HEADLINE NEWS

"Makanya Sekolah!"


"Kaum muda menjadi layaknya benih yang nantinya akan tumbuh menjadi petani masa depan. Layaknya tanaman, agar dapat menjadi tanaman yang berkualitas perlu perawatan yang intensif. Begitu pun dengan kaum muda perlu perawatan agar mampu menjadi petani masa depan yang berkualitas. Bagaimana caranya? Makanya sekolah!" [Megy Kut]
Sektor pertanian masih memegang peranan penting dalam pembangunan ekonomi secara keseluruhan di seluruh bangsa di dunia termasuk Indonesia. Peran penting sektor pertanian tersebut tak terlepas dari proses manajerial yang dilakukan manusia terhadap alam dan lingkungan sebagai tempat berlangsungnya kegiatan pertanian tersebut. Alam dan lingkunganlah yang menyediakan tempat, bahan-bahan dan menghasilkan produk pertanian itu dengan campur tangan manusia. Oleh karena itu, manusia memiliki kewajiban menjaga kelestarian alam dan lingkungannya. Bukan hanya karena dapat memberi manfaat melainkan juga sebagai suatu tanggapan iman yaitu mewartakan kabar gembira keselamatan  Allah Sang Pencipta bagi seluruh ciptaan-Nya termasuk menyelamatkan alam dan lingkungan serta semua makhluk yang ada di dalamnya.

Baca juga:
Namun sayang, yang terjadi sekarang ini alam dalam kondisi kritis. Berbagai masalah seperti polusi dan perubahan iklim, berkurangnya air bersih dan hilangnya keanekaragaman hayati semakin menjadi-jadi. Hal ini menjadi akibat dari kelalaian manusia dalam menjaga atau memanejerial berbagai kegiatan di atas alam semesta yang selanjutnya berdampak pada keberlangsungan pertanian. Permasalahan alam dan lingkungan juga menjadi permasalahan pertanian.

Sudah diterangkan sebelumnya bahwa permasalahan pertanian menjadi akibat dari kelalaian manusia dalam memanajerial kegiatan di atas alam semesta. Saya lebih memilih melihat manusia yang mengacu pada petani itu sendiri sebagai pelaku utama dalam menjalankan kegiatan pertanian. Hal ini berkaitan erat dengan petani sebagai manusia yang lebih dekat dengan alam semesta jika ditilik dari ruang lingkup pertanian. Petani adalah mereka yang menjadi manajer berbagai kegiatan pertanian dengan alam semesta sebagai sarana dan prasarananya.

Adapun petani zaman now sudah banyak menerapkan pertanian konvensional atau banyak menggunakan bahan-bahan kimia. Penggunaan bahan kimia yang berlebihan akan sangat mempengaruhi kondisi alam khususnya lahan sebagai media tanam serta mempengaruhi tanaman yang nantinya akan menjadi produk yang dikonsumsi manusia. Sehingga bukan saja memberi pengaruh terhadap alam melainkan juga terhadap manusia yang selanjutnya akan turut merugikan manusia di masa yang akan datang. Kerusakan alam saat ini akan menghancurkan manusia yang hidup di masa yang akan datang.

Megy, saat sesi pengolahan lahan di Ekopastoral Fransiskan [Dok. Ekopastoral Fransiskan]

Di sisi lain, pola pikir petani zaman now sudah semakin mengarah pada kepentingan diri sendiri. Terjadi kemerosotan pemikiran akan peduli terhadap alam dan lingkungan yang membuat petani sulit untuk meninggalkan kebiasaan menggunakan bahan-bahan kimia atau kembali menggunakan bahan-bahan organik dalam kegiatan pertanian. Pertanian bagi mereka cenderung mengarah pada kuantitas produk yang selanjutnya berorientasi profit dan melupakan kualitas produk yang berorientasi alam. Sebagai contoh, dengan menggunakan bahan-bahan kimia peluang terjadinya kekurangan produksi lebih kecil dibandingkan tanpa menggunakan bahan-bahan kimia. Sementara kualitas produk dari sisi sehat atau tidaknya menunjukan bahwa produk yang dihasilkan tanpa bahan kimia lebih sehat dibandingkan dengan bahan kimia. Hal tersebut tentunya menjadi penghalang bagi semua upaya pembangunan pertanian yang berorientasi alam. Dengan kata lain, upaya untuk mengelola alam dengan tetap menjaga kelestariannya menjadi semakin sulit.

Megy dkk. sedang memproduksi pupuk organik (Bokashi) di Rumah Pupuk Ekopastoral Fransiskan. [Dok. Ekopastoral Fransiskan]

Lalu bagaimana cara mengubah pola pikir petani tersebut?

Menurut saya, caranya yaitu kembali pada diri petani itu sendiri. Maksudnya, petani harus menyadari keberadaannya di alam semesta. “Siapa saya di alam semesta? Apa yang alam semesta berikan untuk saya hingga apa yang saya pantas berikan untuk alam semesta?”. Mengubah pola pikir petani adalah sebagian kecil dari upaya mengatasi masalah sedangkan sebagian besarnya ada pada diri petani itu sendiri. Lalu bagaimana cara menyadarkan petani akan hal tersebut? Jika dengan melakukan penyuluhan atau pemberdayaan saja tidaklah cukup. Di sinilah, peran kaum muda dibutuhkan.

Kaum muda merupakan generasi penerus bangsa yang juga adalah agent of change yang sedapat mungkin mampu mengubah segala hal yang buruk di masa kini agar dapat menjadi lebih baik. Kaum muda menjadi layaknya benih yang nantinya akan tumbuh menjadi petani masa depan. Layaknya tanaman, agar dapat menjadi tanaman yang berkualitas perlu perawatan yang intensif. Begitu pun dengan kaum muda perlu perawatan agar mampu menjadi petani masa depan yang berkualitas. Bagaimana caranya? Makanya sekolah!

Megy bersama P. Andre B, OFM, saat acara perutusan kembali dari Magang di Ekopastoral Fransiskan. [Dok. Ekopastoral Fransiskan].

Sekolah ibarat cahaya yang dapat menerangi akal budi manusia. Sekolah menjadi dapur yang menyediakan berbagai menu untuk menunjang keperluan manusia dalam setiap kehidupannya. Dengan sekolah, para kaum muda diajak untuk belajar tentang pertanian yang berorientasi profit dengan tetap berorientasi pada alam. Sehingga kaum muda pun mampu mengelola alam semesta yang nantinya akan menjaga keberhasilan pertanian di sepanjang zaman.

Megytriani Kut
[Mahasiswi Fakultas Pertanian UNDANA Kupang, Jurusan Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura]

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *