HEADLINE NEWS

Dialog Fransiskus Assisi & Sultan Malik Al-Kamil [Galeri INFO JPIC]


"Tak ada perdamaian dunia tanpa perdamaian antaragama; Tak ada perdamaian antaragama tanpa dialog antaragama; dan tiada dialog antaragama tanpa mengkaji fondasi agama-agama". (Hans K√ľng: Global Responsibility).
Tradisi tahunan yang biasa dilakukan oleh keluarga Fransiskan-Fransiskaness  Indonesia atau yang biasa dikenal dengan INFO-JPIC (Intern Franciscans For Justice, Peace and Integrity of Creation) adalah pertemuan, sharing karya dan refleksi bersama. Tahun 2019 ini, tepatnya tanggal 19 -25 Agustus, sebanyak 63 peserta INFO JPIC perwakilan tarekat Fransiskan (OFM Prov. Idonesia, OFM Prov. Papua, OFMCap. Medan, OFMCap. Sibolga, OFMCap. Nias, OFMCap. Pontianak, OFMConv., SFMA, FCJM, FSE, SFIC, FSGM, MTB, KSFL, SFD, FCh, DSY, OSF Semarang, OSF Sibolga, dan OFS) melakukan pertemuan tahunan di Rumah Retret Maranatha, Berastagi, Medan, Sumatera Utara. Tema yang diusung dalam pertemuan ini adalah “Kita Dipanggil dan Diutus Menjadi Duta Damai: Belajar dari Fransiskus Assisi & Sultan Malik Al-Kamil!" Pada hari kelima pertemuan INFO JPIC, para peserta bergabung dengan keluarga Fransiskan-Fransiskaness Medan dalam Ekaristi serta diskusi panel bersama para tokoh Muslim di Sumatera Utara.

Ekaristi memperingati 800 tahun peristiwa Damieta: Dialog Fransiskus Assisi dan Sultan Malik Al-Kamil.

Adapun Ekaristi dan diskusi Panel dilangsungkan pada Hari Sabtu, 24 Agustus 2019 di Conventional Hall Danau Toba International, Medan (Sumatera Utara), dengan para panelisnya adalah: Prof. Hasan Bakti Nasution; Sr. Dr. Xaveria Lingga, FSE; Dr. Muhammad Qurib (Dosen Universitas Muhamadiyah Sumatera Utara) dan Pastor Mardan Ginting, OFM.Conv. Kegiatan ini diawali dengan Perayaan Ekaristi yang dihadiri oleh keluarga besar Fransiskan-Fransiskaness Medan serta para tamu undangan lintas agama (Protestan, Muslim, Hindu dan Budha).

Mengawali diskusi panel, Pastor Kemit, OFM.Cap, selaku moderator menegaskan bahwa "Dalam catatan sejarah Gereja, sejarah Fransiskan dan sejarah Islam, perjumpaan persaudaraan antara Fransiskus Assisi dan Sultan Malik Al Kamil bermuara pada sebuah dialog iman yang mendalam penuh kedamaian. Fransiskus dan Sultan tidak sekadar berjumpa, tetapi mampu mentransformasi perjumpaan itu dalam ruang dialog, yakni mendialogkan iman serta perwujudan iman dalam konteks kehidupan masing-masing".

Suasana dialog dalam diskusi panel.

Selanjutnya, para panelis secara bergantian mengomentari sekaligus memberikan catatan kritis atas teks serta peristiwa sejarah perjumpaan dialog Fransiskus dan Sultan.  Berikut ini kerangka dasar dialog yang ditanggapi dan dikomentari oleh para panelis. (Catatanmateri dialog ini ditambahkan dan diedit oleh Andre, Bisa, OFM dengan memperlihatkan sumber-sumber).
Dialog Sang Santo dan Sultan yang terjadi 800 tahun lalu (1219) ternyata masih amat relevan bahkan menjadi model dialog antaragama zaman ini  (2019) yang sering diwarnai dengan konflik, radikalisme dan fundamentalisme agama. Pada 4 Februari 2019, Paus Fransiskus mengenang kembali apa yang dilakukan oleh Fransiskus Assisi dan Sultan delapan ratus tahun lalu dengan merangkul Imam Besa Al Azhar, Dr. Ahmed At-Tayyeb dalam penandatanganan deklarasi kemanusiaan (Dokumen Abu Dhabi). Kedua pemimpin agama ini, melalui penandatanganan dokumen tersebut sama-sama melihat bahwa berbagai konflik dan ketegangan bernuansa agama yang amat memprihatikan di zaman ini perlu diselesaikan pula melalui dialog antaragama.  Dialog antaragama yang dibutuhkan dunia tidak cukup hanya sebagai sebuah program kerja untuk diwujudkan pada kesempatan tertentu, misalnya sesudah mengalami sebuah peristiwa tragis. Dialog mesti dipahami sebagai hakikat agama itu sendiri. Agama adalah sebuah dialog antara manusia dengan Allah, dunia dan sesamanya. Dialog seperti itu membutuhkan sebuah pemahaman tentang hakikat dialogal agama itu sendiri.
Pengalaman perjumpaan Fransiskus dengan Sultan (kaum Muslim / Serasen) sangat berpengaruh dalam kehidupannya selanjutnya. Ia tersentuh oleh sikap religius orang Muslim, panggilan beribadah, pendekatan terhadap Allah yang trasenden, dan rasa hormat terhadap Kitab Suci. Peristiwa inilah yang kemudian melatarbelakangi penulisan Anggaran Dasar Tanpa Bula (AngTBul XVI). Ia meminta para saudaranya pergi ke tengah kaum Muslimin dan orang tak beriman lainnya dengan tanpa kekerasan.
Apa Yang Didialog-kan? 
Tentang perjumpaan Fransiskus dan Sultan Malik Al-Kamil, dalam kalangan para Fransiskan terdapat dua sumber yang berbicara tentangnya, yakni Thomas dari Celano dan Bonaventura. Sementara dari kalangan bukan Fransiskan, terdapat pula dua sumber, yakni Jordan von Giano dan Jakob von Vitry (seorang Uskup di Akkon) yang sebenarnya memiliki sikap kritis terhadap Ordo Fransiskan pada waktu itu. 
PertamaJordan von Giano menulis dalam Kroniknya bahwa "Fransiskus bersama beberapa saudara  dengan menumpang pada kapal yang membawa para serdadu perang salib  pada Juli/Agustus 1219 sampai di Mesir. Di sana para saudara ini menyaksikan betapa brutal dan kejamnya Perang Salib itu. Karena itu, Fransiskus yakin bahwa ini bukanlah perang yang benar. Ia berusaha meyakinkan para serdadu dan Kardinal Pelagius Galvani  pemimpin perang  untuk mengusahakan gencatan senjata dan menerima tawaran damai dari Sultan Malik Al Kamil. Akan tetapi usul itu tidak disetujui. Pada tanggal 29 Agustus para serdadu Muslim menyerang dan menundukkan para serdadu (Kristen) perang salib: 6000 orang terbunuh. Baru setelah itu Kardinal memberi izin pada Poverello untuk pergi mengunjungi Sultan atas risiko yang harus ditanggung sendiri. Bersama saudara Illuminatus, pergilah Fransiskus  menemui Sultan". 
Kedua, Dalam bab 32 dari karyanya Historia Occidentalis, Jacob von Vitry mencatat: "Selama beberapa hari Sultan mendengarkan dengan penuh perhatian Fransiskus yang berkhotbah tentang iman akan Kristus. Akan tetapi kemudian ia khawatir bahwa beberapa dari orang-orangnya karena kekuatan kata-kata Fransiskus bertobat dan menjadi Kristen. Karena itu, ia menawarkan kepada Fransikus dengan penuh hormat untuk menghantarnya kembali. Pada waktu perpisahan ia berkata kepada Fransiskus: Berdoalah bagiku agar Allah mewahyukan padaku ajaran dan iman yang lebih berkenan kepada-Nya". 
Ketiga, Thomas Celano menampilkan keinginan hati Fransikus untuk berjumpa dengan Sultan adalah untuk menjadi martir. Celano mengisahkan bahwa "Sultan menghormatinya sedapat-dapatnya dan berusaha dengan menawarkan banyak hadiah untuk mencondongkan hatinya kepada harta-kekayaan dunia. Tetapi ketika beliau melihat, bahwa hamba Allah dengan amat tabahnya meremehkan kesemuanya itu, maka beliau dipenuhi dengan kebenaran besar dan memandang dia sebagai orang yang tiada tara bandingnya di dunia. Perkataannya sangat mengesankan bagi beliau, dan dengan senang hati beliau mendengarkan dia", (1 Cel. 57). 
Keempat, sementara Bonaventura memerlihatkan bahwa "Fransiskus, setelah berdoa memohon kekuatan (LM 9:7-8)  pergi mengunjungi Sultan. Di sana, Fransiskus dengan yakin, penuh kekuatan rohani dan penuh semangat berkhotbah kepada Sultan tentang Allah Tritunggal dan tentang Yesus Kristus penyelamat seluruh umat manusia. Sultan melihat betapa kekuatan rohani memancar dari diri Fransiskus; Ia mendengarkannya dengan gembira dan terus memintanya agar tetap tinggal di situ".

Kita bisa mencatat di sini beberapa pokok pikiran yang  mendasari perjumpaan Fransiskus dan Sultan, antara lain: kekuatan doa yang dipanjatkannya kepada Tuhan sebagai andalan untuk memampukannya berdialog dengan sultan; rasa hormat penuh kepercayaan pada Sultan sebagai partner dialog; berusaha memahami dan kesediaan hati untuk mendengar serta belajar dari Sultan; menjadikan dialog sebagai alat damai.

Walaupun terdapat sejumlah tantangan dalam membangun dialog antaragama, keterlibatan Gereja dan para Fransiskan dalam membangun dialog harus tetap kokoh dan tidak goyah.

[Andre Bisa]

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *