HEADLINE NEWS

Galeri Budidaya Hortikultura (1) Pembuatan Bedengan Permanen Dengan Metode Double Digging

Dalam alam pikiran masyarakat Barat, bukan tanpa alasan penyebutan kata agri dan culture untuk pertanian. Bagi masyarakat Indonesia, sungguh banyak simbol-simbol kebudayaan yang dikaitkan atau terinspirasi oleh pertanian. Jelaslah bahwa kebudayaan pertanian adalah pilar utama peradaban semua bangsa di dunia. Perkembangan pandangan, pola pikir, dan perilaku manusia terkait pertanian menjadi cermin proses evolusi peradaban itu.

Baca juga:

Galeri Hortikultura (2) - Pembajakan Bedengan Dengan Traktor Tangan, Pekerjaan Menjadi Lebih Efektif, Efisien Dan Produktif

Pertanian pernah menjadi sangat dominan dalam kehidupan. Pada berbagai bangsa, peran tersebut mulai menurun karena perkembangan industri. Bahkan dalam teori konvensional ditanamkan doktrin bahwa untuk maju, bangsa-bangsa harus meninggalkan pertanian. Namun demikian, proses tersebut tampaknya mulai berbalik arah. Negara-negara berperadaban industri seperti Amerika dan Eropa, saat ini justeru terus memperbesar ekspor produk pertaniannya bersamaan dengan ekspor budaya konsumsinya. Negara-negara industri juga terus menekankan pentingnya penguasaan pangan sebagai bagian utama dari eksistensi peradabannya.

Dalam galeri budidaya hortikultura bagian pertama ini, secara khusus ditampilkan aktivitas pengolahan lahan dengan sistem double digging. Kita dapat menyaksikan di sini para sahabat petani dari Faperta UNDANA memeragakan pengolahan lahan bersama tim fasilitator magang Ekopastoral Fransiskan.


Pertama-tama kita perlu memahami arti sebenarnya dari pengolahan lahan. Secara umum pengolahan lahan adalah setiap manipulasi teknik terhadap tanah yang diperlukan untuk menciptakaan keadaan tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman.

Adapun tujuannya adalah:
  • Menyiapakan tempat tumbuh bagi tanaman
  • Menciptakan daerah perakaran yang baik
  • Membenamkan sisa-sisa tanaman
  • Memberantas gulma
  • Mempermudah perawatan

Pengolahan lahan dengan metode double digging (dig = gali, double = 2 kali) dalam konteks ini dimaksudkan untuk memperlihatkan sebuah desain bedengan permanen yang bukan saja mengedepankan aspek ekologis dan ekonomis tetapi juga mencakup aspek estetis.
Proses pembuatan bedengan permanen dengan metode double digging bersama para Mahasiswa Faperta UNDANA Kupang. Dok. Ekopastoral Fransiskan.

[AB]

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *