HEADLINE NEWS

Teologi Pertanian Organik: Perspektif Biblis

Menjadi Petani itu bukan nasib, melainkan Panggilan! [Andre Bisa, ofm, dalam seminar "Pandangan Teologis Tentang Pertanian Organik", pada HPS tingkat Kevikepan Ruteng, 13 Nov. 2019].

Refleksi teologis tentang pertanian organik dalam perspektif biblis ini dirangkum dari bahan yang disampaikan oleh Andre Bisa, OFM (pimpinan Ekopastoral Fransiskan) pada perayaan Hari Pangan Sedunia (HPS) tingkat Kevikepan Ruteng, Keuskupan Ruteng, pada Rabu 13 November 2019. Adapun perayan HPS ini dilaksanakan di Paroki Ponggeok dengan para pesertanya berasal dari 26 Paroki yang tercatat secara administratif masuk dalam Kevikepan Ruteng.

Mengawali seminar, Andre Bisa, sapaan akrab pimpinan Ekopastoral Fransiskan ini mengajak seluruh peserta untuk mendaraskan Mazmur 65, yang olehnya disebut sebagai "Mazmur Petani".

“Ya Allah, Engkau pantas dipuji di Sion, dan kepada-Mulah nadar dipenuhi. Engkaulah kepercayaan seluruh bumi, sampai ke batas-batas samudera.
Engkau membuat gunung yang kokoh kuat, pinggang-Mu berikatkan keperkasaan. Engkau meredakan deru lautan, meredakan gemuruh gelombangnya. Para penghuni seluruh bumi, takut akan kuasa-Mu yang dahsyat.
Dari Timur sampai ke Barat, Kaupenuhi dunia dengan sorak sorai. Tanah kami Kaukunjungi dengan kelimpahan-Mu, Kaubuat kaya dan subur. Mega langit penuh air, yang Kausediakan untuk kesuburan tanah.
Begini Engkau mengerjakannya, Engkau menggenangi alur bajak dan membasahi gumpalan tanah, menggemburi tanah dengan hujan dan memberkati tumbuhnya tanam-tanaman. 
Dengan demikian seluruh tahun Kaumahkotai dengan kebaikan-Mu, jejakMu membawa kesuburan. Bahkan padang gurungpun menjadi subur, dan bukit-bukit menghijau permai. Padang rumput berdandanan kambing domba, lembah-lembah berselimutkan panenan, semuanya bersorak-sorai dan menyanyikan pujian. Amin", [Mzm. 65:7-14].

Andre mengajak peserta HPS untuk mencermati sebuah tradisi sehat dalam Gereja Katolik setiap minggu panggilan yakni diadakannya aksi panggilan/promosi panggilan. Sebuah aksi mulia yang diadakan dengan maksud menggugah hati setiap pemudi-pemuda Katolik untuk bekerja di ladang / kebun anggur Tuhan atau hidup bakti. Banyak Ordo/Tarekat/Serikat/Kongregasi hadir dengan membawa panji spiritualitas pendirinya masing-masing untuk dipromosikan. Promosi panggilan menjadi kesempatan untuk mengiklankan spiritualitas hidup bakti layaknya iklan-iklan profan yang sedang ngetren saat ini sehingga tidak salah kalau kita mengatakan bahwa promosi panggilan juga merupakan sebuah kosmetika spiritual yang mesti diiklankan.

Suasana refleksi teologis tentang pertanian organik dalam perayaan HPS.

Baginya, entah disadari atau tidak kata-kata kunci yang dipakai untuk promosi panggilan tersebut berasal dari istilah pertanian: ladang, kebun anggur. Ladang atau kebun yang akan digarap dan dihidupi oleh para peminatnya adalah milik Tuhan.

Beberapa pandangan teologis tentang pertanian organik yang dikemukakannya diringkas dalam poin-poin berikut ini.

Pertama, petani sebagai profesi pertama di muka bumi. Kitab Kejadian memerlihatkan dengan terang benderang bahwa manusia sejak awal mula sudah dipanggil untuk bekerja dan atau berprofesi sebagai "tuan" (baca petani) atas ciptaan Allah yang lain dengan merawat dan melestarikan untuk kesejahteraan segala ciptaanNya (bdk. Kej. 1:28-31). Bahwa sejak awal mula, Allah mendesain sebuah kebun yang dinamakan Firdaus (Taman Eden) dan memperlengkapinya dengan sungai dan tumbuh-tumbuhan serta menempatkan manusia yang telah diciptakanNya itu untuk tinggal di dalamnya seraya mengusahakannya (bdk. Kej. 2:8-25).

Kedua, ditilik dari konsep teologi penciptaan, Allah sendirilah yang merancang dan mendesain struktur ciptaan-Nya dalam relasi kosmik dan manusia diikutsertakan dalam proses penciptaan. Dan beginilah struktur ciptaan: Allah sebagai Pencipta (Creator, Pemilik Kebun Firdaus/alam pikiran Perjanjian Lama; Pemilik Kebun Anggur/alam pikiran Perjanjian Baru). Alam Raya (Vestigia Dei/Jejak Kaki Allah/Makrokosmos) diciptakan secara berurutan mendahului manusia untuk memastikan bahwa jejak kehadiran-Nya sudah ada pada semesta yang adalah makrokosmos. Manusia (Imago Dei/ Cocreator Dei/Penggarap/Manager, Produser, Pemulia/Mikrokosmos) diciptakan paling terakhir dan ditugaskan untuk mengusahakan semuanya yang sudah ciptakaan Allah. Relasi antara Pencipta, Alam dan Manusia dijembatani dalam Kasih persaudaraan semesta di mana alam dan manusia bergantung sepenuhnya kepada Pencipta.

Ketiga, Amanat Ilahi: Visi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Hidup manusia bergantung pada Allah dan Tanah: Pohon-pohon di ladang akan memberi buahnya dan tanahnya akan memberi hasilnya. Mereka akan hidup aman tenteram di tanahnya, [Yeh. 34:27]. Bergantung pada Tanah: Manusia pertama disebut dengan istilah adam yang beradal dari bahasa Ibrani, yang menunjuk pada nama pribadi lelaki, tetapi juga mengandung arti manusia secara umum termasuk lelaki dan perempuan. Manusia dibentuk dari debu tanah (Kej. 2:7). Terlihat hubungan manusia dengan tanah punya tiga (3) makna ganda, yaitu: (a). Manusia  diciptakan dari bahan debu tanah  [Kej. 2:7]; (b) harus menggarap tanah yang hasilnya untuk makan  [Kej. 3:19]; (c). Dan mati kembali kepada tanah (Kej. 3:19). Bergantung pada nafas Allah: Hidup manusia bergantung pada nafas hidup dari Allah. Jika Ia menarik kembali Roh-Nya dan mengembalikan nafas-Nya pada-Nya, maka binasalah bersama-sama segala yang hidup, dan kembalilah manusia kepada debu (Ayb. 34:14-15). Dalam alam pikiran Perjanjian Baru, Guru Ilahi sendiri bersabda: [a]. Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Warta keselamatan Kristus tidak ditujukan hanya manusia saja tetapi juga termasuk segenap ciptaan. Maka kepedulian terhadap makhluk ciptaan merupakan panggilan iman kristiani. [b]. Penabur benih: sebagian jatuh di tanah yang baik,  ada yang berbuah seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat ada yang tiga puluh kali lipat (Mat. 13:8). [C]. Kamu harus memberi mereka makan, (Mat. 14:13-21).

Keempat, Spiritualitas dan cara hidup St. Fransiskus Assisi (St. Pelindung Segenap Ciptaan. Bdk. Laudato Si). Memandang segenap ciptaan sebagai saudara dan saudari. Para petani diingatkan untuk senantiasa membangun persaudaraan semesta melalui pertanian organik.

Kelima, keprihatinan terhadap nasib para petani zaman ini. Ketergantungan pada produk-produk kimia dan modern dalam mengolah lahan-lahan pertanian.  Kebergantungan ini terutama pada pupuk, pestisida, benih dan bahkan peralatan pertanian. Semua hal ini tersedia di pasar dan dikuasai para pemodal dan pedagang. Di samping itu lahan pertanian secara umum telah menjadi lahan kritis sehingga membutuhkan pengolahan intensif. Paus Paulus VI mengatakan bahwa "misi Keadilan dan Perdamaian adalah menjaga agar mata Gereja tetap awas terbuka, hatinya peka dan tangannya siap menjalankan amal kasih yang menjadi panggilan Gereja di dunia. Untuk tetap menjaga agar mata Gereja tetap terbuka, hati Gereja tetap peka dan tangan Gereja siap sedia untuk karya amal kasih yang menjadi panggilan Gereja di dunia ini".

Keenam, Alam sebagai sebuah Sakramen. Alam semesta dan segenap ciptaan lain, masing-masing memberikan sumbangan yang khas bagi kehidupan manusia. Ia dengan kekhasan masing-masing mengungkapkan dan menampakkan sebagian tentang Allah dan menghantar kembali manusia kepada Allah. Ia adalah bayangan, jalan serta tangga yang menghantar jiwa manusia kepada Allah.

Ketujuh, pandangan holistik. Alam semesta serta segenap ciptaan ini secara keseluruhan sebagai sebuah persekutuan di mana semua elemen di dalamnya saling terkait satu dengan yang lainnya. Alam semesta ini ibarat komunitas universal dimana keberadaan ciptaan lain merupakan prasyarat bagi eksistensi dan berada bagi yang lain.

Kedelapan, saling menghormati. Sesuai teladan St. Fransiskus dari Assisi, para petani dalam seluruh karyanya perlu menaruh hormat kepada segenap ciptaan. Segala bentuk tindak kekerasan kepada ciptaan terutama kepada yang tak berdaya adalah sebuah kejahatan dan dosa.

Kesembilan, alam sebagai saudara dan saudari. Segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, termasuk manusia adalah saudara karena berasal dari Bapa yang satu dan sama, yakni Allah.

Kesepuluh, pentingnya merefleksikan teologi tentang pertanian organik hingga pada pemberdayaan rupanya erat kaitannya dengan komunitas lokal tradisional yang dari generasi ke generasi berusaha untuk hidup harmoni dengan lahan, hutan, satwa, sungai dan laut yang menjadi lingkungan hidup mereka. Komunitas setempat tentunya memiliki kearifan lokal, cara berpikir, kepercayaan dan aturan-aturan yang tidak hanya melindungi anggota-anggotanya, tetapi juga sumber-sumber kehidupan mereka yang berupa air, ladang, tanaman dan hewan. Terhadap pemberdayaan ini, Gereja lokal harus mengakui peranan dan sumbangan penting komunitas lokal, khususnya masyarakat asli dalam pengelolaan lingkungan berdasarkan kearifan budayanya. Kearifan para petani tradisional yang akrab dan bersahabat dengan alam itu mengandung arti "Kristologi Kosmis" karena Kristus dengan memanifestasikan diri-Nya dengan ciptaan dalam batasan-batasan ruang dan waktu di dunia ini meneguhkan para petani untuk mewujudkan persatuan, keindahan dan kesalingterkaitan dengan segenap ciptaan dalam merawat ibu bumi secara arif dan bijaksana melalui benih-benih yang ditaburkan. Karenanya, menjadi petani Kristiani yang baik adalah panggilan untuk melindungi dan melestarikan alam, mengembalikan kemandirian dan kedaulatan petani serta mengembangkan spiritualitas yang menghargai seluruh ciptaan Tuhan. Dalam konteks ini, gerakan pemberdayaan umat Allah melalui pastoral pertanian adalah suatu alternatif pastoral yang mungkin dan aktual untuk diterapkan dalam setiap Gereja lokal dengan senantiasa menyesuaikan dengan konteks dan tradisi setempat.


Pada hari ini saya tawarkan padamu suatu pilihan: hidup atau mati, berkat atau kutuk. Pilihlah kehidupan, maka kamu dan keturunanmu akan hidup (Ul 30:19-20).

[Sergyo Paju]

Previous
« Prev Post
Show comments
Hide comments

Contact Form

Name

Email *

Message *