HEADLINE NEWS

Galeri BOKASHI (6) “Hiduplah Tanahku” Dalam Segenggam BOKASHI (Kolaborasi Ekopastoral Fransiskan & Mahasiswa Faperta UNDANA Kupang)

Pertama-tama, diksi hiduplah tanahku yang dipilih untuk diulas di sini tentunya bersumber dari penggalan lagu Indonesia Raya, "hiduplah tanahku, hiduplah negeriku ..."). Dari penggalan itulah kami memungut inspirasi untuk menggarap aspek biofisik pengolahan tanah dengan pemberian asupan nutrisi Bahan Organik Kaya Akan Sumber Hayati (BOKASHI). Kedua, perlu dimengerti pula bahwa terminologi Hiduplah Tanahku yang ditampilkan dalam galeri ini merupakan sebuah pengalaman konkret persentuhan dengan tanah (menggarap tanah) dan upaya menghidupkan kehidupan di dalam tanah. Ketiga, dalam alam pikiran kami sebagai petani yang senantiasa dilingkupi panorama keseharian yakni berhadapan dengan tanah pertanian yang kami garap atau kelolah, rasanya penggalan kalimat syarat makna ini (Hiduplah Tanahku) pantas mendapat tempatnya dalam ruang refleksi. Betapa tidak, pengalaman, kompetensi keilmuan yang kami miliki serta aktivitas keseharian yang kami lakoni begitu dekat, bahkan bersama dengan tanah.
"Pupuk organik bokashi yang kami produksikan dalam galeri ini tentunya dimaksudkan selain meniru cara kerja alam tetapi juga sebagai bentuk tanggungjawab moral ekologis kami dalam menghidupkan tanah petanian. Kami diajari untuk memberi yang terbaik bagi tanah sebagaimana tanah sendiri sudah memberi yang terbaik bagi hidup kita".


Baca juga:
Barangkali ada yang secara iseng atau secara kristis berkomentar, apakah dengan ini penggalan hiduplah tanahku (tanah Indonesia Raya) kami persempitkan ke sektor pertanian dan dengan itu menyepelekan (mengabaikan) sektor lainnya yang juga bukan tidak mungkin memiliki paradigma tersendiri tentang upaya meng-hidupkan tanah? Atau apakah tanah pertanian kita mati, sehingga diserukan Hiduplah tanahku?


Galeri Ekopastoral Fransiskan dalam kesempatan ini tidak berintensi menjawab tanya melainkan berupaya untuk memperlihatkan salah satu sisi praktis dalam rangka mengejawantakan keutamaan dari sepotong penggalan gita Indonesia Raya, lagu kebangsaan negeri tercinta ini. Maka, sisi praktis yang diperlihatkan di sini adalah upaya nyata menghidupkan tanah pertanian melalui pupuk organik Bokashi.


Bertolak dari pengalaman penerapan pertanian organik yang kami lakoni, aspek keutuhan ciptaan (termasuk mikroorganisme dalam tanah) perlu mendapat perlindungan. Dalam hal ini, pemakaian pupuk organik bokashi untuk budidaya tanaman pangan dan hortikultura sebagaimaina terlihat dalam galeri ini sebetulnya adalah sebuah cara yang amat ramah lingkungan. Ya, karena bukan hanya tanaman pangan dan hortikultura yang mendapat asupan nutrisi dari pupuk ini melainkan mikroorganisme dalam tanahpun mendapat bagiannya. Kami sendiri sempat bergumul dengan tanah pertanian yang kami garap. Ya, bergumul karena tidak puas mendapatkan hasil yang maksimal. Bergumul karena memaksa tanah memberikan hasil yang maksimal sementara kami secara sadar menodai kesucian tanah dengan menabur pupuk unorganik serta pestisida unorganik. Dalam rentang waktu yang lama kami menggumuli kematian tanah tapi tidak tahu bagaimana caranya menghidupkan tanah. Akan tetapi alam sendiri mencondongkan hati kami untuk berguru padanya yakni menyediakan makanan bagi dirinya sendiri. Sebagai contoh: pohon-pohon di hutan tidak disuburkan oleh manusia tetapi mampu menyuburkan  diri sendiri. Pohon bertumbuh sampai tinggi, lalu daunnya jatuh dan menjadi pupuk/memberi makanan untuk dirinya. Dari sikap pohon inilah, kami belajar, misalnya untuk mengendalikan limbah tanaman ke tanah, seperti jerami yang dikembalikan ke sawah untuk menyuburkan tanaman padi berikutnya. Hal lain yang bisa dipetik dari alam, yakni di hutan tidak ada orang yang menggemburkan tanah tetapi tanah tetap gembur berkat kerja cacing dan makhluk-makhluk lain dalam tanah. Maka pertanian organik meniru proses ini dengan menghidupkan cacing-cacing dan makhluk lain yang hidup dalam tanah agar membantu/memperbaiki struktur tanah. Pupuk organik bokashi yang kami produksikan dalam galeri ini tentunya dimaksudkan selain meniru cara kerja alam tetapi juga sebagai bentuk tanggungjawab moral ekologis kami dalam menghidupkan tanah petanian. Kami diajari untuk memberi yang terbaik bagi tanah sebagaimana tanah sendiri sudah memberi yang terbaik bagi hidup kita.


Hiduplah tanahku. Hiduplah tanah kita. Tanah adalah jiwa, nafas dan harapan kita manusia. Tanah membawa berkat Sang Pencipta dan meneruskannya pada raga-raga yang terus berharap akan kehadirannya. Tanah menepiskan semua kepahitan tentang hidup dan menjawab aneka Tanya dalam manusia. Tanah menjadi pertarungan jiwa dan raga, membaurkan darah-darah segar yang terus berontak dan menuntut keadilan. Kekuasaan tanah tak terbendung saat ia direbut oleh nafsu dan kekuasaan. Bahkan, deritanya mengundang derita lain pada titipan kehendak Tuhan. Mengapa harus ada perbedaan dan kelakuan mengeruk tanah yang tak bersalah? Tak sadarkan insan yang terus merebut dan memaksa tanah dengan pupuk serta pestisida yang tidak ramah lingkungan, hanya demi mengejar produktivitas? Mari hidupkan tanah kita dengan memakai PUPUK BOKASHI!!!

Berikut ini Galeri Produksi Pupuk Bokashi [Kolaborasi Ekopastoral Fransiskan & Mahasiswa Fakultas Pertanian UNDANA Kupang]:

1. Produksi Pupuk Bokashi

2. Produksi Pupuk Bokashi

3. Produksi Pupuk Bokashi

4. Produksi Pupuk Bokashi

5. Produksi Pupuk Bokashi

6. Produksi Pupuk Bokashi

7. Produksi Pupuk Bokashi

8. Produksi Pupuk Bokashi

9. Produksi Pupuk Bokashi

10. Produksi Pupuk Bokashi


[AG, ED, AB]

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *