HEADLINE NEWS

Membangun Jiwa Kosmis Melalui Pertanian Organik

Rudolf Lunggur

Pertanian organik sebenarnya bukan hal baru karena nenek moyang kita sudah lama menerapkannya. Sejak terjadinya Revolusi Hijau, sering kali promotor pertanian konvensional mempertanyakan kemampuan pertanian organik dalam menyediakan makanan untuk manusia di seluruh dunia. Padahal sudah berabad-abad pertanian organik terbukti mampu memenuhi kebutuhan manusia secara terus menerus. Sedangkan pertanian konvensional baru diterapkan beberapa puluh tahun dan dalam waktu singkat itu sudah mengakhibatkan bermacam-macam dampak negatif. Oleh karena itu perlu dipertanyakan: Apakah pertanian konvensional mampu memenuhi kebutuhan manusia di beberapa abad ke depan? Seringkali petani mulai tertarik dengan pertanian organik karena kepentingan ekonomis atau pertimbangan kesehatan. Tetapi sangat penting juga  menyadari peran kita dalam pelestarian lingkungan, alam, tanah, air, udara, tanaman dan margasatwa.

Dengan ikut serta menjaga dan merawat bumi, rumah bersama segenap makhluk melalui pertanian organik, sesungguhnya yang hendak diproklamasikan adalah bahwa pertanian organik itu adalah sebuah pilihan. Sebagaimana kehidupan dan kemakmuran adalah dambaan semua orang, demikian pertanian organik menjadi primadona kehidupan yang lestari dan berkelanjutan bagi pendamba keutuhan ciptaan. Pada aras ini manusia bisa mencapai apa yang didambakan sejauh ia berusaha dan bekerja dengan tangannya sendiri. Kerja sebagai sebuah kewajiban serta realisasi diri manusia yang paling sempurna. Melalui kerja tangannya, manusia dalam arti tertentu ikut serta "mencipta" bersama Sang Pencipta. Secara khusus dalam dunia pertanian, melalui kerjanya, manusia mementaskan mandat asali dari Sang Pencipta untuk mengusahakan "Taman Eden" di setiap huma ladangnya hingga berbuah, bahkan hingga seratus kali lipat. Ungkapan realnya adalah mengusahakan atau menata kembali lahan kehidupan (lahan pertanian) dengan cara-cara yang dipandang baik serta mulia untuk kesejatraan kehidupan manusia, perdamaian dengan alam, dan keadilan sosial bagi seluruh makluk ciptaan Tuhan. Namun, sejauh mana masyarakat dunia serta kaum muda pewaris masa sekarang menuju masa depan memaknai kembali pertanian dan penataan "kebun firdaus" (huma ladang) seturut amanat Ilahi?  Pernyataan ini pantas direnungkan oleh masyarakat dan kaum muda millenial. 

Sebagai contoh, Ekopastoral Fransiskan Pagal telah menunjukkan cinta dan jiwa kepedulian terhadap masa depan umat manusia dan lingkungan hidup. Di Ekopastoral Fransiskan Pagal diterapkan sistem pertanian organik (PO) atau sistem pertanian berkelanjutan. Mereka telah menunjukan jiwa nasionalismenya terhadap masa depan tanah air kita dengan memaknai secara kontekstual lagu Indonesia Raya dalam nuansa pertanian. 

Demikian, untaian syair lagu Indonesia Raya: Pertama, “Hiduplah Tanahku”. Kita diajak untuk menghidupkan kembali tanah kita yang telah mati. Ia mati karena disiksa begitu lama oleh obat-obatan pertanian konvensional. Maka amat kontekstual bagi kita untuk hidupkan kembali tanah kita yang sedang menderita kesakitan ini dengan cara memakai pupuk organik.  Sebab, pupuk organik itu selain memberikan nutrisi bagi tanaman juga bagi tanah.

Kedua, “Hiduplah negeriku”. Kita diajak untuk menghidupkan kembali negeri dan gairah hidup anak-anak negeri (penerus bangsa) yang selama ini terbelenggu dalam pusaran globalisasi dan modernisasi. Tanpa disadari, anak-anak negeri sedang dijauhkan dari kehidupan yang real. Sebagai misal, anak petani diasingkan dari dunia pertanian. Hal ini menyebabkan anak para petani tidak berminat akan profesi petani. Dalam arti tertentu, mereka malahan lebih tertarik menjadi penganggur dan atau buruh kasar di perantauan. Sejauh ini, selama kurang lebih sembilan belas tahun, cara sederhana yang dipilih Ekopastoral Fransiskan untuk memutus rantai keterasingan anak-anak petani dari dunia pertanian adalah dengan menerapkan pelajaran pertanian organik (PO) pada Sekolah Menengah Pertama. 

Ketiga, “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”. Kita diajak untuk membangun kembali jiwa kepeduliaan kita akan alam semesta yang telah dirusak oleh keserakahan manusia dengan menerapkan kegitan konservasi tanah, hutan, mata air, dan perlindungan satwa lokal.

Secara pribadi, saya bermimpi bahwa pertanian organik atau pertanian berkelanjutan mesti menjangkau hati dan pikiran putera-puteri penerus bangsa Indonesia sejak dini agar tetap lestari di masa datang. Karenanya, inilah saatnya yang tepat untuk membangun jiwa! Jiwa yang terbangun adalah jiwa yang selalu sadar akan dirinya bahwa ia tidak mungkin bereksistensi tanpa peduli terhadap makhluk ciptaan yang lain.

Kesadaran terus-menerus tentang eksistensi kehadirannya di masa lalu, masa kini, dan menuju masa depan adalah keniscayaan untuk membangun jiwa (revolusi mental) secara berkelanjutan. Jiwa yang dibangun niscaya memiliki niat suci dan mulia untuk mengisi hari-hari hidup dan panggilan secara bertanggungjawab dengan menjunjung tinggi nilai-nilai Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC). 

Rudolf sedang memanen sayur di Lahan Kering Ekopastoral Fransiskan, Pagal, Cibal, Manggarai. 

Kesadaran terus-menerus untuk membangun jiwa merupakan keutamaan yang perlu dimiliki demi merajut kemakmuran dan kesejahteraan lahir-batin. Pada aras ini, seruan bangunlah jiwanya, dapat direfleksikan sebagai: Pertama, kehidupan bersama yang dijiwa oleh spirit persatuan, serta komitmen untuk merawat segala makhluk ciptaan di muka bumi, menjaga keharmonisan, dan toleransi terhadap kehidupan bersama makhluk ciptaan lain. 

Kedua, berbagai bentuk tindakan keserakahan,  ketidakadilan,
radikalisme, komunisme, kemiskinan, terorisme terhadap makluk ciptaan lain mesti diperangi dan dilawan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Marilah kita terus berbenah diri agar tidak menyusahkan keturunan selanjutnya atau anak cucu kita tercinta. Marilah kita bergandengan tangan untuk mewariskan mata air kepada anak cucu kita dan bukan air mata. Marilah kita bersatu untuk mewariskan tanah yang subur dan makmur bagi generasi mendatang dan bukan tanah yang kurus dan tandus. Menuju tujuan mulia itu, pertanian organik adalah jalannya.                                           

Rudolf Lunggur
[Mahasiswa Semester VII
Fakultas Pertanian Undana, Kupang] 


Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *