HEADLINE NEWS

Siapa Yang Masih Mau Jadi Petani?

Bercakap-cakap bersama SELANUS UMA DUAT, Sang Penanya Imaginer.

Judul pertanyaan tersebut sesungguhnya adalah sebuah refleksi imaginer. Sang penanya serta kilasan kisahnya pun dibingkai dalam alam pikiran imaginer.

Langsung saja, perkenalkan, nama saya Selanus Uma Duat. Saya suka dengan alam pikiran imaginer meskipun sedang hidup dalam alam nyata. Pertama, tentang nama (memang dari sananya oleh sang pemberi nama), saya diminta hadir untuk memberitahu siapa pun bahwa  nomen est omen, yang artinya nama adalah tanda. Sehingga bila diberi penjelasan secara detil beginilah sebenarnya: (1) Selanus, secara ilmiah disebut Hordeum Vulgare; dalam kosakata bahasa Indonesia disebut Jelai; dan secara lokal (dalam bahasa Manggarai disebut Sela), salah satu pangan lokal tempo doloe). Sementara kata nus yang ditambahkan di belakang kata Sela, oleh sang pemberi nama dimaksudkan untuk mengingatkan saya bahwa ada pelindung yang akan memelihara saya, baik dari alam baka (di sana) maupun di alam fana (di sini) agar saya tidak lenyap dari kebun-kebun dan lumbung-lumbung petani. (2) Uma, dalam bahasa Manggarai artinya kebun,  yang oleh sang pemberi nama dimaksudkan untuk mengingatkan saya bahwa di kebunlah, tempat saya tinggal dan hidup. (3) Duat, dalam bahasa Manggarai artinya bercocok tanam, yang oleh sang pemberi nama dimaksudkan untuk mengingatkan saya bahwa melalui aktivitas bercocok tanam yang dilakoni oleh para petani, saya Sela-nus dapat hidup secara berkelanjutan.

JELAI, pangan lokal yang dibudidayakan oleh Ekopastoral Fransiskan.

Kedua, tentang pertanyaan: Siapa yang masih mau jadi petani? Pertanyaan ini terpaksa saya ajukan dan munculkan untuk memberitahu, juga mengingatkan warga bumi bahwa vegetasi saya di kebun-kebun dan di lumbung-lumbung para petani semakin langka, padahal sosok saya tercatat jelas dalam Kitab Suci: "Ia menggandakan 5 roti JELAI dan 5 ekor ikan untuk memberi makan lima ribu orang". Sela atau Jelai, itulah nama saya. Karena menyadari betapa langka-nya vegetasi hidup kami di kebun-kebun dan keberadaan kami di lumbung-lumbung petani, maka secara imaginer, saya Selanus Uma Duat hadir  untuk bertanya dan memastikan bahwa masih ada orang yang tertarik menjadi petani dan bersedia membudidayakan dan atau membuat kami hidup secara berkelanjutan. 

Sekadar mengenang, pada suatu masa saya dibawa dan disimpan oleh anak-anak sekolah dalam kantong atau saku celana / baju mereka untuk dimakan. Dalam ruangan kelas, meskipun di dalam saku/kantong, saya saksikan anak-anak ditanyakan oleh guru tentang cita-cita,  dan mereka menjawab dengan lantang, Saya mau menjadi guru! Saya mau menjadi pilot! Saya mau menjadi dokter! Saya mau menjadi polisi! Saya mau menjadi perawat! Saya mau menjadi tentara dll). Dan bila sekarang saya bertanya pada anak-anak desa  tempat saya tinggal, jawabannya pun senada. Dari seluruh cita-cita yang terungkap, tak ada satu pun cita-cita ingin menjadi petani. Mengapa demikian?

Alfred Ded (baju hijau, berdiri), Staf Ekopastoral Fransiskan Bidang Hortikultura sedang berdialog dengan para mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana.

Rupa-rupanya, meskipun bertani itu adalah sebuah profesi (pekerjaan) juga, namun tak pernah dianggap demikian, sekurang-kurangnya oleh anak kecil. Kalau begitu dapat ditarik kesimpulan sementara, menjadi petani adalah pilihan terakhir, ketika tak ada pekerjaan yang lain. Tentu saja, kesimpulan itu hanya benar sebagian. Sebab ada banyak orang memilih menjadi petani meskipun punya kemampuan untuk pekerjaan non-tani, bahkan menjadikannya sebagai suatu pilihan yang mungkin untuk memenuhi kebutuhan hidup. 

Berbicara tentang petani/bertani, menurut hemat saya ada hal yang memprihatinkan di dunia pertanian kita, sekurang-kurangnya di sekitar tempat saya tinggal. Hampir sebagian besar yang bertani adalah orang tua. Yang muda, sebagian besar merantau ke kota (Jakarta atau kota besar lainnya), dan yang tinggal di desa pun enggan untuk bertani, betapa pun hanya untuk membantu orang tuanya. Para pemuda itu berpendapat bahwa bertani tidak langsung menghasilkan uang. Lain halnya kalau merantau ke Jakarta atau kota besar lainnya, dengan menjadi pekerja harian atau tukang ojeg, misalnya. Kalau situasi ini berlangung terus, dan generasi tua sudah tidak ada, siapa lagi yang menjadi petani? 

Itu hal pertama yang memprihatinkan, dan rasanya berkaitan erat dengan keprihatinan kedua, yakni beralihnya kepemilikan tanah-tanah pedesaan menjadi milik orang kota (kaum bermodal). Tentu saja proses peralihan itu sah dan titik persoalannya bukan itu. Yang menjadi persoalan adalah sebagian orang desa tak punya lahan lagi untuk bertani! Seperti gayung bersambut, orang kota lalu menanamkan modalnya dalam pertanian, dan orang-orang desa menjadi buruhnya. Dan hal ini menyenangkan orang desa, karena mendapatkan upah rutin (layaknya upah rutin PNS). Namun pertanyaannya, sejauhmana upah itu bisa menyejahterakan keluarganya, terlebih pendidikan anak-anaknya? Bila ini berlanjut, bisa saja pertanian menjadi sebuah industri, maksudnya hanya para pemodal saja yang bisa melakukan, dan sebagian besar orang desa menjadi buruh (di bekas tanahnya sendiri).

Apakah menjadi petani memang begitu mengenaskan sehingga dihindari oleh orang muda? Jawabannya, tidak! Menjadi petani dalam arti tertentu malah menjadikan orang merdeka, bahagia dan tenteram. Tentu saja jawaban itu amat subyektif, amat tergantung dari pola pikir dan situasi masing-masing orang. Tetapi yang jelas, kini pertanian tidak diminati oleh orang muda, lantas bagaimanakah ke depannya?

Aktivitas Budidaya Padi secara organik bersama para petani muda dari SMKN 1 Wae Ri'i di Lahan Basah Ekopastoral Fransiskan.

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *