HEADLINE NEWS

Rayakan HUT 80, Paroki Pagal “Sulam Hutan”


Meskipun puncak perayaan hari ulang tahun Paroki Pagal masih akan terlaksana di tanggal 24 November 2019, pada Hari Raya Kristus Raja, namun serangkaian kegiatan telah dirancang untuk memeriahkannya. Sebagaimana lazimnya momentum perayaan ulang tahun paroki ini yang hampir setiap tahun ditandai dengan pelbagai aktivitas seperti olah raga, lomba membaca Kitab Suci, kuis Kitab Suci, mendaras Mazmur, dan masih banyak kegiatan rohani lainnya, tahun ini di usia yang ke-delapan puluh, Paroki yang bernama pelindung Kristus Raja Semesta Alam ingin “menyulam” hutan lindung Register Tanah Kehutanan (RTK) 18 Gapong dengan kegiatan konservasi.


Alasan “menyulam” hutan lindung ini dengan kegiatan konservasi, oleh Pastor Abba Lazar, OFM (Pastor Paroki Pagal) diterangkan antara lain: “selain sebagai sebuah kebiasaan yang sudah mentradisi di Paroki Pagal, juga sebagai tanggapan nyata atas musibah kebakaran yang menghanguskan kurang lebih sepuluh (10) hektare zona hijau di kawasan ini pada tanggal 22 September yang lalu”. Untuk diketahui, hutan lindung RTK 18 Gapong ini terbentang dari Pong Peraseng (Paroki Pagal) hingga Langkas (Paroki Ri’i).


Demi merealisasikan rencana konservasi di kawasan yang mencakup dua paroki (yakni Pagal dan Beamese), maka diadakanlah rapat persiapan pada hari Selasa, 08 Oktober 2019 di Pastoran Paroki Kristus Raja Pagal. Hadir dalam rapat ini sejumlah instansi yang terdiri dari: Pemerintah Kecamatan Cibal, Polsek Cibal, Babinsa 1612 Cibal, Pimpinan UPT KPH Wil. Manggarai, Pimpinan Ekopastoral Fransiskan bersama staf, Pastor Paroki Pagal beserta para agen pastoral (Dewan Penasehat, Pengurus DPP Paroki, Ketua Wilayah dan KBG), para kepala sekolah SD, SMP dan SMA di pusat paroki. Pater Abba, OFM ketika membuka rapat ini berkata: “Berbicara tentang krisis ekologi sesungguhnya menjadi persoalan bersama seluruh elemen dalam masyarakat. Olehnya kami melibatkan pemerintah, aparat keamanan, tokoh agama, tokoh pendidik dan orang muda Katolik agar bersama-sama kita realisasikan iman kita dalam merawat ciptaan Tuhan. Termasuk di sini, budaya dan kearifan lokal tentang tanah, air dan hutan yang kita miliki, perlu dilestarikan agar berdayaguna bagi generasi mendatang”.


Adapun hal ikhwal yang dibahas bersama antara lain: pertama, presentasi P. Andre Bisa, OFM (Pimpinan Ekopastoral Fransiskan) terkait status hutan lindung RTK 18: keprihatinan dan rencana tindak lanjut; kedua, presentasi dari Bapak Mansuetus Tatus (Kepala UPT KPH Wil. Manggarai) perihal: Undang-Undang Kehutanan, tugas dan wewenang pemerintah, serta fungsi hutan lindung; ketiga, dialog dan tanya jawab dari para peserta rapat serta keempat, rencana tindak lanjut.


Sebagai rencana tindak lanjut, peserta rapat mendaulatkan Ekopastoral Fransiskan untuk menginisiasi kegiatan konservasi di kawasan hutan lindung tersebut. Pada kesempatan ini, Andre Bisa memaparkan bentuk dan dinamika kegiatan “menyulam” hutan melalui dua tahapan. Tahap pertama, non teknis: menyediakan panduan animasi lingkungan hidup, Rosario ekologi serta Ekaristi Ekologi untuk dikirim ke Sembilan wilayah di pusat paroki untuk selanjutnya dipergunakan, diperdalam dan dirayakan selama bulan Rosario. Dan tahap kedua, teknis: kegiatan konservasi. “Tentang kegiatan teknis, Ekopastoral Fransiskan akan berkoordinasi dengan pihak KPH untuk menentukan waktu pelaksanaan, sistem dan pola konservasi serta jenis pohon yang akan ditanam di areal hutan lindung”, tegas Andre. Sebagai informasi tambahan, pimpinan Ekopastoral ini mengingatkan peserta rapat perihal ketersediaan anakan pohon Mani’i di balai konservasi Ekopastoral Fransiskan yang akan dihidupkan di hutan lindung, sekaligus harapan akan partisipasi masyarakat untuk menyediakan anakan pohon lokal seperti, ara, ratung, langke, gayam dll.


“Untuk saat ini, di balai konservasi Ekopastoral Fransiskan tersedia ribuan anakan pohon Mani’i serta anakan pohon lokal yang siap untuk ditaman di kawasan hutan lindung. Pohon Mani’i itu pohon unggul yang kami rekomendasikan untuk dibudidayakan di hutan lindung, harganya sangat terjangkau, asal ada niat baik dari kita semua atau siapa saja untuk menanamnya. Juga, selain pohon unggulan ini, kami mengharapkan agar kita semua peserta rapat perlu mensosialisasikan kepada umat atau masyarakat agar menyediakan minimal satu anakan pohon lokal yang nantinya akan kita budidayakan di hutan lindung. Mari kita gemakan semangat ekologis “menyulam” hutan dengan mempersembahkan pohon-pohon bagi hutan kita. Mari kita wariskan mata air dan bukan air mata bagi generasi mendatang! Sampai jumpa di hutan”, tandasnya.

(Aris Garos & Marianus Saju)

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *