya pada amanat Kitab Suci tentang memberitakan Injil kepada segala makhluk serta spiritualitas persaudaraan semesta yang diwariskan oleh Fransiskus Assisi untuk dihidupi oleh para pengikutnya".

Andre, selanjutnya menambahkan bahwa "Ekopastoral merupakan bagian dari cara hidup para  Fransiskan, sebagaimana dikenal selama ini dengan kehadiran JPIC OFM-nya yang bersaksi tentang Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan. Dengan menghadirkan wajah Ekopastoral sebagai pastoral kategorial, kami sebetulnya sedang berteologi (doing theology); juga sedang menghadirkan Ajaran Sosial Gereja Katolik (ASG) dengan melihat (to see), menilai (to judge) dan bertindak (to act)", ujar pimpinan Ekopastoral ini.

Bersama Aris G. (Koordinator Bidang Pupuk) Mengenali Pupuk Organik.

Penelitiannya menjadi lebih menarik, terutama dalam dialog interaktif tatkala berada di unit-unit kerja (bidang-bidang) yang dikerjakan oleh Ekopastoral antara lain: Lahan Kering (hortikultura);  Lahan Basah (tanaman pangan), Pupuk Organik, Konservasi serta studi kepustakaan. Para staf Ekopastoral sesuai kompetensi keahlian yang dimiliki masing-masing mempresentasikan sekaligus mendemonstrasikan teknik atau cara kerja, proses budidaya  tanaman pangan dan hortikultura, pupuk dan pestisida yang dipakai, proses pasca panen dan managemen pemasaran, melestarikan hutan dan air melalui konservasi serta belajar bersama antarstaf sebagai upaya untuk saling melengkapi.

Bersama Hans (Koordinator Bidang Lahan Basah / Tanaman Pangan) mengenali seleksi benih, bank benih serta analisis usaha tani.

Di unit Lahan Kering (budidaya hortikultura), Alfridus Jutasmi menuntunnya untuk mengenali teknik dan proses budidaya sayur secara organik. Hal yang sama juga terjadi di Lahan Basah (Tanaman Pangan), di mana Fransiskus Toy dengan berapi-api menjelaskan perihal aktivitas budidaya tanaman pangan hingga pasca panen. Pada bidang pupuk, Ricardo dituntun oleh Farisal Garos (staf bidang pupuk) untuk mengenali (mempraktikkan sedikit) pupuk padat dan cair yang diproduksi oleh Ekopastoral Fransiskan. Ricardo selanjutnya dibimbing oleh  Jesualdus Hase untuk mengenali pohon-pohon lokal yang dikembangkan oleh Ekopastoral Fransiskan untuk mengkonservasi hutan dan air.

Bersama Jesualdus (Koordinator Bidang Konservasi) mengenali pohon lokal, teknik konservasi serta memperkenalkan pancasila kearifan lokal Manggarai.

Jesualdus (koordinator bidang konservasi) saat sesi animasi tentang konservasi, membekali Ricardo perihal "pancasila kearifan lokal orang Manggarai" yang menghubungkan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama dan manusia dengan alam. Pertama, Mbaru bate kaeng (rumah untuk tinggal). Kedua, Natas bate labar (halaman untuk bermain atau mengekspresikan diri). Ketiga, uma bate duat (kebun untuk bercocok tanam). Keempat, Wae bate teku (air untuk diminum). Dan kelima, compang bate dari (altar budaya untuk persembahan syukur). Lima pancasila ini, oleh Jesualdus sebagai satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Fransiskus Toy (staf bidang Lahan Basah) pun membenarkan apa yang dikemukakan oleh Jesualdus dengan menuntun Ricardo melihat dokumentasi serta buku-buku pertanian organik terbitan Ekopastoral yang berbicara tentang kearifan lokal orang Manggarai.

Pada penghujung penelitian, Andre Bisa menitipkan pesan pada Ricardo agar bersedia untuk satu, menjadi Duta Petani di lingkup perguruan tinggi dan di masyarakat yakni dengan setia berpikir, menulis dan berbicara tentang petani dan pertanian. Dua, menjadi promotor dan animator perihal keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan. Dan tiga, menjadi perpanjangan tangan atau penyambung lidah Ekopastoral dengan menyebarluaskan spirit Ekopastoral serta pertanian organik kepada siapapun, kapanpun dan di manapun tatkala Ricardo berada dan atau terdapat. (AB).

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *