HEADLINE NEWS

Pangan Yang Cukup, Sehat, Bergizi & Berbagi Pangan

Animasi Ekopastoral Fransiskan dalam Perayaan Hari Pangan Sedunia di tingkat Kevikepan Borong – Manggarai Timur.

Tepatnya pada tanggal 28-29 Agustus 2019, salah satu Kevikepan di Keuskupan Ruteng, yakni Kevikepan Borong merayakan Hari Pangan Sedunia (HPS) dengan mengusung tema “Pangan Yang Cukup, Pangan Yang Sehat, Pangan Yang Gizi dan Berbagi Pangan”. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini diisi dengan diskusi panel dan pameran produk-produk organik. Adapun para panelis yang dihadirkan dalam sharing dan refleksi bersama pada perayaan ini adalah, Dinas Ketahanan Pangan Kab. Manggarai Timur, Ekopastoral Fransiskan, LSM pegiat pertanin organik, serta perwakilan Petani Organik. Selain terlibat dalam diskusi panel, Ekopastoral Fransiskan pun mempromosikan produk-produk organik seperti beras organik, pupuk organik, sayuran organik, tanaman Hidroponik, dan tanaman konservasi. 

Perayaan tersebut dihadiri oleh para imam yang berkarya di Kevikepan Borong, termasuk para pengurus inti Dewan Pastoral Paroki (DPP) dari masing-masing paroki. Romo Simon Nama, Vikep Borong dalam pengantar diskusi panel, mengingatkan para peserta terkait kekhususan perayaan HPS tahun ini di tingkat Kevikepan Borong yakni pengkaderan para pastor paroki dan pengurus DPP terkait pentingnya perayaan hari pangan sedunia di tingkat basis Gerejani. “Perlu kami sampaikan dengan jelas dan tegas kepada para imam, para pastor paroki dan pengurus DPP paroki-paroki se-Kevikepan Borong bahwa momentum hari pangan sedunia yang kita selenggarakan tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Bila di tahun-tahun yang lalu, perayaan HPS diwarnai dengan banyak seminar, maka pada tahun ini, di Kevikepan Borong, kita jadikan sebagai momentum untuk pengkaderan bagi para pastor paroki beserta DPP paroki agar di tahun-tahun yang akan datang perayaan HPS mesti menjadi perayaan dan gerakan bersama yang perlu dilaksanaakan di tingkat basis Gerejani”, tegas Romo Vikep.  

Sebagai panelis pertama yang berkesempatan menyampaikan pandangan terkait pangan yang cukup, pangan yang sehat, pangan yang gizi dan berbagi pangan, Sdr. Andre Bisa, OFM selaku Koordinator Ekopastoral Fransiskan Pagal, mengingatkan para peserta tentang profesi petani sebagai sebuah panggilan, layaknya profesi-profesi lain yang ada dalam masyarakat. Andre, sapaan akrabnya menerangkan bahwa “profesi petani adalah sebuah panggilan dan bukan nasib. Bahwa dengan berprofesi sebagai petani, para petani sendiri memerankan tiga tugas utamanya yakni sebagai Manager, Produser dan Pemulia”, tandasnya. 

Lebih lanjut, dalam pemaparan materinya, pimpinan Ekopastoral Fransiskan ini menegaskan bahwa profesi petani merupakan profesi yang paling pertama di muka bumi. Sebab, profesi ini ada sejak adanya manusia sebagaimana digambarkan dalam Kitab Suci bahwa setelah manusia diciptakan, Allah memerintahkannya untuk mengelolah dan merawat Taman Eden (Kej. 2:15). Taman Eden yang dimaksud dalam Kitab Suci tidak lain dan tidak bukan adalah bumi rumah tinggal manusia. “Pada saat ini, kondisi bumi kita sedang tak bersahabat. Bumi kita sedang sakit. Curah hujan berkurang, musim kemarau berkepanjangan yang menyebabkan kekeringan dan gagal panen merupakan tanda bumi kita sedang sakit. Bumi kita sakit, ini salah siapa? Akar persoalannya terletak di dalam diri manusia. Manusia melupakan tugasnya yang paling dasariah yakni mengelolah dan merawat Taman Eden, tuturnya.

“Manusia harus sadar bahwa ia tidak bisa ada tanpa bumi yang adalah rumah tinggalnya sebab terdapat relasi interdependensi antara hidup manusia dengan bumi. Jika bumi sakit maka manusia pun ikut menderita khususnya kaum tani. Sebagai misal, musim kemarau berkepanjangan tentunya berdampak pada gagal panen. Mereka tidak memiliki jaminan lain selain hanya mengharapkan pada hasil pertanian. Karena itu yang sering mengalami kekurangan pangan adalah mereka”, paparnya. 

Dari sudut pandang Biblis dan Ajaran Sosial Gereja, Andre mengatakan bahwa: “berbicara tentang pangan yang cukup dan sehat tidak bisa lepas dari kepeduliaan kita terhadap lingkungan hidup. Semua kekayaan alam yang dibutuhkan manusia untuk menopang hidupnya telah disediakan oleh Allah di dalam rahim ibu bumi. Kekayaan tersebut bukan untuk dinikmati oleh segelintir orang melainkan untuk semua orang, semua orang harus cukup pangan. Namun, dalam kenyataannya, kekayaan alam kita yang luar biasa banyak ini kebanyakan hanya dinikmati oleh segelintir orang sehinga orang-orang kecil yang miskin semakin miskin. Mereka tetap terpuruk lantaran kealpaan sesamanya dalam berbagi pangan dan sumber daya”.

Maka, bila berhadapan dengan kondisi ketidakcukupan pangan, bagi Andre, Gereja tidak bisa diam membisu. Sebab, Yesus sendiri telah menunjukkan teladan kepada para murid-Nya: “kamu harus memberi mereka makan”, (Mrk. 6:37). Sebagai suri teladan, Yesus tidak hanya menyuruh atau memerintah tetapi Ia sendiri memberi mereka makanan dengan menggandakan lima roti dan dua ikan, dan semuanya makan sampai kenyang. Saat ini, Gereja harus memberi makan bagi mereka yang berkekurangan makanan dengan menjamin ketersediaan pangan yang sehat dan cukup melalui pemberdayaan masyarakat tani menuju kemandirian. Sehingga dengan adanya pengkaderan para agen pastoral dalam momentum HPS ini, kita bersama-sama saling mengingatkan bahwa Gereja harus hadir sebagai promotor, animator, bahkan bisa menjadi “provokator”, demi ketersediaan pangan yang cukup, sehat, bergizi dan berbagi pangan. Gereja mesti terus-menerus menganimasi seluruh umat manusia untuk mengambil pangan yang telah tersedia dalam rahim bumi dengan cara yang baik dan benar sehinga semua orang mendapat pangan yang cukup dan sehat. Gereja dalam hal ini pun perlu menjamin semua orang agar bisa mengambil pangan dari alam secara arif dan bijaksana tanpa melukai ibu bumi serta sesamanya. 

Dalam konteks ini, pertanian organik atau pertanian berkelanjutan merupakan salah satu cara yang tepat untuk mengambil pangan yang telah disediakan oleh Allah bagi manusia di dalam Rahim bumi secara arif dan bijaksana. Mengapa harus pertanian organik? Sebab, pertanian organik adalah pola pertanian yang tidak memaksa alam tetapi belajar dari alam demi kemandirian dan menjaga keberlanjutan kehidupan segenap ciptaan. Maka, cara Gereja memberi makan bagi mereka yang kekurangan pangan, pangan yang cukup dan sehat adalah dengan mengembangkan pertanian organik. Dalam dan melalui pertanian organik, Gereja sendiri menghadirkan sebuah pastoral tentang keutuhan ciptaan yang memungkinkan kabar sukacita dihadirkan di tengah krisis lingkungan hidup. Dengan demikian, Gereja tidak hanya menyelamatkan mereka yang sedang mengalami kekurangan pangan melainkan masa depan bumi serta generasi yang akan datang. Maka, agar kita (Gereja) tidak mewariskan bumi yang terluka melainkan bumi yang subur kepada anak cucu kita maka mari kita kembangkan pertanian organik. (Red).

Berikut Galeri Kegiatan:

1. 

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

Sdr. Abril DS, OFM.

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *