HEADLINE NEWS

Hidup Miskin Di Atas Kekayaan Sumber Daya Alam

Asti

Fenomena umum saat ini adalah bahwa seluruh masyarakat bangsa di dunia sedang berlomba meningkatkan sumber daya manusia (SDM) yang dimilikinya. Bukti sejarah perjalanan bangsa-bangsa menunjukkan bahwa maju mundurnya suatu negara bangsa amat ditentukan oleh keunggulan SDM warganya.

Banyak negara bangsa yang kaya raya sumber daya alam (SDA)-nya yang justeru menjadi objek eksploitasi negara-negara lain. Sementara di sisi lain, banyak negara yang memiliki SDA terbatas, namun memiliki SDM yang baik mampu mencapai kesejahteraan yang tinggi.

Bangsa kita, sebagaimana bangsa-bangsa berkembang lainnya, masih menghadapi masalah kemiskinan dan kebodohan. Dan kita tahu lingkaran setan ini: bangsa yang bodoh akan menjadi yang miskin dan bangsa yang miskin akan tetap menjadi bangsa yang bodoh. Padahal, potensi kekayaan sumber daya alam kita melimpah. Panorama inilah yang hendak disuguhkan dalam tulisan ini.

Berbicara tentang "ke-miskin-an", dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dilukiskan sebagai suatu kondisi atau keadaan dimana masyarakatnya serba berkekurangan. Dalam konteks Indonesia saat ini dengan sumber daya alam yang luar biasa banyaknya, kosa kata miskin sebagaimana termaktub dalam KBBI, rasa-rasanya kurang tepat karena pada kenyataannya negara kita amat kaya: kaya akan berbagai jenis sumber daya alam, lautan yang luas, tanah yang subur, dan hutan yang terbentang luas. Tapi anehnya masyarakat kita tetap hidup dalam kemiskinan di tanah yang kaya dan subur ini. Tentu sebagian besar kita  bertanya: "mengapa negara kita tetap terhimpit banyangan kemiskinan?"

De facto, masyarakat Indonesia sebagian besar berprofesi sebagai petani. Akan tetapi masyarakat petani tetap hidup miskin di tanah yang kaya dan subur. Banyak orang sulit meraih kekayaan karena mereka tidak tahu cara meraihnya, sementara bayang-bayang kemiskinan senantiasa menghantui. Kemiskinan tampak menjadi masalah yang mendesak untuk diperangi baik masyarakat maupun pemerintah. Berbagai upaya dan program telah dilakukan oleh pemerintah agar tingkat kemiskinan dalam suatu negara dapat berkurang dengan tujuan supaya kehidupan masyarakat menjadi sejahtera. Namun, upaya itu nampaknya tidak merata dan tidak secara signifikan membawa perubahan bagi masyarakat. Dalam arti tertentu, pemicunya antara lain ketergantungan masyarakat akan bantuan yang diberikan oleh pemerintah, sehingga mereka terkadang tidak berusaha untuk merubah kehidupannya.

Pada sisi yang lain, ada sebagian masyarakat miskin dapat bangkit dari keterpurukan dan merubah nasibnya hingga seratus delapan puluh derajat. Banyak kisah sukses keluarga-keluraga miskin yang berhasil membalikan keadaan dengan usaha dan kerja keras. Ironisnya pula bahwa tak sedikit masyarakat petani yang tergerus keuletan dan ketekunan lantaran terjerumus gaya hidup (mentalitas) instan. Mentalitas instan adalah mentalitas yang cenderung ingin cepat mendapatkan hasilnya, namun tidak ingin untuk berproses. Konsekuensinya, profesi tani kurang begitu diminati oleh kaum muda sekarang yang berasal dari keluarga yang berlatarbelakang petani. Barangkali inilah fenomena memprihatinkan zaman ini bahwa anak yang terlahir dari keluarga petani justru diasingkan dari profesi sebagai petani.

Pemicu lainnya mengapa orang tetap hidup dalam kemiskinan juga lantaran kepasrahan pada keadaan. Ada semacam pesimisme bahwa hidup ini tidak bisa diubah, atau memang seperti beginilah nasib, takdir arau garis tangan. Pikiran-pikiran sinis semacam ini tanpa disadari menghambat niat baik untuk berusaha mengubah keadaan menjadi lebih baik.

Sering kita mendengar slogan pengentasan kemiskinan, "bila memberdayakan petani atau masyarakat kecil, jangan beri ikan melainkan mata kail". Hemat saya, poinnya adalah bahwa apabila kita ingin memandirikan orang, "hindarilah untuk membuat orang lain bergantung karena pola pemberdayaan semacam ini mencetak karakter orang menjadi pribadi yang tinggal menunggu saja; akan tetapi jika kita ingin memberdayakan orang kecil (memberikan mereka mata kail), maka mereka sendiri akan berusaha untuk mencari ikan dalam artian bahwa mereka mau menjadi pribadi yang mandiri.

Hemat saya, ada banyak hal yang perlu dibuat oleh para petani kecil untuk meraih kebahagiaan dan kemakmuran di tanah yang kaya. Selain, bekerja kreatif dengan tangan sendiri, hal utama yang perlu dilakukan adalah memikirkan kembali keutamaan petani sebagai manajer, produser dan pemulia. Sebagai manager, petani dapat merencanakan, mengatur dan mengelolah usaha sendiri sesuai kemampuan, kebebasan dan kebutuhan. Sebagai produser, petani menjadi penentu setiap produk yang akan dihasilkan dari lahan pertaniannya, menyediakan produk (bukan hanya untuk diri sendiri tetapi untuk masyarakat lain juga) dan bertangungjawab terhadap produk yang dihasilkan dari lahan pertaniannya. Dan sebagai pemulia, petani dengan profesinya menyediakan apa yg menjadi kebutuhan masyarakat yang paling dasar, yakni pangan. Pada aras keyakinan inilah mimpi petani untuk hidup sejahtera di tanah yang kaya menuai hasilnya. Salam hormatku pada para petani. Aku ingin berkata padamu, "bahwasanya menjadi petani itu bukanlah sebuah takdir, akan tetapi menjadi petani merupakan suatu panggilan dan atau suatu pilihan yang mungkin!"

YULIANI H. SULASTRI
[Mahasiswi Semester VII Fakultas Pertanian UNDANA, Kupang]

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *