HEADLINE NEWS

Jiwa dan Semangat Pertanian Organik ala Ekopastoral Fransiskan (Animasi Bersama Para Sahabat Petani dari Faperta UNDANA)


Pada hari kedua magang para mahasiswa UNDANA, tepatnya 21 Juli 2019, Ekopastoral menuntun para sahabat petani ini untuk mendalami jiwa dan semangat pertanian organik melalui sesi Animasi. Pada kesempatan ini, Pater Andre Bisa, OFM berbagi sharing dan kisah tentang lahirnya gerakan Ekopastoral serta prinsip dasar yang dipakai dalam pastoral kategorial di bidang pertanian dan lingkungan hidup ini.

Baca juga:
Andre, sapaan akrab pimpinan Ekopastoral ini mengawali sesi animasi dengan pernyataan yang sedikit menggelitik, bahwa banyak orang sering salah memahami apa itu pertanian organik. Yang sering terjadi, pertanian organik dipersempit ke pemahaman tentang pupuk dan pestisida organik. Padahal itu hanya sebagian kecil dari gerakan pertanian organik. Pertanian organik tidak identik dengan pupuk organik dan pestisida organik. Pemahaman yang sempit ini bisa mengancam gerakan yang sesungguhnya dan mengakhibatkan dampak negatif yang tidak jauh dari dampak praktik pertanian konvensional dan Revolusi Hijau. Karena ada satu pemahaman yang juga sering keliru mengenai penggunaan pestisida organik.


Selanjutnya, putera asal Lembata ini mengingatkan para peserta magang bahwa Pertanian organik sebenarnya bukan hal baru: nenek moyang kita sudah lama menerapkannya. Sejak terjadinya Revolusi Hijau, sering kali promotor pertanian konvensional mempertanyakan kemampuan pertanian organik dalam menyediakan makanan untuk manusia di seluruh dunia. Padahal sudah berabad-abad pertanian organik terbukti mampu memenuhi kebutuhan manusia secara terus menerus. Sedangkan pertanian konvensional baru diterapkan beberapa puluh tahun dan dalam waktu singkat itu sudah mengakhibatkan bermacam-macam dampak negatif. Oleh karena itu perlu dipertanyakan: Apakah pertanian konvensional mampu memenuhi kebutuhan manusia di beberapa abad ke depan? Seringkali petani mulai tertarik dengan pertanian organik karena kepentingan ekonomis atau pertimbangan kesehatan. Tetapi sangat penting juga  menyadari peran kita dalam pelestarian lingkungan, alam, tanah, air, udara, tanaman dan margasatwa, tandasnya.


Adapun prinsip-prinsip dasar dalam petanian organik yang dikemukakannya di hadapan para peserta magang untuk senantiasa diperhatikan antara lain:

Pertama, Alam mesti dilihat sebagai sebuah sakramen. Alam semesta dan segenap ciptaan lain, masing-masing memberikan sumbangan yang khas bagi kehidupan manusia. Ia dengan kekhasan masing-masing mengungkapkan dan menampakan sebagian tentang Allah dan menghantar kembali manusia kepada Allah. Ia adalah bayangan, jalan serta tangga yang menghantar jiwa manusia kepada Allah.

Kedua, Pandanga Holistik. Ekopastoral memandang alam semesta serta segenap ciptaan ini secara keseluruhan sebagai sebuah persekutuan di mana semua elemen di dalamnya saling terkait satu dengan yang lainnya. Alam semesta ini diibaratkan Komunitas Universal dimana keberadaan ciptan lain merupakan prasyarat bagi eksistensi dan cara berada bagi yang lainnya.


Ketiga, Saling menghormati. Sesuai teladan dari St. Fransiskus Assisi, Ekopastoral dalam seluruh pelayanannya menaruh hormat kepada seluruh ciptaan. Maka segala bentuk tindakan kekerasan kepada ciptaan terutama yang tak berdaya adalah sebuah kejahatan dan dosa.

Keempat, Belajar dari alam. Ekopastoral melihat alam sebagai tempat belajar tentang kehidupan, kebijaksanaan dan kemandirian.

Kelima, Alam sebagai saudara dan saudari. Segala sesuatu yang berada di alam semesta ini, termasuk manusia adalah saudara dan karena berasal dari Bapa yang satu dan sama yakni Allah.

Atas dasar keprihatinan inilah, Ekopastoral Fransiskan hadir dengan mengusung Visi: Pemulihan dan pembangunan berkelanjutan mutu hidup manusia yang mandiri dan harmonis dengan segenap cipataan sesuai dengan teladan hidup St. Fransiskus Assisi.


Misi: (1) Menyebarluaskan spiritualitas St. Fransiskus Assisi khususnya di bidang keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan; (2) meningkatkan sumber daya hidup masyarakat petani; (3) memulihkan kelestarian hutan dan sumber mata air; (4) mendukung adat istiadat dan budaya lokal, tegasnya!!!

 <Abril Dos Santos, OFM>

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *