HEADLINE NEWS

Bangga Menjadi Mahasiswa Pertanian

Venty Falukas
Banyak kaum muda yang masih memandang ilmu pertanian itu prodi yang kurang mulia. Pandangan seperti ini dapat terlihat dari ekspresi seseorang ketika mengatakan bahwa saya kuliah di fakultas pertanian.

Betapa miris rasanya, ketika melihat orang-orang dengan mudah menganggap rendah pertanian. Kita seakan lupa dengan mandat yang telah diwariskan oleh Sang Pencipta kepada kita. Dalam Kitab Kejadian pasal 2:15 difirmankan: "TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu".

Ayat suci ini, dengan jelas memerlihatkan bahwa Tuhan menugaskan manusia untuk mengusahakan dan memelihara alam yang menjadi rumah atau tempat kita tinggal bersama ini. Maka, menjadi petani itu bukanlah nasib melainkan sebuah panggilan. Menjadi petani berarti kita dipanggil untuk mengelolah dan melestarikan alam semesta. Karena di dalam rahim ibu bumi, Allah telah menyediakan apa yang kita butuhkan. Kita yang harus berinisiatif untuk mengambilnya dengan cara bertani yang ugahari. Sebab itu, dengan belajar pertanian sesungguhnya kita sedang ikut serta memikirkan kembali masa depan pertanian yang diamanahkan untuk kita.

Namun tidak bisa disangkal bahwa banyak orang yang masih memandang ilmu pertanian sebagai sesuatu yang tidak punya nilai, bahkan seorang petani pun mengasingkan anaknya dari pertanian. Hal ini disebabkan oleh anggapan mereka bahwa biar saja orang tua yang berprofesi sebagai petani jangan anaknya. Karena itu, berprofesi petani itu di mata kaum muda zaman milenial tidak keren. Sebab, mereka tidak memakai dasi, duduk di atas kursi yang keren, dan ruangan yang ber-ac (air conditioner), yang akan mereka lakukan hanyalah bermandi lumpur sawah bersama cangkul. Sebab, kuliah di fakultas pertanian ujung-ujungnya menjadi petani sehingga kurang diminati oleh kaum muda di zaman milenial.

Pemahaman yang keliru tentang fakultas pertanian seringkali sebagai pemicu kurangnya minat anak muda untuk terjun dalam dunia pertanian. Jika kaum muda tidak berminat lagi untuk berprofesi sebagai petani maka tanah kita yang kaya dan subur akan dinikmati oleh orang lain. Konsekuensinya, kita hidup di atas tanah yang subur dan kaya tetapi tetap saja berada dalam lingkaran kemiskinan. Akhibat selanjutnya, kebutuhan pangan akan terus diimpor dari luar.

Atas dasar ini, pola pemahaman yang keliru tentang pertanian mesti diubah. Berprofesi sebagai petani itu bukan sebuah nasib sial melainkan sebuah panggilan dari Allah. Karenanya, mari kita rawat lingkungan hidup kita yang sedang merintih kesakitan dengan salah satu caranya adalah dengan mengembangkan Pertanian Organik (PO). Selamatkanlah bumimu seperti kamu menyelamatkan masa depan anak cucumu.

Oleh: Venty Yuni Sara Falukas
[Mahasiswi Semester VII 
Fakultas Pertanian Undana, Kupang].

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *