HEADLINE NEWS

Rosario Pemeliharaan Keutuhan Ciptaan

Salam Maria, Ratu seluruh dunia ciptaan, doakanlah segenap warga bumi!
Maria, Bunda yang merawat Yesus, sekarang merawat dunia yang terluka ini dengan kasih sayang dan rasa sakit seorang ibu. Sama seperti hatinya yang tertusuk telah meratapi kematian Yesus, sekarang dia merasa kasihan dengan penderitaan orang-orang miskin yang disalibkan dan makhluk-makhluk dari dunia yang dihancurkan oleh kuasa manusia. Sepenuhnya telah berubah rupa, dia hidup dengan Yesus, dan semua makhluk menyanyikan keelokannya”, (LS. 241).

Pengantar Penerjemah 
Saudara dan Saudariku, Semoga Tuhan memberimu damai!

Santo Paulus mengingatkan kita betapa pentingnya menciptakan persaudaraan semesta, antara manusia dengan segenap ciptaan. Kita diingatkan agar bersama alam ciptaan  dapat mengarahkan diri kepada zaman yang akan datang, zaman kemuliaan dan kemerdekaan bersama seluruh ciptaan, karena  kedatangan-Nya tidak hanya dinantikan oleh manusia tetapi penantian seluruh ciptaan, seluruh makhluk: “Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan. Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan bukan oleh kehendaknya tetapi oleh kehendak Dia yang telah menaklukkannya dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah. Sebab kita tahu bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin”, (Rm. 8:19-21).

Untuk membangkitkan rasa persaudaraan dalam ibadat dan kebaktian suci bersama segenap ciptaan, demikian Panduan Rosario Perlindungan Keutuhan Ciptaan ini dihadirkan. Adapun panduan Rosario ini diterjemahkan dari buku pegangan Guided Rosary on Caring for Creation yang dikerjakan oleh Franciscan Action Network (FAN), 2015.  Gagasan dasar permenungan Rosario ini bertolak dari kedalaman isi hati Paus Fransiskus yang dibubuhkannya dalam Ensiklik Laudato Si. Dia menyebut Maria sebagai Ratu Seluruh Dunia Ciptaan, bunyinya: “Maria, Bunda yang merawat Yesus, sekarang merawat dunia yang terluka ini dengan kasih sayang dan rasa sakit seorang ibu. Sama seperti hatinya yang tertusuk telah meratapi kematian Yesus, sekarang dia merasa kasihan dengan penderitaan orang-orang miskin yang disalibkan dan makhluk-makhluk dari dunia yang dihancurkan oleh kuasa manusia. Sepenuhnya telah berubah rupa, dia hidup dengan Yesus, dan semua makhluk menyanyikan keelokannya”, (LS. 241).

Beberapa hal yang perlu disampaikan di sini antara lain: pertama, isi seluruh peristiwa Rosario. Bahwa keseluruhan peristiwa serta renungan yang disajikan dalam panduan ini mengikuti secara saksama apa yang tertera pada teks asli. Termasuk, susunan atau urutan setiap peristiwa yang termuat dalam panduan ini pun tidak menggeser atau menggantikan tata urutan yang baku sebagaimana kita kenal selama ini. Barangkali terdapat sedikit perbedaan yang khas perihal renungan-renungan biblis-ekologis. Kedua, penerjemah memilih untuk menambahkan petunjuk praktis pada panduan ini hanya semata-mata demi maksud membangkitkan kreativitas dalam berdevosi serta aksi nyata yang mesti dicari, ditemukan dan diputuskan secara bersama-sama untuk diwujudkan sebagai bentuk pertobatan ekologis serta tanggungjawab ekologis menjaga dan merawat bumi rumah kita bersama. Salam Maria, Ratu seluruh dunia ciptaan, doakanlah segenap warga bumi!!!

Pagal, Cibal, Manggarai, 01 Oktober 2019
Andre Bisa, OFM



Petunjuk Praktis

Petugas Doa: 
  • Pemimpin (2 orang) secara bergantian membawakan doa dan membacakan renungan
Tata Gerak:
  • Selama doa rosario berlangsung, umat boleh duduk atau berdiri.
Suasana:
  • Demi menjaga kesakralan dalam berdoa rosario, sebaiknya diciptakan suasana hening, meditatif dan kontemplatif.
Tata Ruangan dan Lagu:
  • Tata Ruangan: Tempat ibadat dapat dilakukan di dalam ruangan atau di luar ruangan (alam terbuka) dengan ditata sedemikian rupa sehingga membantu umat mengarahkan hati, pikiran, perasaan, pandangan, pendengaran dan intuisi pada misteri-misteri dalam rosario.
  • Lagu: Lagu rosario yang dianjurkan selain bertema Maria, juga bertema alam. Petugas dapat memilih lagu  dari buku nyanyian resmi Gereja. 
Aksi Nyata:
  • Untuk merealisasikan komitmen bersama Maria sebagai Ratu Seluruh Dunia Ciptaan, maka sangat diharapkan upaya nyata merawat bumi rumah bersama dengan menanam pohon di kebun, di hutan atau di mata air, memungut sampah dan aksi-aksi ekologis lainnya yang dirasa sesuai dengan situasi dan konteks lingkungan hidup setempat.


Rosario Pemeliharaan Keutuhan Ciptaan
Panduan Rosario dengan penekanan pada pemeliharaan keutuhan ciptaan ini, sesungguhnya berada dalam terang Laudato Si, Ensiklik Paus Fransiskus.

Jaringan Aksi Fransiskan mempersembahkan panduan rosario yang secara khusus memberi penekanan pada pemeliharaan keutuhan ciptaan sebetulnya merupakan tanggapan atas seruan doa Paus Fransiskus yang terdapat dalam Ensiklik Laudato Si.

Pada dasarnya, tujuan merenungkan Rosario keutuhan ciptaan ini adalah agar membantu kita menyadari kehadiran Kristus di dalam dunia, dan bahwa seperti Kristus, kita pun dipanggil untuk merangkul dunia di sekitar kita seraya merefleksikan martabat luhur kemanusiaan kita serta keluhuran ciptaan Tuhan di sekitar kita.

Panduan ini tidak boleh dijadikan sebagai suatu metode refleksi yang paling berwibawa, mengingat kehidupan Yesus adalah suatu misteri yang takkan pernah utuh dimengerti, suatu pencarian makna tanpa tepian akhir; dan kita dapat menyelami seluruh peristiwa hidup Yesus melalui mata Maria, Bunda-Nya dan Bunda kita. Secara sederhana, dalam arti tertentu peristiwa-peristiwa yang direnungkan di sini memerlihatkan dasar sejarah keselamatan kita, suatu tatanan relasi antara Allah dalam diri Yesus dan Bumi yang telah diciptakan Allah.

Jaringan Aksi Fransiskan merupakan suatu organisasi akar rumput yang memperjuangkan tegaknya keadilan bagi manusia di seluruh bangsa. Terdorong oleh Injil Yesus Kristus serta cara hidup Santo Fransiskus Assisi dan Santa Klara Assisi, Jaringan Aksi Fransiskan (Franciscan Action Network / FAN) menjaring suara para Fransiskan untuk mencari perubahan kebijakan publik Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam menciptakan perdamaian, pemeliharaan keutuhan ciptaan, pengentasan kemiskinan dan perjuangan Hak Asasi Manusia.

URUTAN DOA ROSARIO PEMELIHARAAN KEUTUHAN CIPTAAN 
  • Tanda Salib
  • Aku percaya
  • Kemuliaan
  • Bapa Kami
  • Salam, Puteri Allah Bapa (Salam Maria)
  • Salam, Bunda Allah Putera (Salam Maria)
  • Salam, Mempelai Allah Roh Kudus (Salam Maria)
  • Kemuliaan
Peristiwa  1 (lihat di bawah)
Bapa kami, Salam Maria (10 kali), Kemuliaan
Peristiwa  2 (lihat di bawah)
Bapa kami, Salam Maria (10 kali), Kemuliaan
Peristiwa  3 (lihat di bawah)
Bapa kami, Salam Maria (10 kali), Kemuliaan
Peristiwa  4 (lihat di bawah)
Bapa kami, Salam Maria (10 kali), Kemuliaan
Peristiwa  5 (lihat di bawah)
Bapa kami, Salam Maria (10 kali), Kemuliaan

PERISTIWA-PERISTIWA ROSARIO
I. Peristiwa-peristiwa Gembira

1. Maria menerima kabar gembira dari Malikat Gabriel. (Luk. 1:35-38)

Maria memberikan jawaban ya kepada Allah dan sekaligus melanjutkan jawaban tersebut kepada kita sebagaimana kabar gembira yang disampaikan malaikat kepadanya bahwa dia akan mengandung dan melahirkan putera Allah. Ketaatan sebagai bagian terpenting dalam hidup Kristiani, sebagaimana dicontohkan oleh Maria dalam hal menanggapi rencana Allah.

(a). Allah memberi kita banyak tanggungjawab serta kehendak bebas untuk melakukannya. Seberapa sering, kita memberi (berbagi), seperti Maria dengan jawaban ya terhadap kehendak Allah?

(b). Dalam relasi yang khusus dengan lingkungan, kita telah dikuatkan oleh Allah untuk memelihara alam sekitar kita (Kej. 1:26-28, Im. 25:23 dll). Apakah kita menerima tanggungjawab ini atau berpaling darinya?

2. Maria mengunjungi Elisabet, saudaranya. (Luk. 1:40-42)

Elisabet diliputi sukacita ketika melihat Maria dan berseru “Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah rahimmu. Tanggapan Maria merupakan bentuk ungkapan kerendahan hati yang dimaklumkannya dalam Magnificat (pujian) dan serentak “membalikkan pandangan dunia” di mana yang hina dina diangkat dan yang berkuasa diturunkan dari takhta. Sebagai orang Katolik, kita dipanggil untuk menjadi satu dengan orang yang miskin dan terpinggirkan.

(a). Paus Fransiskus berkata: “Bumi terbebani dan hancur, termasuk kaum miskin yang paling ditinggalkan dan dilecehkan oleh kita” (LS. 2). Apakah kita memandang secara saksama alam semesta di sekitar kita? Apakah kita menyadari bahwa perusakan alam di sekitar kita turut menyumbang kehancuran dan retaknya keutuhan ciptaan?

(b). Secara mengerikan bencana alam yang kita saksikan di zaman ini (seperti penyusutan garis pantai) merupakan dampak dari perubahan iklim yang dipicu oleh aktivitas manusia yang tak bertanggungjawab atas alam. Dengan merenungkan pandangan Paus Fransikus, bahwasanya “Allah senantiasa mengampuni, demikian pun manusia kadang-kadang mengampuni, tetapi alam tak pernah mau mengampuni”. Jika kamu menamparnya, ia akan senantiasa berbalik menamparmu. Perlu disadari bahwa Allah mengangkat mereka yang rentan dari posisinya yang paling lemah; apakah kita menyadari datangnya keadilan Allah dan mewujudnyatakan keadilan ekologi dalam relasi dengan dunia?

3. Yesus dilahirkan di kandang Betlehem. (Luk. 2:10-12)

Permenungan tentang misteri kelahiran Yesus mengingatkan kita bahwa Allah tidak pernah meninggalkan dunia yang telah diciptakan-Nya, tetapi tetap datang ke dalam dunia dan disambut dengan sukacita. Kristus telah lahir dalam keadaan yang paling sederhana di antara mereka yang bersahaja dan memerlihatkan bumi dan segala ciptaan untuk kehidupan.

(a). Allah tidak pernah membiarkan bumi dan segala makhluk di dalamnya berjalan tak teratur; terdapat suatu kehindahan dalam pandangan Kristiani bahwa Allah tinggal di dalam dunia dengan segala persoalan yang melingkupi manusia, lingkungan alam dan binatang-binatang telah diberikan (dan tetap akan diberikan) seturut hukum alam. Apakah kita dalam kebersamaan mengalami kegembiraan dalam hidup semesta dan itu berarti bahwa kita tahu bagaimana cara menyelaraskan hidup dengan alam? Apakah kita meneladani kerendahan hati Kristus yang bergembira dengan yang bergembira dan dengan mereka yang hidup selaras dengan alam?

(b). Apakah kita mampu melihat kehadiran Kristus yang paling sederhana atau tidak terlalu mencolok dalam segenap ciptaan dan apakah kita mampu memenuhi mereka dengan sukacita sejati sebagaimana Fransiskus Assisi yang menemukan Tuhan dalam segala sesuatu?

4. Yesus dipersembahkan dalam Bait Allah. (Luk.2:22-34)

Santa Maria Maria dan Santo Yosef pergi ke Bait Allah, sesuai adat dan kebiasaan agama Yahudi pada waktu itu, mereka membawa Yesus dan mempersembahkan-Nya kepada Allah. Mereka meyakini bahwa Kanak-Kanak Yesus yang dipersembahkan merupakan ungkapan akan persembahan diri yang paling berarti dalam seluruh waktu, sehingga dengan sukarela dan kerendahan hati mereka menjaga Yesus dan mempersembahkanNya kembali kepada Allah.

(a). Sebagai refleksi atas peristiwa ini, kita insyaf akan penyertaan dan penyelenggaraan Ilahi atas segenap ciptaan sekaligus kita dipanggil untuk mempersembahkan diri seutuh-utuhnya kepada Allah. Apakah kita sepenuhnya mempersembahkan diri pada karya Allah dalam hal keseluruhan relasi sebagaimana telah diberikan Allah kepada kita? Apakah kita dengan sepenuh hati, bersukacita menunjukkan tanggungjawab yang utuh terhadap alam semesta yang telah dipercayakan Tuhan kepada kita?

(b). Santa Maria dan Santo Yosef insyaf akan tugas dan tanggungjawab keagamaan terhadap lingkungan alam tempat mereka tinggal. Mereka sadar bahwa mereka adalah bagian utuh dari keseluruhan ciptaan yang luas. Apakah kita mampu memerlihatkan sikap yang sama berhadapan dengan lingkungan alam tempat kita berada? Bagaimana sikap hormat kita pada keutuhan ciptaan?

(c). Sebuah kidung yang pantas direnungkan: “Segala makhluk memuji-Mu”, mau menegaskan bagaimana kita sebagai manusia hanyalah bagian terkecil dari kemahaluasan kidung pujian tentang kebaikan dan kemuliaan Allah?

5. Yesus ditemukan dalam Bait Allah. (Luk.2:46-48)

Keluarga Kudus menyadari bahwa Yesus tidak berjalan bersama mereka saat meninggalkan Yerusalem, karenanya mereka kembali untuk mencari-Nya. Dalam hal ini, Yesus tampaknya benar ketika memenuhi harapan mereka untuk menjumpaiNya dalam bait Allah, saat sedang mengajar. Yesus juga memenuhi para pendengar-Nya dengan rasa takjub yang mendalam.

(a). Kita sering mencari Kristus dalam dunia sekitar kita, tapi apakah segenap ciptaan tidak berada dalam satu kesatuan tempat? Mari kita segarkan kembali ingatan kita akan nasihat Rasul Paulus kepada jemaat di Kolose: “Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di surga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintahan maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia” (Kol. 1:16-17). Apakah kita mampu melihat Kristus dalam segala sesuatu, dan “melakukan perjalanan pulang” sebagaimana dilakukan Maria dan menerima-Nya dengan sukacita?

II. Peristiwa-peristiwa Terang

1. Yesus dibabtis di Sungai Yordan. (Mat. 3:16-17)

Air senantiasa mendapat perhatian yang penting dalam Kitab Suci dan kehidupan beriman kita. Dia sebagai simbol pembaruan, hidup baru dan membersihkan dosa. Dengan meneladan Kristus dalam Sakramen Pembabtisan, kita pun mengikuti keutamaan sikapNya dalam upaya mengusahakan hidup yang sepadan dengan-Nya.

(a). Coba arahkan pikiran pada keajaiban air yang sederhana: “kemurniannya”, “kebersihannya”, nyanyian St. Fransiskus Assisi dalam Kidung Segenap Ciptaan: “Terpujilah Engkau, Tuhanku karena Saudari Air, dia besar faedahnya, selalu merendah, berharga dan murni”. Apakah kita menyadari  betapa berharga dan pentingnya air bagi kita, atau menerimanya begitu saja? Bagaimana kita menilai sikap atau perilaku kita terhadap air?

(b). Kita sebagai manusia, paling tahu bahwa planet kita ini terdiri dari air. Ketika Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus, ternyata Ia secara fisik pun terbentuk  dari kandungan air.

2. Yesus menyatakan diri-Nya dalam pesta pernikahan di Kana (Yoh. 2:11)

Atas desakan Maria, Yesus menyatakan mukjizatnya yang pertama dengan mengubah air menjadi anggur dalam pesta perkawinan. Kita tahu bahwa atas pertolongan dan permohonan Maria, kitapun dapat diubah oleh Yesus secara spiritual dan jasmani.

(a). Dengan merenungkan keajaiban air yang kurang begitu dihargai, kita dapatkan sikap dan cara pandang yang rapuh secara manusiawi yang sering terlihat dalam sikap dan perilaku tidak hormat pada sumberdaya yang amat berharga ini. Di banyak tempat, orang tidak memiliki akses pada air bersih dan air minum, suatu persoalan yang memprihatinkan yang dikemukan oleh Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si, di mana dia menempatkan perhatiannya yang amat khusus terkait “Isyu Air” dan bagaimana berhadapan dengan arus perubahan iklim yang tidak menentu yang melanda kaum miskin. Bayangkanlah orang harus berjalan ratusan kilo jauhnya setiap minggu untuk memperoleh air minum, jual beli sungai-sungai dalam bisnis, pencemaran aliran sungai, lautan dan samudera yang tidak mungkin dapat kita lihat dan alami. Bagaimana kita memohon kepada Maria melalui kekuatan Yesus Kristus agar membantu mengubah sistem pengaturan air agar tidak kotor dan tidak tercemar demi kelayakan dan kenyamanan hidup ini?

3. Yesus memberitakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan. (Mat. 4:17, 23)

Yesus sering berbicara dengan para murid dan pengikutNya dalam perumpamaan mengenai datangnya Kerajaan Allah. Ingat ketika Dia menghendaki penerimaan Kabar Gembira dengan sikap seperti seorang anak kecil, berbicara dengan bahasa yang sederhana, ceritera pendek; ingat juga kebiasaan Yesus tatkala memakai gambaran alam, petani, para pekerja, binatang sehingga pesannya dapat dimengerti.

(a). Pikirkanlah perumpamaan-perumpamaan mana yang digunakan Yesus dalam hubungan dengan alam: penabur dan benih, ilalang di antara gandum, benih yang tumbuh secara diam-diam, kisah tentang biji sesawi dan masih banyak yang lain. Melalui perumpamaan-perumpamaan ini, Yesus menghendaki adanya pemahaman yang lebih baik tentang Kerajaan Allah; olehnya dengan biasa memakai alam sebagai sarana untuk berbicara dengan kita, sebenarnya mau ditunjukkan dalam banyak kesempatan bahwa alam sebagai cerminan kemuliaan Kerajaan Allah.

(b). Bagaimana kita memahami dengan lebih baik “cerminan” Allah atau sebagaimana dalam sebutan para pemikir besar dengan “Buku Ciptaan”? Seberapa sering kita membaca dan menghubungkan  apa yang tertera dalam Kitab Suci dengan apa yang telah ditulis Tuhan dalam Buku Ciptaan?

4. Yesus menampakkan kemuliaan-Nya. (Mat. 17:2,5)

Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes ke gunung yang tinggi untuk berdoa. Di sana Yesus berubah rupa dan kemuliaanNya memenuhi para muridNya. Suara Allah datang dari dalam awan, bunyinya “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepadaNyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia”.

(a). Mengingat bahwa Petrus belum sepenuhnya memahami situasi; menyaksikan Yesus bersama Musa dan Elia, dirinya diliputi ketakutan dan memohon agar mereka diperkenankan untuk mendirikan kemah bagi Kristus dan dua nabi itu. Dia berbicara demikian karena tidak tahu apa yang harus dikatakannya saat menyaksikan kejadian yang tak terduga-duga itu. Sering, tindakan kita dikendalikan oleh keterpaksaan, tanpa memikirkan risiko yang kita hadapi atau dampak di sekitar kita atau bagaimana memahami cara-cara sederhana penyingkapan kemuliaan Allah. Kadang kala kita terlalu tergesa-gesa melewati hari-hari hidup tanpa berhenti menyadari bahwa Kristus senantiasa hadir kapan dan di mana saja, dan bahwa kehadiran itu baik adanya.

(b). Tahukah kita bahwa sikap yang tergesa-gesa itu tidak hanya sekedar ungkapan kebodohan tetapi juga mengikis kedekatan relasi dengan Tuhan, sesama serta alam semesta? Mungkinkah kita mengambil waktu senggang untuk perlahan-lahan memikirkan tentang bagaimana kita menjadi lebih bermanfaat daripada mendambakan penghargaan?

5. Yesus menetapkan Ekaristi. (Mrk. 14:22-24)

Ekaristi menjadi sumber dan puncak kehidupan beriman Katolik. Kita menyadari bahwa Kristus senantiasa hadir di mana saja, tetapi kehadiranNya yang paling nyata ada dalam Sakramen Mahakudus.

(a). Mengingat kalimat yang dikatakan imam di hadapan Tuhan saat mempersembahkan Ekaristi: “Terpujilah Engkau, ya Tuhan, Allah semesta alam, sebab dari kemurahan-Mu kami menerima roti dan anggur yang kami persembahkan ini. Inilah hasil dari bumi dan dari usaha manusia yang bagi kami akan menjadi makanan dan minuman rohani”. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan Allah semesta alam telah menyiapkan bagi kita kebutuhan spiritual dan bahwa Tuhan menjamin keselamatan tubuh dan jiwa kita.

(b). Sebelum roti dan anggur diubah menjadi tubuh dan darah Kristus, terlihat unsur-unsur alam yang nyata yakni: roti tak beragi dan anggur. Di sana terjadi proses demi proses untuk memperoleh roti dan anggur, sebagaimana kita mengucap syukur karena menyadari bahwa buah usaha kita tersaji di meja makan untuk makan siang atau malam, demikian halnya roti dan anggur Ekaristi dihidangkan dan dirayakan di atas “altar alam” (St. Yohanes Paulus II).

(c). Ekaristi merupakan sakramen inisiasi, dan meskipun demikian kita tetap dapat menerima Komuni berkali-kali dalam seminggu. Setiap saat kita merayakan, membaharui janji babtis dan krisma dan menerima rezeki rohani yang perlu bagi pertumbuhan iman dalam hidup sehari-hari. Mungkinkah kita menumbuhkan kedekatan dengan Yesus setiap kali kita menerima Komuni dan merenungkan misteri ini.

III. Peristiwa-peristiwa Sedih

1. Yesus berdoa kepada Bapa-Nya dalam sakrat maut. (Luk. 22:39-42)

Yesus mengetahui bahwa saat-Nya untuk mengalami penderitaan dan wafat sudah semakin mendekat, maka ditinggalkanlah para pengikutNya untuk berdoa di Taman Getsemani. Ia meninggalkan para sahabatNya yang begitu dicintai untuk mengalami keheningan dan penghiburan di dalam alam; di sana Dia mampu menerima penghiburan dengan kehadiran malaikat.

(a). Apakah kita para pengikut Kristus, mampu mencari Allah dan mencari pelipur duka lara dari Allah di dalam alam? Dapatkah kita menemukan penghiburan dari Allah melalui kehadiran segala sesuatu dalam hidup, setiap peristiwa yang meneduhkan di antara bunga warna-warni, pohon-pohon dan sayur-mayur?

(b). Renungkanlah Kitab Kejadian 2:15: “Tuhan Allah mengambil manusia dan menempatkannya di tanam Eden untuk mengusahakan dan menjaganya. Manusia mengawali persekutuannya dengan Allah di Taman Eden, dapatkan kita menghidupkan kembali suasana itu dalam cita rasa batiniah dan spiritual?

3. Yesus didera. (Mat. 27:24-26)

Yesus diseret dan diikat pada tiang batu, dengan kejam Dia dilucuti dan dicambuk. Penderitaan hebat dialamiNya, termasuk mereka yang berjuang untuk mengakhiri peristiwa yang mengerikan yang dialami Yesus sungguh tak dapat dielak.

(a). Apakah kita menolak berdiri bersama Allah dalam solidaritas perlindungan keutuhan ciptaan Tuhan?

(b). Kembali kita menyadari tanggungjawab kita berhadapan dengan penindasan, penganiayaan dan keputusasaan. Bila kita berhadapan dengan penderaan, apa yang mesti kita pilih untuk dilakukan? Siapa yang mengawali penganiayaan dan pencambukkan Yesus, siapa yang hendak melarikan diri atau haruskah kita berupaya untuk melindungi martabat-Nya? Apa tanggungjawab kita tatkala menyaksikan ciptaan Tuhan saat ini, sejauh mana kerusakan oleh karena penderaan dunia yang sering dilawan ketika berhadapan dengan kepentingan penguasaan? Bahwa tidak bisa dipungkiri, manusia hidup dalam lingkaran kemiskinan baik dalam negeri maupun luar negeri - sedikit banyak menyumbang pada perubahan iklim tetapi mereka sepertinya tak berdaya dalam menyesuaikan diri dan menanggapinya. Sebagaimana Yesus, mereka pasrah pada setiap pelanggaran dan belum pernah dihukum  karena tampaknya tak ada persoalan.

3. Yesus dimahkotai duri. (Mat. 27:29-30)

Dalam kerendahan hati Yesus, sebuah ayaman mahkota duri dikenakan pada kepalaNya. Barangkali ini suatu lambang penghinaan bahwasanya kita dapat saja mengingkari kebaikan sejati antara sesama manusia dan dunia yang telah diciptakan Allah dengan menatanya seturut kehendak dan maksud kita.

(a). Apakah kita memiliki kecenderungan untuk melihat alam di sekitar kita sebagai sesuatu yang dapat digunakan seturut keinginan kita sendiri? Apakah kita melecehkan segenap ciptaan hingga titik kehancuran?

(b). Meskipun makhkota duri dimaksudkan untuk merendahkan dan menyengsarakan Yesus, Ia sesungguhnya dimahkotai dalam kemuliaan yang kemudian menguatkan iman dan kesaksian kita. Segala makhluk sesungguhnya memberi kesaksian tentang kemuliaan Allah. Sebagaimana ditunjukkan oleh Paus Fransiskus: “Bumi rumah kita, mulai makin terlihat sebagai sebuah tempat pembuangan sampah yang besar” (LS. 21). Bagaimana kita menata planet ini dengan sekali lagi merenungkan kemuliaan Allah?

4. Yesus memanggul salib-Nya ke Gunung Kalvari. (Yoh. 19:17-18)

Terdapat banyak refleksi yang mendalam dan kaya dalam peristiwa sedih yang keempat ini. Kita menyaksikan Yesus dalam seluruh kelemahan manusiawi-Nya, kita melihat Dia tersandung, berjuang dan terjatuh, kita saksikan kekejaman para penguasa dunia yang berujung kekejian. Tetapi kita juga menyaksikan aksi-aksi sederhana penuh harapan dalam sikap Simon dari Kirene dan Veronika yang menguatkan Yesus untuk bangun kembali setelah jatuh. Sikap-sikap seperti ini mengundang kita untuk meneguhkan perjalanan spiritual kita dalam sikap saling tolong menolong mengatasi setiap kerapuhan.

(a). Peristiwa ini mengajak kita untuk insyaf tentang bagaimana kita meringankan penderitaan Kristus sehari-hari melalui kebaikan-kebaikan yang sederhana. Setiap saat kita dapat menampilkan sikap apa saja yang meskipun kelihatan kecil dan sederhana, kita sama seperti Simon dan Veronika dalam memanggul salib Yesus dan mengusap wajah-Nya yang berlumuran darah. Aksi-aksi seperti memungut sampah yang mencemari lingkungan, menanam pohon di kebun, memperlakukan para tunawisma (pekerja) secara manusiawi dengan senyuman atau sapaan hangat, memadamkan lampu yang tak digunakan, semuanya itu membantu kita untuk secara utuh menghadirkan kemuliaan Yesus yang lebih sempurna di dalam dunia.

5. Yesus wafat di salib. (Luk. 23:44-46)

Kristus Tuhan kita wafat di salib. Peristiwa dukalara yang menyayat hati, ini suatu kenangan yang kapan saja dapat dialami tatkala menatap salib, merayakan Ekaristi, atau merenungkan peristiwa, semuanya itu tentu mengerikan tetapi merupakan bagian penting dari sejarah keselamatan kita.

(a). Apa yang pertama kali dibayangkan saat Anda merenungkan wafat Yesus? Seperti apa suasana di sekitarNya? Bisa saja kita membayangkan tentang kegelapan, badai gemuru saat para pengikutNya meratapi wafat-Nya dan yang lainnya menghojat.

(b). Ketika kita “menyalibkan” Kristus dengan sikap berpaling diri dari Kerajaan-Nya, kita sama saja dengan mengundang badai gemuruh. Kita dipanggil untuk mengasihi dan memelihara ciptaan Tuhan  dalam kebaikan-kebaikannya yang tak terhingga.

(c). Ingatlah juga akan bumi yang bergemuruh dan menggoncang, yang mengerikan bagi orang-orang yang menyaksikan peristiwa penyaliban. Sebagaimana Kristus yang mengerang kesakitan, demikian halnya bumi, bumi mengerang kesakitan sebagaimana Kristus.

IV. Peristiwa-peristiwa Mulia

1. Yesus bangkit dari antara orang-orang mati. (Luk. 24:1-5)

Peristiwa yang paling mulia dari semua mukjizat. Kristus Tuhan kita bangkit dari mati.

(a). Atas desakan para prajurit, Pilatus menyetujui penjagaan di sekeliling makam untuk memastikan bahwa  tak seorang pun dapat mencuri jenazah dan memberitakan bahwa Yesus telah bangkit. Namun, seorang malaikat surga turun, terjadilah gempa bumi dan batu terguling, para penjaga lari ketakutan. Sekali lagi kita melihat bumi bersaksi tentang kemahakuasaan Tuhan dalam peristiwa penting yang tiada taranya dalam sejarah keselamatan kita.

(b). Dalam Injil Yohanes, Maria Magdalena mula-mula mengira Yesus yang bangkit itu sama dengan penjaga taman. Mampukah kita melihat wajah Yesus dalam segala sesuatu di sekitar kita? Mampukah kita menghargai orang-orang yang terpanggil untuk mengelola lahan, terlebih khusus ketika kita merasa teramat berat untuk meraup manfaat darinya?

2. Yesus naik ke surga. (Luk. 24:50-52)

Yesus meninggalkan para muridNya dan mengangkasa menuju surga. Bahkan sebelum meninggalkan mereka, Ia menjanjikan bahwa Roh Kudus akan menuntun mereka hingga akhir zaman dan bahwa Dia tidak akan pernah menghilang.

(a). Bayangkan apa yang terjadi sebagaimana pengalaman para murid ketika Yesus pergi dari dunia, bagaimana mereka harus ditinggalkan, bagaimana mereka harus mengalami kehilang segalanya, bagaimana kegundahan yang mereka alami. Setelah beberapa saat, dua orang malaikat menampakan diri kepada mereka dan berkata: “Hai orang-orang Galilea, mengapa kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang diangkat ke surga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga”, (Kis. 1:11). Walaupun Kristus meninggalkan mereka (secara pribadi), mereka tetap berkarya.

(b). Apakah kita aktif dalam upaya menghadirkan kerajaan Allah dalam dunia kita? Apakah kita siap menerima tanggungjawab yang diberikan Yesus kepada kita? Sehubungan dengan tugas kita sebagai pemelihara ciptaan, apakah kita tergugah untuk menjaga alam semesta di sekitar kita? Atau secara sederhana menatap langit dengan harapan bahwa perubahan akan terjadi di sekitar kita melalui orang lain atau tanpa melalui kita?

3. Roh Kudus turun atas para rasul. (Kis.2:1-4)

Hari kelahiran Gereja, saat kita merayakan Pentakosta dan pencurahan Roh Kudus kepada para pengikut Yesus yang sedang berkumpul bersama. “Terdengar bunyi dari langit seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk, dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti lidah api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing”, (Kis. 2:1-4).

(a). Meskipun  orang-orang itu berasal dari tempat yang berbeda-beda di seluruh dunia, namun sesudah Roh Kudus memenuhi  mereka semua, mereka sanggup mengerti satu sama lain tanpa kesamaan bahasa. Kita adalah bagian dari Gereja universal (yang dalam bahasa Yunani berarti Katolik) yang sudah mulai terbentuk sejak zaman para rasul. Permenungan tentang Pentaskosta juga menyadarkan kita akan panggilan atas misi universal, pemberintaan Injil serta tanggungjawab yang telah dipercayakan kepada kita terkait pemeliharaan ciptaan.

(b). Setelah menerima pencurahan Roh Kudus, para murid dimampukan untuk mewartakan Injil dan meluaskan kabar gembira, hal yang belum pernah terjadi mengingat mereka berada di bawah sistem kehidupan yang amat membatasi mereka dalam ruang gerak pewartaan. St. Petrus yang menyangkal mengenali Yesus, segera sesudah peristiwa Pentakosta berkhotbah bagi mereka yang berkumpul untuk mendengarkannya dan membabtis 3.000 orang dalam sehari (Kis. 2:41). Orang-orang sakit disembuhkan, ketakutan dilampaui, dan bahwa lidah api telah memenuhi seluruh dunia pada hari ini, diawali dengan korban tunggal di Kalvari, diawali dengan perendahan diri. Insyaflah bahwa kita dipanggil untuk berkarya dan bahwa segala sesuatu menuntun kita agar dapat terus dirasuki oleh Roh Kudus yang telah kita terima.

(c). Roh Kudus menyatakan diri dalam bunyi tiupan angin dan dalam wujud api, dua elemen yang sederhana namun penuh daya. Sebagimana Fransiskus Assisi memuji keluhuran dan kemuliaan Allah melalui Kidung Segenap Ciptaan, kita pun perlu menyadari kekuasaan Allah yang hadir dalam “Saudara Api” dan “Saudara Angin.”

4. Maria diangkat ke surga. (Why. 12:1)

Meskipun pokok misteri ini tak ditemukan dalam Kitab Suci tetapi tetap mengakar dalam tradisi iman kita. Bunda kita Maria, di akhir hidupnya di dunia, diangkat raganya ke surga.

(a). Laudato Si memasukkan refleksi tentang Maria dalam hubungannya dengan lingkungan hidup: “Maria, Bunda yang merawat Yesus, sekarang merawat dunia yang terluka ini dengan kasih sayang dan rasa sakit seorang ibu. Sama seperti hatinya yang tertusuk telah meratapi kematian Yesus, sekarang dia merasa kasihan dengan penderitaan orang-orang miskin yang disalibkan dan makhluk-makhluk dari dunia yang dihancurkan oleh kuasa manusia. Sepenuhnya telah berubah rupa, dia hidup dengan Yesus, dan semua makhluk menyanyikan keelokannya”, (LS. 241). Walaupun dia tidak terlalu lama secara fisik hadir di dunia, seperti puteranya Yesus, dia melanjutkan tugas pemeliharaan dan meratapi dunia yang ditinggalkannya dan kehancuran yang menimpa segala makhluk.

(b). Sejumlah tradisi menyatakan bahwa dalam ketidakhadiran dirinya, Maria meninggalkan di sekitarnya keharuman bunga dan nyanyian pujian burung-burung. Maria, model kemurnian dan rahmat meninggalkan di sekitarnya gambaran alam yang nyata oleh karena kebajikan-kebajikannya yang mengagumkan.

5. Maria dimahkotai di surga. (Luk. 1:46-47)

Maria, diangkat raganya ke surga, dimahkotai oleh Allah Tritunggal sebagai Ratu. Bunda Pangeran Perdamaian dan Raja Para Raja, Maria terus membimbing kita, anaknya.

(a). Maria, dengan mengatakan “ya”, menyanggupi untuk menjadi ibu seluruh umat manusia melalui kemuliaan Kristus, dan melalui peristiwa ini dia menyandang gelar sebagai ratu segenap umat manusia. Dalam bahasa St. Fransiskus Assisi, kita perlu memuji “Saudari Ibu Pertiwi” yang “menyuap dan mengasuh kami”. Maria, dalam tingkatan spiritual pun menjadi pengantara rahmat Allah. Apakah kita mampu menghargai dan menghormati alam ini? Kita adalah anak Maria dan anak Ibu Bumi, mendambakan hidup dalam kasih dan penghormatan.

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *